Impor Mobil Listrik Diberi Insentif, Sebagian Pemasok Otomotif RI PHK

CNN Indonesia
Jumat, 29 Agu 2025 07:04 WIB
Gaikindo mengungkap sebagian produsen pemasok otomotif sudah melakukan PHK imbas perubahan iklim industri yang dipengaruhi mobil listrik impor CBU.
Gaikindo mengungkap sebagian produsen pemasok otomotif sudah melakukan PHK imbas perubahan iklim industri yang dipengaruhi mobil listrik impor CBU. (Aion Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kukuh Kumara, Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengungkap banyak pemasok komponen otomotif nasional mengalami kesulitan efek gejolak perekonomian dalam negeri dan diperparah banjirnya kendaraan listrik impor di Tanah Air.

Menurut Kukuh kehadiran kendaraan listrik impor telah menekan produksi mobil dalam negeri yang penggunaan komponen lokalnya tinggi. Itu artinya, kondisi tersebut berhasil mengganggu keseimbangan industri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kukuh bilang tidak sedikit perusahaan komponen mengeluh akibat permintaan produk mereka turun serta sebagian memilih 'menyerah' sehingga terpaksa merumahkan pekerja.

"Banyak perusahaan komponen juga mengeluh, karena suplai ke pabrikan kurang. Untung mereka masih ada ekspor, sehingga masih bisa berjalan, tetapi ada sebagian yang sudah melakukan PHK," kata Kukuh dalam keterangan tertulis Kementerian Perindustrian (Kemenperin), dikutip Kamis (28/8).

Kukuh berujar insentif bagi mobil listrik impor dalam rangka tes pasar yang sudah dilakukan memang sukses meningkatkan adopsi di Indonesia. Namun hal ini menekan kinerja industri yang sudah lama eksis, termasuk dari sektor komponen.

Gaikindo mencatat, utilisasi industri mobil malah turun dari 73 persen menjadi 55 persen tahun ini, seiring turunnya penjualan mobil domestik.

Pada medio tahun lalu, penjualan mobil domestik telah surut menjadi 865 ribu unit, sementara 2014 menyentuh angka 1,2 juta unit. Tren ini berlanjut pada tahun ini, di mana per Juli lalu, penjualan mobil turun 10 persen menjadi 453 ribu unit.

Kukuh menyatakan penurunan penjualan mobil dipicu pelemahan daya beli dan mahalnya pajak mobil di luar kendaraan listrik.

Namun yang disayangkan, saat ini tidak semua mobil dengan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) tinggi mendapatkan insentif. Sebaliknya, pemerintah malah jor-joran memberikan insentif besar bagi mobil listrik impor untuk menarik investasi.

Riyanto, peneliti LPEM Universitas Indonesia, menuturkan insentif mobil listrik impor CBU memang mampu mendorong penjualan pada 2024 dan 2025.

Artinya, uji pasar berhasil. Bahkan, mobil listrik impor merajai pasar domestik. Porsinya mencapai 64 persen per Mei 2025, naik tajam dari hanya 40,2 persen pada periode sama tahun lalu.

Namun demikian, menurut Riyanto, insentif mobil listrik impor CBU hanya berdampak ke sektor perdagangan saja yang memiliki efek berganda (multiplier effect), jauh lebih kecil dibanding dengan produksi lokal. Ini juga membuat utilisasi produksi pabrik dalam negeri tidak optimal.

"Seharusnya insentif BEV CBU tidak diperpanjang, agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga menjadi pusat produksi BEV," kata Riyanto.

Respons GIAMM

Asosiasi industri pemasok komponen otomotif nasional, Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM), menyebut sebagian anggotanya memang sudah melakukan PHK.

Rachmat Basuki, Sekretaris Jenderal GIAMM, menjelaskan (PHK) telah terjadi sejak pertengahan 2024. Kata dia akibat akumulasi situasi pasar otomotif yang turun sejak 2023.

Rachmat mengurai kondisi pasar otomotif yang amburadul membuat pasokan komponen ke pabrikan turun sekitar 28 persen, per 22 Juli 2025.

Selain soal impor CBU mobil listrik, dia juga menyoroti penyebab lain masalah ini adalah meningkatnya impor truk CBU untuk kebutuhan pertambangan.

"Itu sebagai akumulasi penurunan pasar sejak 2023 sampai sekarang, karena supply ke pabrikan mobil berkurang 28 persen 22 Juli 2025. Plus berkembangnya marker share BEV 10 persen, ditambah impor truk CBU untuk tambang," kata Rachmat saat dihubungi, Rabu (27/8).

"Total pasar tergerus lebih dari 38 persen, dengan sangat terpaksa beberapa industri komponen atau part yang tidak bisa ekspor mengurangi karyawannya," ucapnya lagi.

Rachmat tidak menyebut jumlah pekerja terdampak, namun dari laporan perusahaan anggota GIAMM, jumlah karyawan kena PHK bervariasi mulai dari 3 persen sampai 23 persen dari total pekerja sebuah perusahaan komponen.

Saat ini GIIAM beranggotakan 250 perusahaan komponen berskala kecil hingga berstatus industri semi padat karya.

"Berdasarkan informasi anggota, pengurangan karyawan sebenarnya mulai terjadi di pertengahan 2024. Berdasarkan info per Juli kemarin pengurangan karyawan bervariasi 3-23 persen tergantung dari jenis perusahaan masing-masing," tutup Rachmat.

(ryh/fea)


[Gambas:Video CNN]
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
TERPOPULER