Deretan Intimidasi Pengemudi Transportasi Online di Bandung

Eka Santhika , CNN Indonesia | Kamis, 12/10/2017 17:56 WIB
Deretan Intimidasi Pengemudi Transportasi Online di Bandung Ilustrasi. Tindak kekerasan kerap terjadi kepada pengendara ojek online di Bandung (dok. ANTARA FOTO/Lucky R)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengemudi ojek online di Kota Bandung mengaku situasi di kota kembang itu masih rawan. Kerawanan itu, menurutnya, tak jauh beda dengan hari-hari sebelumnya, saat larangan oleh Dinas Perhubungan Jawa Barat (Dishub Jabar) belum berlaku.

"Dilarang enggak dilarang tetap saja rawan," tutur Iwan, seorang pengemudi ojek online yang beroperasi di Bandung saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (12/10).

Pria berusia 38 tahun ini mengungkap kalau mereka seringkali mendapat dugaan tindak kekerasan dari ojek pangkalan juga penolakan dari supir angkutan umum.

"Bandung Timur yang paling rawan," tuturnya dengan logat Priangan yang kental.

Sementara itu menurutnya untuk kawasan Bandung Barat dan Tengah situasi sudah lebih kondusif.

"Kalau sama angkot itu sama angkot Panghegar ojek online, Grab, atau taksi online nggak boleh masuk. Itu maunya si angkot. Banyak spanduk (larangan) juga."

Tindak kekerasan

Jika memasuki suatu kawasan tertentu di Bandung, para sopir ojek online ini harus berhati-hati. Sebab, jika mereka tampak mencurigakan maka tak jarang mereka dirazia oleh ojek pangkalan.

Misalnya, mereka terlihat membawa helm dua atau berkendara dengan ponsel, ojek pangkalan ini bisa mencegat dan merampas ponsel mereka.

"Masih banyak opang (ojek pangkalan) yang begal atau rampas HP," tambahnya lagi.

Ojek pangkalan ini juga biasanya merazia isi ponsel untuk mengetahui apakah ada aplikasi pengemudi Gojek, Grab, atau Uber dalam telepon selular  itu. Jika terbukti ada, maka ponsel itu biasanya mereka rampas.

Tak jarang para supir transportasi online ini juga menerima tindak kekerasan dari ojek pangkalan di Bandung.

"Kadang dipukulin atau diambil HP-nya. Enggak ada yang laporin juga, kalau dirampas ya udah weh," ungkapnya. "Malas memperpanjang urusan."

Ketika ditanya apakah pihak kepolisian sempat bereaksi atas tindak kekerasan ini, ia mengungkap kalau hal itu tak pernah terjadi. Sopir ojek online itu mengungkap kalau ia enggan untuk melaporkan tindak kekerasan tersebut ke polisi.

Penumpang tetap ramai

Meski penuh resiko dan adanya larangan dari Dishub Jabar beberapa waktu lalu, pria ini mengungkap kalau pesanan dari pelanggan tetap ramai.

"Enggak beda (dengan waktu belum ada pelarangan). Rawan tapi masih ada kemajuan," ungkapnya. 

Untuk menjaga keamanan dirinya sendiri dan penumpang, mereka sering membuat janji dengan penumpang jika masuk ke daerah agak rawan.

Isu Razia

Robi (36) salah seorang pengendara online beroda dua berkata, akan beraktivitas seperti biasa sebelum adanya keputusan resmi.

"Kalau saya pribadi selama belum ada keputusan Presiden bahwa angkutan online ditiadakan, tetap berjalan seperti biasa," kata Robi ditemui di Bandung, Kamis.

Dia mengaku diberitahu penumpang yang memesan ojek online. "Kebanyakan konsumen jadi takut order ya karena ada isu sweeping pihak lain," ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan Marlan (45). Pengendara angkutan roda empat ini bahkan menilai jika sampai angkutan online disetop, berarti ada yang tidak siap dengan kemajuan.

"Sebuah perkembangan teknologi kehadirannya tidak bisa ditentang. Saya kira dengan adanya angkutan online banyak pihak yang bisa menikmati," katanya.

Dia pun berharap, pemerintah baik daerah maupun pusat segera mengeluarkan regulasi agar angkutan online mendapat jaminan.


(hyg)
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Jabar Adang Transportasi Online