Bensin E20 Disebut Bikin Korosi, Asosiasi Otomotif India Bersuara

CNN Indonesia
Selasa, 11 Agu 2026 09:10 WIB
Toyota Astra Motor (TAM) menghadirkan mobil anyar pada segmen elektrifikasi yaitu Prius HEV dan Prius PHEV pada ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2024. Khusus model HEV, statusnya telah resmi dijual dengan banderol Rp695 juta,
Asosiasi pabrikan mobil India menyurati kementerian soal klorida tinggi pada bensin E20 yang disebut memicu korosi komponen, tapi surat itu lalu ditarik. (CNN Indonesia/Rayhand Purnama)
Jakarta, CNN Indonesia --

Asosiasi pabrikan mobil India, Society of Indian Automobile Manufacturers (SIAM), menyurati kementerian perminyakan India pada 28 Juli 2026 soal efek korosi dan keausan komponen kendaraan dari bensin campuran etanol 20 persen atau E20.

Dalam surat yang dilihat Reuters, SIAM memperingatkan tingginya kadar klorida dan kelembapan pada E20 yang dijual di gerai ritel seluruh negeri.

"Anggota mengamati peningkatan besar pada masalah komponen kendaraan konsumen dan penggantiannya. Investigasi ... mengungkap kegagalan itu disebabkan korosi atau keausan akibat tingginya kandungan klorida yang ditelusuri berasal dari bahan bakar yang digunakan," bunyi surat tersebut, dikutip Reuters, Rabu (5/8).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Komponen yang bersentuhan langsung dengan bahan bakar atau emisi mesin disebut paling terdampak, "khususnya setelah penerapan E20". SIAM juga menandai kadar kelembapan tinggi yang dinilai bisa membuat kendaraan langsung mogok setelah pengisian, sekaligus meminta pemeriksaan kualitas yang lebih ketat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peringatan ditarik

SIAM menarik surat itu pada Selasa (4/8), beberapa jam setelah isinya diberitakan media. Aksi ini lantas memicu keriuhan publik yang sedang panas soal E20.

"Angka-angka yang dirujuk yang diberitakan media perlu diautentikasi," bunyi pernyataan SIAM,.

"... dan karena itu SIAM menarik komunikasi sebelumnya," tulis asosiasi lagi.

Kelompok yang beranggotakan Maruti Suzuki, Tata Motors, Toyota Motor Corp, dan Mercedes Benz itu tidak membantah adanya kontaminasi.

SIAM hanya menyebut sejumlah angka perlu diautentikasi lewat pengumpulan data ekstensif di seluruh negeri, tanpa menyebut kapan prosesnya rampung. SIAM dan kementerian perminyakan tidak segera merespons permintaan komentar Reuters.

Kementerian sebelumnya menyatakan di media sosial bahwa kualitas bahan bakar dipantau rutin oleh perusahaan pemasaran migas, dan hanya dua kasus kontaminasi klorida yang ditemukan dari sampel 2.000 pengujian.

Seorang pejabat senior pemerintah yang tidak disebut namanya menyebut kekhawatiran itu sebagai kampanye misinformasi tanpa bukti nyata pada mobil di jalan.

E20 menggantikan E10 secara nasional di India pada 2025, jauh lebih cepat dari tenggat 2030, padahal mobil yang kompatibel baru mulai beredar pada 2023.

Kebijakan yang diterapkan di 90 ribu pompa bahan bakar itu memicu protes, gugatan hukum, dan tuntutan agar konsumen diberi pilihan campuran etanol lebih rendah.

E5 di Indonesia pada 2028

Di Indonesia, pencampuran bioetanol pada bensin belum menjadi mandatori nasional. Yang sudah beredar adalah bensin campuran bioetanol 5 persen (E5) lewat Pertamax Green 95, dan statusnya masih produk komersial.

Keputusan Menteri ESDM Nomor 113.K/EK.05/MEM.E/2026 menetapkan penahapan bioetanol pada level E5 untuk 2026-2027, lalu E10 pada 2028-2030.

Di luar beleid itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melempar target lebih agresif, yakni E20 secara nasional mulai 2028. Target tersebut belum tertuang dalam Kepmen 113/2026 yang masih mematok campuran 10 persen pada periode yang sama.

(fea)


[Gambas:Video CNN]