Penjualan Kendaraan Bensin Global Anjlok, Kini di Bawah 50 Persen

CNN Indonesia
Senin, 05 Okt 2026 08:29 WIB
Keramaian booth Suzuki di GIIAS 2025.
Pangsa kendaraan bensin di penjualan global turun ke 49 persen pada semester I 2026, sementara penjualan kendaraan listrik naik 12 persen ke 6,87 juta unit. (Suzuki Indomobil Sales)
Jakarta, CNN Indonesia --

Penjualan kendaraan bensin di dunia turun menjadi 20,25 juta unit pada Januari-Juni 2026 atau anjlok 10 persen dibanding periode sama tahun lalu. Hal ini membuat pangsa kendaraan bensin merosot menjadi 49 persen terhadap total penjualan kendaraan baru global.

Angka tersebut berasal dari data Mobility Global (sebelumnya S&P Global Mobility) yang diolah Nikkei Asia. Kendaraan bensin yang dimaksud tidak termasuk hybrid serta sebagian kendaraan komersial.

Pangsa kendaraan bensin telah menukik dari 73 persen pada 2021. Kondisi pangsa di bawah 50 persen disebut pertama kali sejak 1920-an.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Imbas harga minyak

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Nikkei Asia, penurunan dipicu lonjakan harga minyak setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran. Kenaikan harga bensin dan kekhawatiran pasokan BBM memangkas permintaan kendaraan bensin, dengan penjualan turun 26 persen di China dan 13 persen di Eropa.

Kendaraan listrik (EV) yang biaya operasionalnya lebih rendah menjadi pihak paling diuntungkan. Penjualannya naik 12 persen menjadi 6,87 juta unit, atau 17 persen dari total penjualan kendaraan baru.

Porsi itu melewati ambang 16 persen yang kerap dianggap titik balik adopsi massal.

"Adopsi EV melambat (sekitar 2024) dan hybrid tumbuh karena pemangkasan subsidi dan faktor lain, tetapi harga minyak yang lebih tinggi membuat biaya operasional EV yang lebih rendah kembali diapresiasi, dan penjualan kini tumbuh lagi," kata Associate Director Mobility Global Yoshiaki Kawano, dikutip Nikkei Asia, Jumat (2/10).

China masih menyumbang separuh penjualan kendaraan listrik global, tetapi penjualannya turun 3 persen menjadi 3,44 juta unit setelah insentif pajak dikurangi sejak Januari. Penjualan di Amerika Utara juga turun 15 persen menyusul pencabutan insentif oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.

Sebaliknya, penjualan kendaraan listrik di Eropa naik 32 persen menjadi 1,81 juta unit, Asia Tenggara melonjak 81 persen menjadi 350 ribu unit, dan Oseania naik lebih dari dua kali lipat menjadi 110 ribu unit.

Menurut Asosiasi Produsen Mobil Eropa (ACEA), penjualan kendaraan listrik di 31 negara utama Eropa secara kolektif untuk pertama kalinya melampaui kendaraan bensin pada basis semester.

Nikkei juga mengutip Badan Energi Internasional (IEA) yang mencatat pabrikan China seperti Geely dan BYD menguasai 60 persen penjualan global kendaraan listrik dan plug-in hybrid.

Hybrid tetap tumbuh

Mobility Global memperkirakan kendaraan listrik mencapai lebih dari 30 persen total produksi kendaraan pada 2030, melampaui hybrid dan kendaraan bermesin, termasuk diesel.

Pabrikan Jepang, yang porsi kendaraan listriknya relatif kecil, masih bertaruh pada hybrid. Penjualan hybrid global naik 10 persen menjadi 7,27 juta unit pada semester I, setara 18 persen penjualan kendaraan baru global.

Hybrid tetap diminati karena lebih irit dibanding kendaraan bensin, bahkan ketika harga BBM tinggi.

Laju adopsi kendaraan listrik juga masih sangat dipengaruhi kebijakan pemerintah. Sejak musim gugur tahun lalu, permintaan di AS turun tajam setelah subsidi dipangkas dan aturan efisiensi BBM dilonggarkan, sehingga Honda dan General Motors merevisi strategi EV serta membukukan kerugian besar.

"Sedikit pembeli EV yang kembali ke kendaraan bensin atau hybrid, dan seiring harga yang terus turun, permintaan yang didorong kebutuhan nyata konsumen, bukan subsidi, kemungkinan akan meluas," ujar Kawano.

(fea)
placeholder