Penjualan EV Makin Gerus Kendaraan Konvensional, Ini Buktinya

CNN Indonesia
Kamis, 23 Apr 2026 11:46 WIB
Penjualan kendaraan listrik di Indonesia melonjak, menggeser pasar mobil konvensional. Konsumen beralih ke EV dikarenakan berbagai faktor.
Ilustrasi. Penjualan kendaraan listrik di Indonesia melonjak, menggeser pasar mobil konvensional. Konsumen beralih ke EV dikarenakan berbagai faktor. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kendaraan listrik berbasis baterai atau electric vehicle (EV) telah banyak diminati konsumen Indonesia, dan penjualannya terus melonjak di tengah dinamika pasar otomotif nasional. Tumbuhnya penjualan pada segmen ini secara tidak langsung menggerus porsi pasar kendaraan konvensional.

Penjualan EV diyakini makin meledak, setelah harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi naik. Ini ditambah oleh makin dekatnya selisih harga antara harga EV dan mobil bermesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Faktor lainnya, jarak tempuh EV makin jauh, bisa mencapai 600 kilometer (km) saat baterai terisi penuh. Ini bisa mengurangi kecemasan jarak (range anxiety) yang biasanya dialami kebanyakan pengguna awam kendaraan listrik.

Geliat EV di Indonesia terlihat jelas dari penurunan kontribusi mobil ICE terhadap total pasar. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), porsi ICE melorot dari 99,6 persen pada 2021 menjadi 78,2 persen pada 2025.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebaliknya, porsi battery electric vehicle (BEV) melejit dari 0,1 persen menjadi 12,9 persen pada akhir 2025. Per Maret 2026, porsi BEV naik lagi menjadi 15,6 persen, sedangkan ICE melorot menjadi 75 persen.

Pada periode ini, penjualan BEV melonjak 96 persen menjadi 33.146 unit dari 16.926 unit, melampaui pertumbuhan industri yang hanya 1,7 persen. Sementara, penjualan mobil ICE ambles dari 174.776 unit menjadi 156.684 unit. Hingga akhir 2026, porsi BEV diprediksi melambung menjadi berkisar 19-20 persen.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Setia Diarta mengatakan pihakmya terus mendorong percepatan pengembangan ekosistem industri KBLBB nasional sebagai bagian dari transformasi industri ini.

"Karena itu, transformasi menuju kendaraan listrik harus dipastikan berjalan baik dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi industri dalam negeri," ujar Setia di kantornya, Jakarta, Rabu (22/4).

Berdasarkan data Kemenperin, saat ini industri kendaraan listrik nasional menunjukkan perkembangan signifikan. Terdapat 14 perusahaan perakitan mobil listrik dengan kapasitas produksi mencapai 409.860 unit per tahun, 68 perusahaan sepeda motor listrik dengan kapasitas 2,51 juta unit per tahun, serta sembilan perusahaan bus listrik dengan kapasitas 4.100 unit per tahun.

Total investasi sektor ini telah mencapai Rp25,674 triliun.

Sementara itu, populasi kendaraan listrik di Indonesia hingga Maret 2026 mencapai 358.205 unit. Jumlah tersebut terdiri atas 236.451 unit sepeda motor listrik, 119.638 unit mobil penumpang listrik, 798 unit bus listrik, 537 kendaraan komersial listrik, serta kategori lainnya.

"Terjadi perubahan preferensi konsumen. Masyarakat mulai memilih kendaraan yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan. Ini menjadi sinyal positif bagi transformasi industri otomotif nasional," ungkap dia.

Pada tahun 2025, pangsa pasar kendaraan roda empat elektrifikasi di Indonesia mencapai 21,71 persen, terdiri dari BEV sebesar 12,93 persen, hybrid electric vehicle (HEV) 8,13 persen, dan PHEV 0,65 persen. Sementara itu, porsi produksi kendaraan berbasis listrik mencapai 11,1 persen dari total produksi kendaraan roda empat nasional.

Pada kesempatan yang sama, Kukuh Kumara, Sekretaris Umum Gaikindo menuturkan dalam satu dekade telah terjadi transformasi besar di industri otomotif Indonesia, dari hanya satu powertrain, dalam hal ini ICE/konvensional, menjadi multi-powertrain.

Lalu dominasi ICE di pasar mobil domestik terkikis mulai terkikis berdasarkan data.

"Buktinya, penjualan mobil bermesin konvensional terus menurun. Sebaliknya, mobil elektrifikasi meningkat," kata Kukuh.

Dia mencatat, BEV saat ini menjadi primadona di Indonesia, dengan porsi 15,9 persen per Maret 2026. Mobil jenis ini bahkan menjadi mesin pertumbuhan baru industri otomotif, dan sudah melampaui porsi HEV dengan pangsa pasar 8,1 persen.

"Pertanyaannya sekarang bukan lagi soal apakah disrupsi BEV terus berlanjut, melainkan apakah ICE akan kena elektrifikasi juga?" kata Kukuh.

(ryh/dmi) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]