1 Dekade Tren Material Daur Ulang di Produksi Mobil Global

CNN Indonesia
Jumat, 05 Jun 2026 15:48 WIB
Interior BMW i3.
Foto: BMW
Jakarta, CNN Indonesia --

Pabrikan otomotif tidak hanya berlomba menghadirkan kendaraan rendah emisi, melainkan juga memperhatikan material yang digunakan dalam proses produksi. Hal tersebut menjadi salah satu upaya produsen mengurangi jejak karbon pada setiap langkah manufaktur.

Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengamini makin banyak produsen membuat kendaraan menggunakan bahan daur ulang.

Kata dia ini merupakan upaya untuk membuat industri lebih berkelanjutan, di samping memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh banyak negara maju.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sekarang itu makin banyak produsen yang merakit mobil pakai material daur ulang karena adanya tekanan struktural berupa regulasi sustainable development goals yang sangat ketat yang diinisiasi Eropa dan sekarang menjadi standar global sustainability," kata Yannes saat dihubungi, Kamis (4/6).

Menurut Yannes penggunaan material ramah lingkungan, bahkan daur ulang juga seakan menjadi permintaan dari pasar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ya di samping tekanan konsumen pasar-pasar besar otomotif dunia ya juga," katanya.

Yannes melanjutkan penggunaan material daur ulang ini dipelopori sejumlah pabrikan global asal benua biru dan Amerika Serikat seperti BMW, Volvo, hingga Ford. Mereka secara aktif meningkatkan penggunaan material daur ulang dalam pembuatan kendaraan bermotor.

"Sejak 1 dekade lalu sudah dimotori Volvo, BMW, Ford, Renault, Volkswagen dan Audi yang secara aktif meningkatkan penggunaan recycled content di interior, body, dan komponen," ucap dia.

Sementara material daur ulang yang paling potensial digunakan dalam pembuatan mobil yaitu plastik dan besi.

"Lalu, material paling potensial adalah recycled plastik dan steel," kata dia.

Material lain

Seiring perkembangan zaman, tak hanya merek dari Eropa yang aktif menggunakan bahan daur ulang untuk pembuatan mobil. Pabrikan di negara Asia juga telah melakukan hal serupa.

Bahkan material daur ulang yang digunakan telah diperluas, tidak hanya sebatas plastik maupun besi.

Hyundai misalnya yang menggunakan sejumlah bahan daur ulang dalam pembuatan interior dari mobil listrik Ioniq 6.

Pertama Bio-pete yang menjadi bahan ekstraksi dari tebu dan tentunya ramah lingkungan. Material ini digunakan untuk membuat plafon atau headliner Hyundai Ioniq 6.

Lalu jala pancing bekas menjadi bahan karpet dan alas dasar Ioniq 6. Ada juga penggunaan tebu untuk memproses material interior untuk bahan pelapis jok, serta dikombinasikan dengan plastik daur ulang.

Untuk memproses bahan-bahan tersebut menjadi pelapis jok seperti kulit, maka diperlukan minyak. Minyak itu berasal dari bunga dan ekstrak jagung yang ramah lingkungan.

Daur ulang baterai

Seiring perkembangan teknologi otomotif ke arah yang lebih bersih, daur ulang juga mengarah ke baterai kendaraan. China diklaim sebagai pemain utama pada industri ini sehingga limbah baterai bekas dapat dimanfaatkan kembali.

China bahkan membuat aturan ketat terkait daur ulang baterai kendaraan listrik (EV) dengan menerbitkan "Interim Measures for the Management of Recycling and Comprehensive Utilization of Retired Power Batteries of NEVs".

Aturan ini berlaku 1 April, dengan tujuan mengendalikan alur peredaran baterai bekas, termasuk mewajibkan baterai EV tetap melekat pada kendaraan saat dibongkar.

China sendiri berada di garis depan pada industri ini karena sebagian besar produsen kendaraan listrik berasal dari negara tersebut.

Pada Oktober 2025, dilaporkan sejumlah perusahaan lokal mampu memulihkan 96,5 persen litium serta 99,6 persen nikel, kobalt, dan mangan dari baterai bekas.

Menurut laporan Autohome, lembaga riset di China memperkirakan jumlah baterai bekas akan mencapai 1 juta ton pada 2030.

Tentunya, saat baterai bekas ini tak ditangani dengan baik, itu akan menjadi limbah berbahaya yang mengancam lingkungan secara serius.

(ryh/fea) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]