Laporan dari Kuala Lumpur

Drone Ala 'Grab' Buatan Indonesia Melangkah ke Tingkat Dunia

Eka Santhika, CNN Indonesia | Kamis, 05/04/2018 15:49 WIB
Drone Ala 'Grab' Buatan Indonesia Melangkah ke Tingkat Dunia Perwakilan Indonesia jadi salah satu finalis yang melangkah ke Imagine Cup level dunia di Seattle, AS. (Foto: CNN Indonesia/Eka Santhika Parwitasari)
Kuala Lumpur, CNN Indonesia -- Tim Beehives Drone berhasil memboyong tiket ke Seattle, Amerika Serikat. Bersama tujuh tim lainnya, Beehives Drone akan bertanding di Imagine Cup tingkat dunia pada Juli mendatang.

Meski demikian, gelar pemenang utama disabet oleh tim Pine dari Malaysia, disusul oleh tim BeeConnex dari Thailand, dan tim 7x dari Singapura.


Tim Pine memberikan solusi untuk mengetahui tingkat kematangan dan manisnya nanas yang terhubung dengan perangkat IoT. Nanas merupakan komoditas buah ekspor kedua terbesar Malaysia. Metode konvensional untuk mengetes kematangan nanas dianggap tidak efektif karena banyak buah yang terbuang dalam pengetesannya.


Sementara tim Bee Connex menawarkan solusi bagi para pemelihara lebah di Thailand. Pasalnya, pemeliharaan lebah konvensional yang kurang efisien seringkali menurunkan kualitas madu yang dihasilkan. Dengan solusi IoT, mereka menciptakan sistem yang bisa merekam suara, foto, mengukur temperatur dan kelembaban hingga berat boks lebah. Semua dilakukan agar peternakan lebah bisa lebih terukur.


Sementara tim 7x memberikan solusi ProCubeX. Solusi ini digunakan untuk membantu anak penderita disleksia.
 
Drone Ala 'Grab' Buatan Indonesia Melangkah ke Tingkat DuniaTim Beehives jadi salah satu finalis yang melangkah ke kejuaraan tingkat dunia. (Foto: CNN Indonesia/Bintoro Agung Sugiharto)

Persiapan lebih baik 

Masuk ke babak final dunia, tim Beehives menyatakan untuk mempersiapkan diri lebih baik lagi. Mereka akan memoles bisnis mereka lebih baik dengan segala masukan dari juri yang kemarin telah didapat.


"Kemarin kan banyak masukan soal finance, nanti kita masukin dan kita pertimbangkan juga semua masukan dari juri," tutur Anindita Pradana Suteja, salah satu anggota tim Beehive. 


Salah satu tantangan terberat nanti menurutnya adalah menyampaikan seuruh ide mereka dalam 10 menit. 


"Di Seattle juga mesti bikin booth, jadi juri bisa merasakah langsung juga. Tapi kalo drone kan agak susah untuk mencoba langsung karena tempat terbatas," tambahnya. 

Bersama dengan Beehives, ada tiga finalis dunia lain yaitu tim Sochware dari Nepal, tim Classum dan tim En#22,45km dari Korea Selatan. Namun tim Taleus yang juga maju ke babak final di Kuala Lumpur, Malaysia, tak berhasil masuk sebagai finalis tujuh besar di Asia Pasifik. 

Di babak final dunia di Seattle, Amerika Serikat, pemenang akan mendapat US$85 ribu dan pemenang kedua akan mendapat US$15 ribu. (evn)