TIPS OTOMOTIF

Jangan Nyalakan Wiper untuk Bersihkan Abu Vulkanik di Kaca Mobil

CNN Indonesia
Selasa, 08 Sep 2026 16:29 WIB
Pasir vulkanik yang terlontar dari kawah Gunung Lewotobi Laki-laki sejauh 10 kilometer menutupi sebuah mobil di bukit di utara Desa Pululera, Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (9/11/2024). Gunung Lewotobi Laki-laki kemb
Pakar ITB menyarankan wiper diangkat dan tidak dinyalakan saat kaca masih kering karena partikel silika abu vulkanik berisiko membaretkan kaca mobil. (ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) yang berlangsung sejak Jumat (4/9) malam sudah mencapai Jabodetabek dan mengendap tebal di kaca kendaraan. Refleks banyak pengendara ketika mendapati kaca depan tertutup abu adalah menyalakan wiper, padahal langkah itu justru bisa membuat kaca baret.

Pakar otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menegaskan wiper tidak boleh diaktifkan ketika kaca masih dalam kondisi kering dan berdebu abu. Karet wiper akan menekan lapisan abu di sepanjang lintasan sapuannya, mengubah tiap gerakan menjadi kikisan searah pada permukaan kaca.

"Partikelnya dapat mengandung material mineral dan pecahan vulkanik yang keras serta abrasif. Kalau langsung dilap atau digosok dalam keadaan kering, bisa menimbulkan goresan halus pada clear coat maupun kaca," kata Yannes kepada Antara, Minggu (6/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kandungan silika di dalam abu vulkanik adalah biang masalahnya. Mineral itu punya struktur kristal yang lebih keras ketimbang lapisan pelindung kaca mobil, sehingga tiap sapuan wiper di atas endapan abu kering setara dengan menggosokkan butiran halus amplas pada kaca.

Angkat wiper

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Prosedur aman menurut Yannes justru berkebalikan dengan naluri kebanyakan pengendara. Wiper sebaiknya diangkat terlebih dahulu sebelum bodi maupun kaca disentuh, kemudian seluruh permukaan mobil disiram air mengalir bervolume besar dari bagian atap ke bawah.

"Dengan dibilas menggunakan air mengalir bervolume besar tanpa sentuhan spons atau lap sama sekali, dapat meluruhkan partikel abrasif secepat mungkin," ujarnya.

Barulah setelah abu luruh, mobil boleh dicuci dengan sampo, dibilas ulang, kemudian dilap kering pakai kain mikrofiber. Karet wiper pun perlu dibasahi dan dibersihkan sebelum dipasang kembali ke posisinya, agar sisa abu yang mungkin terselip di karet tidak ikut menggores kaca pada penggunaan berikutnya.

Bagi mobil yang belum terpapar, Yannes menganjurkan diparkir di area tertutup. Car cover boleh dipasang, tapi hanya di atas bodi yang bersih.

Menyeret atau memasangkan penutup pada mobil berdebu abu justru berbahaya karena kain akan menggesekkan partikel vulkanik ke permukaan cat.

Yannes juga menyoroti risiko yang timbul kalau abu hanya dibasahi sebagian. Sisa endapan yang mengering ulang di permukaan kendaraan justru berpotensi memicu kondisi lebih korosif ketimbang lapisan abu yang belum sempat disiram.

"Yang perlu dihindari adalah membasahi abu sedikit lalu membiarkannya mengering kembali di permukaan kendaraan. Air dalam jumlah cukup untuk membilas seluruh partikel justru menjadi cara paling aman," ucap Yannes.

(fea)
placeholder