Prospek Biofuel di Indonesia Saat Peralihan ke Mobil Listrik

CNN Indonesia
Minggu, 07 Jun 2026 15:20 WIB
Suzuki Fronx FFV (Flexy Fuel Vehicle) dipamerkan di Japan Mobility Show (2025). SUV lima penumpang ini telah dimodifikasi bisa minum bioetanol.
Suzuki Fronx FFV (Flexy Fuel Vehicle) dipamerkan di Japan Mobility Show (2025). SUV lima penumpang ini telah dimodifikasi bisa minum bioetanol. (CNNIndonesia/Febri Ardani)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) yang terus meningkat membuat konsumsi energi berbasis fosil semakin besar, sementara minyak bumi bersifat terbatas dan terus berkurang.

Situasi tersebut akhirnya mendorong banyak pihak mengembangkan sumber energi terbarukan serta ramah lingkungan melalui BBM nabati biodiesel dan bioetanol. Indonesia menerapkan dua biofuel itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk biodiesel, pemerintah saat ini tengah mempersiapkan penggunaan B50 atau biodiesel 50 yang merupakan campuran antara 50 persen solar dan 50 persen minyak nabati. Rencana implementasinya Juli 2026.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan peningkatan kadar campuran minyak sawit tersebut akan mengalihkan kebutuhan solar ke produksi dalam negeri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat ini Indonesia menerapkan B40 yang artinya BBM solar dengan campuran 40 persen minyak sawit.

"Sebelumnya sekarang yang sedang berjalan adalah 40 persen, dan Juli mendatang kita akan meningkatkannya menjadi 50 persen sehingga kita bisa mencapai situasi di mana kita tidak lagi mengimpor minyak solar lagi," ujar Eniya beberapa waktu lalu.

Tak cuma BBM untuk mesin diesel. Pemerintah saat ini juga mendorong penggunaan bensin dengan campuran etanol, yang saat ini dikenal sebagai bioetanol.

Bensin jenis itu telah dijual di Indonesia melalui Pertamina sejak 2023. Produknya adalah Pertamax Green yang merupakan campuran antara Pertamax dan 5 petsen etanol atau dikenal sebagai E5.

Pemerintah sedang menyusun peta jalan pengembangan bioetanol sebagai campuran bensin dan etanol, dimulai dari E5 atau 5 persen etanol pada 2026-2027, meningkat menjadi E10 pada 2028-2030, hingga target jangka panjang menuju E20.

Terbaru, Kementerian ESDM bakal mewajibkan pengusaha SPBU swasta mencampur BBM dengan etanol sebesar 5 persen mulai semester II 2026. Tahap awal akan berlaku di seluruh Pulau Jawa. Eniya mengatakan kewajiban ini berdasarkan arahan langsung dari Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

"Jadi untuk semester II tahun 2026 ini, seluruh badan usaha BBM wajib melakukan pencampuran, hal ini sesuai dengan peraturan Menteri nomor 4 tahun 2025," ujar Eniya dalam Rapat Kerja Komisi XII DPR RI, Kamis (4/6).

Kesiapan pabrikan

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memastikan kesiapan produsen mobil dan kendaraan niaga untuk beralih ke penggunaan bahan bakar biodiesel B50.

"Yang terakhir kan sampai B40 kan, Nah, kemudian dicoba ke B50 sekarang. Nah, itu semua persyaratannya sudah ada. Selama karakteristiknya dipenuhi, harusnya tidak ada masalah," kata Kukuh Kumara, Sekretaris Umum Gaikindo.

Kukuh juga menjelaskan pihaknya dan pemerintah telah melakukan uji coba B50 dengan kendaraan diesel. Tak disebutkan penyesuaian mesin yang telah dilakukan
untuk penggunaan B50, namun sejauh ini dipastikan tak menemui kendala.

"Kali ini tidak ada masalah," kata Kukuh.

Sementara itu penguasa pasar roda dua di Indonesia, Astra Honda Motor (AHM), mengklaim sudah siap menghadirkan teknologi baru untuk seluruh model sepeda motor Honda guna menekan emisi karbon dari kendaraan bermotor.

Bagi AHM perusahaan siap menyediakan mesin yang bisa menenggak bioetanol sebagai salah satu sumber energi alternatif saat ini.

Executive Vice President Director PT AHM Thomas Wijaya menjelaskan untuk memulainya butuh sinergi dari sejumlah pihak termasuk regulasi hingga kesiapan bahan bakar alternatif tersebut.

Ia pernah menyebutkan Honda sudah memiliki motor yang bisa menggunakan BBM alternatif. Teknologi ini telah dikembangkan di beberapa negara seperti Brazil, Argentina, dan India.

"Kalau secara Honda Motor, teknologi kita untuk karbon netral sangat siap untuk mendukung ke sana. Nah tentu ini butuh kolaborasi dari regulasi termasuk juga kesiapan bahannya gitu ya," ungkap Thomas beberapa waktu lalu.

Jadi jembatan ke EV

Di sisi lain, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai penggunaan bahan bakar biodiesel dan bioetanol, mampu menjadi jembatan transisi untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM.
Hal ini juga dirasa tepat sebelum beralih sepenuhnya ke penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai (EV).

"Biofuel bahkan menurut saya bisa menjadi bridging fuel sebelum ke EV," ucap Kepala Center of Industry, Trade, and Investment INDEF Andry Satrio Nugroho di Jakarta beberapa waktu lalu.

Peran biofuel sebagai jembatan transisi energi dari BBM fosil, kata dia, bakalan terasa di wilayah-wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Sebab mereka belum tersentuh oleh infrastruktur pendukung kendaraan listrik.

Sebab itu sembari menunggu kesiapan pemerataan infrastruktur kendaraan listrik, masyarakat dapat mengurangi ketergantungan mereka terhadap BBM fosil dengan cara beralih ke biofuel.

"Karena segmennya menurut saya juga berbeda. Di beberapa wilayah masih dibutuhkan (BBM), sembari kita bisa menunggu infrastruktur dari EV-nya tercipta di wilayah tersebut. Saya kira kita perlu mendorong itu (biofuel dan EV) berdampingan," ucap Andry.

(ryh/fea) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]