Efek BI Rate Naik Jadi 5,5%: Cicilan Kendaraan Makin Berat

CNN Indonesia
Rabu, 10 Jun 2026 18:45 WIB
Suasana stand kendaraan Toyota saat pameran automotif Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show (GIIAS) 2024 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Serpong, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis, 18 Juli 2024. (CNN Indonesia/ Adi Ibrahim)
BI Rate naik ke 5,5% berpotensi bikin cicilan kendaraan baru makin mahal. Nasabah dengan kontrak berjalan tidak perlu khawatir, cicilan tidak berubah. (CNN Indonesia/ Adi Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen pada Selasa (9/6). Kenaikan ini berpotensi membuat cicilan kendaraan baru semakin berat.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan keputusan ini merupakan langkah lanjutan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang terus terdepresiasi hingga menembus Rp18.000 per dolar AS.

"Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah," ujar Perry.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bersama BI Rate, suku bunga Deposit Facility ikut naik 25 basis poin menjadi 4,5 persen dan Lending Facility naik 25 basis poin menjadi 6,25 persen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cicilan berjalan tidak berubah

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno memastikan nasabah yang sudah punya kontrak pembiayaan berjalan tidak perlu panik. Besaran cicilan tidak akan berubah.

"Untuk nasabah yang sudah jalan bersama pembiayaan itu tidak akan ada perubahan naik turunnya suku bunga," kata Suwandi, dikutip CNBC Indonesia, Selasa (9/6).

Namun bagi calon nasabah baru, situasinya berbeda. Suwandi menjelaskan sekitar 70 persen sumber pendanaan perusahaan multifinance berasal dari pinjaman perbankan, jadi jika bank ikut menaikkan bunga pinjaman ke perusahaan pembiayaan kemungkinan besar selisih itu diteruskan ke konsumen baru dalam bentuk bunga yang lebih tinggi.

"Dampaknya bukan kepada pembiayaan yang sedang berjalan, tetapi kepada yang akan datang. Nanti akan dikaitkan dengan daya beli dan kemampuan bayar," ujar Suwandi.

Pembelian kendaraan secara cicilan memiliki porsi besar di Indonesia, jika semakin berat kemungkinan bakal memengaruhi penjualan unit baru secara nasional.

Pada Mei 2026 penjualan mobil baru (wholesales) sudah memperlihatkan gejala penurunan. Dalam data Gaikindo penjualan terekam turun 14,3 persen di bulan itu menjadi 69.219 unit dibanding bulan sebelumnya.

Walau demikian penjualan selama Januari-Mei 2026 masih tercatat lebih tinggi 12,8 persen (359.015 unit) dibanding periode sama pada 2025.

(fea) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]