EVOLUTION FORUM

Guru Besar Universitas Pertamina Sorot Kendala Teknis B50 di Indonesia

CNN Indonesia
Rabu, 30 Sep 2026 12:34 WIB
Iman Kartolaksono Reksowardojo - Guru Besar Universitas Pertamina (Pepew-Maureen)
Menurut Guru Besar Pertamina penerapan B50 masih punya kendala di distribusi dari hulu sampai ke enjin kendaraan. (CNN Indonesia TV)
Jakarta, CNN Indonesia --

Guru Besar Universitas Pertamina Iman Kartolaksono Reksowardojo mengatakan Indonesia pada dasarnya sudah siap menerapkan biofuel Biodiesel 50 persen (B50) berbasis sawit, namun dia menyoroti beberapa kendala yang bisa mendapat perhatian.

"Untuk B50, untuk teknis kendaraan atau enjin sudah diuji ESDM melalui Migas, tidak masalah. Tapi masalahnya adalah lagi-lagi mulai dari kilang sampai dalam enjin, itu sampai saat ini masih belum ditangani dengan baik atau memang makin banyak persentasenya itu masalahnya makin besar," ujar Iman di Evolution Forum, Powering Indonesia Future: Green Cars. Blue Skies, Rabu (30/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Biodiesel disebut tidak seperti bahan bakar fosil lainnya yang tahan lama sebab punya sifat higroskopis, yang berarti mudah menyerap dan mengikat kelembapan air dari udara di sekitarnya dibanding solar berbasis fosil murni.

Iman menjelaskan sifat higroskopis itu punya dua efek, bagus dan jelek. Bagi bahan bakar itu jelek karena jika dalam proses distribusi penanganannya tidak bagus maka kualitasnya turun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara biodiesel bagus bagi lingkungan karena punya karakteristik biodegradable, yakni berubah menjadi elemen yang tidak merusak dibanding bahan bakar lainnya.

"Jadi kalau tumpah di laut, enggak kayak (bahan bakar) fosil, merusak," katanya.

Bila masalah distribusi dari hulu sampai ke enjin kendaraan ini sudah selesai, menurut Iman penerapan B50 bakal lebih lancar.

Selain itu Iman juga menyorot soal teknis kendaraan yang tidak didesain secara khusus buat B50. Dia mengatakan sebanyak 90 persen kendaraan di Indonesia dirancang Jepang, yang utamanya dibuat untuk bahan bakar fosil.

"Makanya itu tarik-tarikan, komisi teknis bikin standard, antara konsumen, pembuat enjin, pembuat bahan bakar, bagaimana komprominya. Kalau dibilang siap, sekarang jauh lebih siap karena kita sudah pengalaman," ujar dia.

Menurut Iman, dunia belum punya rujukan soal B50 karena Indonesia adalah yang pertama. Dia menilai Indonesia harus bisa 'survive' dalam pengembangannya.

(fea)
placeholder