Pemerintah India Diserang Netizen Soal Bensin Campur Etanol 20 Persen

CNN Indonesia
Selasa, 21 Jul 2026 09:30 WIB
India masih bertahan dengan bahan bakar minyak (BBM) bensin campuran etanol 20 persen (E20). BBM E20 diklaim tidak berisiko terhadap mesin mobil baru dan lawas.
India masih bertahan dengan bahan bakar minyak (BBM) bensin campuran etanol 20 persen (E20). BBM E20 diklaim tidak berisiko terhadap mesin mobil baru dan lawas. AFP/ALAIN JULIEN
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

India masih bertahan dengan bahan bakar minyak (BBM) bensin campuran etanol 20 persen (E20). BBM E20 diklaim tidak berisiko terhadap mesin mobil baru dan lawas.

Menteri Perminyakan dan Gas Alam Suresh Gopi mengatakan pernyataan itu untuk meyakinkan masyarakat di tengah kekhawatiran akan peningkatan protes lebih lanjut dan kritik bahwa campuran E20 tersebut mengurangi efisiensi dan kinerja mesin kendaraan seperti disitat dari Reuters, Selasa (21/7).

Sejumlah pengendara mempertanyakan apakah kendaraan lama yang awalnya dirancang untuk campuran etanol lebih rendah berisiko mengalami korosi, keausan, atau penurunan performa. Pertanyaan itu menjadi sorotan pengguna media sosial di India.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejauh ini, pemerintah India belum menerima keluhan tentang penurunan kinerja kendaraan, kerusakan mesin, korosi, dan masalah pompa bahan bakar yang terkait dengan penggunaan E20.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, kendaraan yang dirancang untuk E10 hanya mengalami penurunan efisiensi bahan bakar marginal sebesar 3 hingga 5 persen saat menggunakan bensin E20.

"Seandainya pencampuran etanol menyebabkan kerusakan sistemik pada mesin atau sistem bahan bakar, kegagalan tersebut akan mengakibatkan klaim garansi skala besar, kampanye perbaikan, dan keluhan konsumen yang meluas, yang semuanya belum dilaporkan," ucap Gopi.

Bensin campuran etanol 20 persen menjadi satu-satunya bahan bakar yang dijual di 90 ribu pompa bensin di India pada akhir 2025. Kondisi itu menyebabkan kegemparan di kalangan pengendara.

Merespons banjir kritik

Kementerian Informasi dan Penyiaran India menggelar konferensi pers pada 4 Juli bersama produsen Maruti Suzuki, Toyota, Hyundai, Hero MotoCorp, dan Bajaj.

Maruti Suzuki mengklaim telah menguji kendaraan era E10 dengan bahan bakar E20 tanpa temuan korosi atau ausan abnormal. Hal ini juga disebut didukung data servis 28,4 juta kendaraan sepanjang tahun fiskal 2025-2026, termasuk lebih dari 15 juta unit berusia di atas tiga tahun, tanpa masalah kerusakan terkait E20.

Maruti Suzuki mengakui E20 menurunkan efisiensi bahan bakar sekitar 3-3,5 persen dibanding E10, tapi menyebut faktor lain seperti gaya berkendara, tekanan ban, dan perawatan berpengaruh lebih besar.

Diversifikasi bahan baku etanol

Untuk mengurangi ketergantungan pada satu tanaman, India memproduksi etanol dari berbagai produk, termasuk bahan baku berbasis tebu, jagung, biji-bijian yang rusak, beras pecah, dan biji-bijian yang tidak layak konsumsi manusia.

Langkah diversifikasi ini juga bertujuan untuk mengalihkan produksi ke tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air seperti jagung, yang pangsa pasarnya dalam program etanol India telah meningkat dari nol menjadi 37 persen dalam lima tahun hingga 2025 atau 2026.

Gopi mengatakan program pencampuran etanol di India akan memastikan bahwa keberlanjutan air, ketahanan pangan, dan kepentingan petani tetap menjadi yang utama.

BBM E10 di Indonesia

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah membidik penerapan bahan bakar minyak (BBM) bensin dengan campuran etanol 10 persen (E10) mulai 2027.

Kebijakan tersebut akan dilakukan secara bertahap sebelum pemerintah menerapkan campuran etanol 20 persen (E20).

"E10 mungkin 2027 dan langsung ke E20 ya. Jadi goal-nya itu mungkin setelah perencanaannya selesai. Jadi kita bertahap dulu, kita melakukan copy paste dari strategi yang dilakukan oleh B10, B20, B30 sampai sekarang B50," kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (20/7).

Bahlil mengatakan pemerintah telah membahas penerapan mandatori etanol bersama Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, kajian mengenai kebijakan tersebut telah berjalan sejak 2025 dan kini hampir rampung.

"Proposal untuk etanol mandatory ini sudah kita lakukan sejak 2025 dan kajian kita sudah hampir selesai. E20 itu dalam perencanaan yang kita akan tetapkan nanti sampai dengan 2028-2029," ujarnya.

(tim/mik) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]