Hamilton Lantang Dukung Pembebasan Palestina, Kongo, Sudan, Suriah

CNN Indonesia
Sabtu, 24 Okt 2026 14:55 WIB
Lewis Hamilton mendesak pembebasan Palestina dan sejumlah negara di Afrika.
Lewis Hamilton mendesak pembebasan Palestina dan sejumlah negara di Afrika. (Dok. @lewishamilton)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pembalap Ferrari Lewis Hamilton memanfaatkan panggung Formula 1 (F1) untuk melontarkan seruan kemanusiaan bagi pembebasan Palestina, Kongo, Sudan, hingga Suriah.

Sikap tegas tersebut disampaikan pembalap veteran itu di sela persiapan Formula 1 Grand Prix Amerika Serikat menyusul pengumuman resminya GP Afrika pada awal 2030-an.

Dilaporkan oleh MotorBiscuit.com, Hamilton menyuarakan kepeduliannya terhadap krisis kemanusiaan global. Juara dunia tujuh kali itu menilai agenda olahraga tidak boleh mengabaikan berbagai konflik sosial serta pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang sedang berlangsung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya pikir kita perlu memastikan bahwa kita terus mendorong untuk membebaskan Kongo, membebaskan Sudan, membebaskan Suriah, membebaskan Palestina. Saya berharap ada banyak perdamaian yang pada suatu saat nanti bisa kita capai," kata Hamilton.

Pernyataan lantang Hamilton muncul ketika penunjukan Rwanda mendapat sorotan tajam dari kelompok hak asasi manusia Amnesty International. Negara tersebut disorot atas dugaan keterlibatan militer serta pelanggaran HAM dalam konflik wilayah di Republik Demokratik Kongo.

Hamilton menegaskan bahwa kehadiran ajang F1 di Afrika tidak boleh mengalihkan perhatian publik dari persoalan krusial di wilayah tersebut. Ia mendorong masyarakat dunia lebih aktif mempelajari sejarah panjang serta dinamika politik yang dialami benua tersebut.

[Gambas:Video CNN]

"Tentu saja pergi ke sana bukan berarti kita mengabaikan hal-hal yang sedang terjadi di sana. Jadi, mudah-mudahan banyak orang mulai mengedukasi diri mereka sendiri tentang apa yang terjadi di sana," ujar Hamilton.

Pembalap berusia 41 tahun itu mengakui terus mengadvokasi kembalinya balapan F1 di benua Afrika selama bertahun-tahun. Ia mengaku telah melakukan banyak pertemuan dengan CEO F1 Stefano Domenicali hingga para pemimpin negara di Afrika demi merealisasikan agenda tersebut.

"Saya telah mengadvokasi balapan di Afrika selama bertahun-tahun. Saya melakukan rapat yang tidak terhitung jumlahnya dengan para pemangku kepentingan, termasuk pertemuan dengan Stefano maupun panggilan telepon dengan presiden dari berbagai negara," tuturnya.

(sry/kar/sry)