Merek China Ini Belum 'Pede' dengan Infrastruktur EV di Indonesia
Sokonindo Automobile (DFSK) menjelaskan alasan di balik keputusan masuk ke segmen Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) di Indonesia melalui E5 Plus.
Cin Hok Rifin, Director of Sales Center Sokonindo Automobile mengatakan teknologi PHEV lebih sesuai dengan kondisi saat ini, terutama terkait ketersediaan infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik.
Ia menjelaskan perkembangan infrastruktur pengisian daya belum sepenuhnya merata di Indonesia, sehingga PHEV dapat menjadi solusi sebab sistem elektrifikasi yang digunakan tak hanya bersumber dari daya listrik luar, tetapi juga mesin pembakaran dalam (ICE) yang dipakai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kami pilih PHEV dulu karena kami ingin menyerahkan ke konsumen untuk mengatur sendiri kebiasaannya," kata Cin Hok di Jakarta, Selasa (23/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia lantas memberi contoh terkait bagaimana tantangan masyarakat di tengah keterbatasan SPKLU.
"Saya kasih contoh pulang kantor sudah jam 9 malam, tiba-tiba di basement sudah 20 persen baterai, terus kita harus cari infrastruktur dulu, ternyata masih ada yang antre. Padahal harusnya kita sudah kumpul bareng keluarga, tapi kita harus antre," tuturnya.
Karena alasan tersebut, Cin Hok menilai teknologi PHEV dapat menjadi solusi transisi yang lebih fleksibel bagi konsumen. Saat baterai habis, kendaraan tetap dapat melanjutkan perjalanan menggunakan mesin bensin tanpa perlu khawatir mencari fasilitas pengisian daya.
"Makanya kita bawa PHEV, dan saat bawa jauh enggak usah khawatir. Jakarta-Lombok bisa 1.400 km," kata dia.
Sebagai mobil PHEV, ia menjelaskan E5 Plus dibekali baterai berkapasitas 25 kWh sehingga mobil memungkinkan digunakan layaknya kendaraan listrik murni untuk kebutuhan harian. Jarak tempuh hanya dari penggunaan baterai mencapai 140 km.
"Murni EV bisa 140 km tanpa menggunakan mesin," ujarnya.
"Dan efisiensi jauh dari hybrid, 1 liter bisa 83 km. PHEV ini banyak keunggulan," ujar Cin Hok lagi.
Meski saat ini fokus memperkenalkan teknologi PHEV, DFSK menegaskan tidak akan meninggalkan segmen kendaraan listrik murni atau battery electric vehicle (BEV). Ia bahkan membuka peluang akan menghadirkan mobil listrik anyar di Indonesia.
(ryh/mik) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

