BYD Sudah Produksi 32 Ribu Mobil di Indonesia, Impor Menukik Tajam

CNN Indonesia
Rabu, 14 Okt 2026 13:00 WIB
BYD resmikan pabrik di Subang, Jawa Barat.
Berdasarkan data Gaikindo, BYD sudah memproduksi mobil di Indonesia sejak April 2026 meski pabrik diresmikan September 2026. (CNN Indonesia/Febri Ardani)
Jakarta, CNN Indonesia --

Impor mobil BYD ke Indonesia menukik tajam setelah pabrikan otomotif asal China itu memiliki fasilitas produksi di dalam negeri. Kehadiran pabrik diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pasar domestik melalui produksi dalam negeri, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap model impor.

Dalam dokumen yang diunggah Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) pada September 2026, tertera produksi mobil BYD telah berlangsung sejak April, meski peresmian pabrik baru berlangsung pada September 2026.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada April produksi mobil BYD di Tanah Air tertulis 198 unit. Produksi kemudian meningkat setiap bulannya, seperti Mei 1.560 unit, Juni 4.595 unit, Juli 8.788 unit, Agustus 9.736 unit, dan September 7.163 unit dengan total 32.040 unit.

Dalam data, model yang telah diproduksi adalah Atto 1 dan M6 varian PHEV dan EV.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejalan dengan itu jumlah importasi mobil BYD ke Indonesia selama 2026 terekam makin sedikit.

Menurut data Gaikindo, komposisi pengapalan mobil secara utuh oleh BYD hanya sebesar 2 persen atau sebanyak 1.108 unit.

Penurunan jumlah juga sangat besar mencapai 96 persen pada periode Januari-September 2026. Pada periode yang sama tahun lalu, BYD mengimpor 27.795 unit.

Pabrik BYD berdiri di atas lahan 126 hektar dan dibangun dengan investasi Rp11,6 triliun.

Pabrik ini dikelola PT BYD Auto Indonesia, diklaim melibatkan 5.000 pekerja lokal dan bisa meningkat jadi lebih dari 20 ribu pekerja lokal bila bekerja dalam kapasitas penuh. Kapasitas maksimal pabrik ini 150 ribu per tahun.

Punya utang produksi

Di sisi lain, pabrik tersebut memiliki kewajiban memproduksi setidaknya 92 ribu mobil listrik untuk memenuhi komitmen sebagai peserta program insentif impor mobil listrik Completely Built Up (CBU).

Insentif yang dinikmati BYD (2024-2025) di antaranya tarif bea masuk 0 persen dari seharusnya 50 persen dan PPnBM 0 persen dari seharusnya 15 persen. Total pajak yang diberikan ke pemerintah pusat menjadi cuma 12 persen dari seharusnya 77 persen.

Selain BYD, ada lima produsen lain yang ikut serta, yaitu Vinfast Automobile Indonesia (Vinfast), Geely Motor Indonesia (Geely), Era Industri Otomotif (Xpeng), National Assemblers (Aion, Citroen, Maxus dan VW), dan Inchape Indomobil Energi Baru (GWM Ora).

Mereka pun diwajibkan membuka bank garansi dan memproduksi di dalam negeri dengan volume produksi sama seperti jumlah unit impor.

Masa waktu produksi lokal itu sudah ditetapkan, yakni mulai 1 Januari 2026 hingga 31 Desember 2027. Produksinya juga wajib memenuhi ketentuan road map Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan spesifikasinya minimal sama.

Jika produsen tidak sanggup memenuhi volume produksi lokal maka pemerintah bisa mengeklaim bank garansi untuk membayar utang peserta program.

(ryh/fea)
placeholder