Gen Z Mulai Tertarik Beli Mobil Listrik China, Begini Alasannya

CNN Indonesia
Kamis, 24 Sep 2026 17:43 WIB
US flags fly outside a car dealership in Alhambra, California, on March 27, 2025. Automakers were battered on March 27 as stock markets fell on both sides of the Atlantic after US President Donald Trump announced significant tariffs on imported vehic
Menurut riset terbaru Cox Automotive, 69 persen pengemudi Gen Z di AS mempertimbangkan beli mobil China, alasannya harga murah. (AFP/FREDERIC J. BROWN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tingginya harga kendaraan di Amerika Serikat (AS) mulai mengubah preferensi konsumen. Riset terbaru dari Cox Automotive mengungkap bahwa 69 persen pengemudi Generasi Z di AS kini mempertimbangkan membeli mobil merek China, seperti BYD dan Geely.

Dikutip Nikkei Asia pada Kamis (24/9) faktor keterjangkauan harga menjadi alasan utama bagi kelompok usia dari remaja hingga awal 30-an tahun ini. Sekarang rata-rata harga mobil baru di AS telah melonjak hingga sekitar US$50 ribu (sekitar Rp894,32 juta, kurs 1 USD=Rp17.886), ditambah tingginya biaya bahan bakar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sisi lain, generasi yang lebih tua masih cenderung memprioritaskan faktor keandalan dan keselamatan di atas harga.

Bagi Gen Z yang mencakup sekitar seperlima populasi konsumen di AS, tawaran harga mobil China terbilang sangat menggiurkan. Sebagai gambaran, mobil listrik ringkas BYD Dolphin Surf dijual sekitar US$25 ribu (setara Rp447,15 juta) di Eropa, atau setengah rata-rata harga mobil baru di AS.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mobil listrik China saat ini masih terhalang tarif impor 100 persen yang diterapkan pemerintah AS. Namun, isu keterjangkauan ini mulai menggeser dinamika politik domestik jelang pemilu sela.

Presiden AS Donald Trump sempat mengindikasikan keterbukaannya jika perusahaan China ingin membangun pabrik perakitan di wilayah AS.

Tuntutan atas harga yang murah tidak hanya terjadi di industri otomotif, tetapi juga mulai merembet ke sektor lain seperti semikonduktor.

Tingginya biaya komponen chip yang memicu kenaikan harga pada barang elektronik seperti ponsel pintar dan komputer membuat konsumen maupun produsen teknologi mendesak hadirnya opsi komponen yang lebih ramah di kantong.

Meningkatnya sensitivitas konsumen AS terhadap harga membuat pemerintah berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, ada kekhawatiran terkait persaingan tidak sehat dan keamanan nasional.

Namun di sisi lain, dorongan kuat dari Gen Z yang menginginkan produk berkualitas dengan harga terjangkau menjadi tren pasar yang kian sulit untuk diabaikan.

(hjn/fea)
placeholder