Pabrik LG di AS Mulai Setop Produksi Baterai Mobil Listrik

CNN Indonesia
Kamis, 20 Agu 2026 15:32 WIB
Produsen baterai LG Energy Solution secara bertahap menghentikan memproduksi sel untuk kendaraan listrik (electric vehicle) pabriknya di Amerika Utara.
Ilustrasi. Produsen baterai LG Energy Solution secara bertahap menghentikan memproduksi sel untuk kendaraan listrik (electric vehicle) pabriknya di Amerika Utara. Tangkapan layar lgensol.com
Jakarta, CNN Indonesia --

Produsen baterai asal Korea Selatan, LG Energy Solution secara bertahap menghentikan memproduksi sel untuk kendaraan listrik (electric vehicle) pabriknya di Amerika Utara dan mengalihkannya memproduksi baterai penyimpan energi atau energy storage system (ESS).

Menurut Robert Lee selaku Presiden LG Energy wilayah Amerika Utara, alasan beralih ke baterai penyimpan energi karena lonjakan permintaan sel baterai berukuran besar didorong oleh masifnya pembangunan pusat data kecerdasan buatan atau AI data centers.

Langkah cepat ini diambil oleh para produsen baterai dan pabrikan otomotif setelah sebelumnya menggelontorkan dana hingga puluhan miliar dolar untuk membangun fasilitas pabrik, demi menyambut ledakan pasar kendaraan listrik yang ternyata belum terwujud sesuai perkiraan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

LG Energy yang diklaim sebagai produsen baterai terbesar di Amerika Utara berdasarkan jumlah sel yang dihasilkan ini menargetkan lima dari delapan pabrik mereka di kawasan tersebut akan memproduksi baterai ESS selambat-lambatnya pada akhir tahun ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam acara peresmian pabrik LG Energy di Lansing, Michigan, pada Selasa (18/8), Robert Lee menyampaikan bahwa perusahaannya menyoroti sektor ESS karena pertumbuhan pesat di bidang ini sebelumnya berada di luar perkiraan.

Fasilitas produksi di Lansing tersebut memproduksi sel baterai untuk Tesla, yang saat ini memegang posisi terdepan di pasar ESS. Selain itu, pabrik ini juga memasok baterai untuk kendaraan listrik Toyota Motor Corp.

Perubahan menuju produksi baterai ESS tidak semudah membalikkan telapak tangan. LG Energy harus merancang formula kimia baru yang sebelumnya jarang mereka gunakan, yaitu lithium iron phosphate (LFP) yang merupakan sebuah pasar dikuasai oleh para produsen asal China.

Meski dapat digunakan pada kendaraan listrik, baterai LFP memiliki kepadatan energi yang lebih rendah dibandingkan baterai berbasis nikel yang merupakan spesialisasi LG Energy, sehingga menghasilkan jarak tempuh berkendara yang lebih pendek.

Kendati demikian, komposisi LFP dinilai jauh lebih aman serta memiliki ketahanan yang lebih baik, menjadikannya pilihan ideal untuk menampung suplai energi dalam skala besar dari pembangkit listrik.

Langkah peralihan ke sektor ESS ini dinilai tepat waktu bagi sektor otomotif dan manufaktur baterai yang telah menanamkan investasi besar pada pabrik kendaraan listrik. Namun, kapasitas tersebut diprediksi belum sepenuhnya mampu menyerap seluruh ruang pabrik yang tersedia.

Berdasarkan laporan konsultan Benchmark Mineral Intelligence, permintaan baterai stasioner di kawasan Amerika Utara diperkirakan mencapai 76 gigawatt per-jam pada tahun ini.

Sekalipun angka kebutuhan penyimpanan tersebut diproyeksikan meningkat hampir dua kali lipat dalam lima tahun ke depan menjadi 125 GWh, Benchmark memperkirakan jumlah itu tetap belum mencukupi untuk menutupi kelebihan kapasitas pabrik yang sudah dibangun untuk kendaraan listrik.

Di sisi lain, LG Energy tetap mempertahankan produksi baterai kendaraan listrik berbasis nikel. Pabrik hasil kerja sama patungan dengan General Motors yang berlokasi di timur laut Ohio baru saja kembali mengaktifkan produksi sel baterai untuk kendaraan listrik GM pekan ini setelah sempat berhenti beroperasi selama tujuh bulan.

"Kendaraan listrik akan kembali bangkit dan pada akhirnya akan mendominasi mayoritas kendaraan di Amerika Serikat. Ini semua benar-benar hanya soal waktu," ungkap Robert Lee, melansir situs Reuters, Kamis (20/8).

(hjn/mik)
placeholder