Psywar Legenda MU dan Arsenal, Ungkit Masa Lalu Jelang Duel di GBK

CNN Indonesia
Jumat, 09 Okt 2026 17:18 WIB
Gilberto Silva, Robert Pires, Rio Ferdinan, dan Ryan Giggs saat sesi konferensi jelang laga bertajuk The Rivalry Returns di Stadion GBK, Jumat (9/10). (CNNIndonesia.com/Muhammad Ikhwanuddin)
Gilberto Silva, Robert Pires, Rio Ferdinand, dan Ryan Giggs saat sesi konferensi pers jelang duel The Rivalry Returns. (CNNIndonesia.com/Muhammad Ikhwanuddin)
Jakarta, CNN Indonesia --

Empat legenda Manchester United dan Arsenal saling lempar psywar jelang duel persahabatan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Jakarta, Sabtu (10/10).

Ujaran demi ujaran tentang masa lalu disampaikan oleh Ryan Giggs, Rio Ferdinand, Robert Pires, dan Gilberto Silva. Mereka mengaku tak bisa lupa dengan rivalitas Man Utd dan Arsenal yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.

"Sebenarnya ada satu momen tetapi kalian tidak pernah melihatnya. Itu terjadi di lorong Old Trafford saat ada perkelahian," kata Rio Ferdinand dalam konferensi pers di SUGBK, Jumat (9/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ucapan Ferdinand lantas dibalas oleh Gilberto Silva. Sosok asal Brasil itu menambahkan momen panas tersebut bahkan tidak hanya terjadi satu kali di markas Man Utd.

"Tentu saya ada di sana, bahkan ada dua perkelahian," ucap Gilberto.

"Ada banyak perkelahian di lorong. Hanya saja, kamera tidak berada di sana sehingga kalian tidak melihatnya. Termasuk di Highbury antara Patrick [Vieira] dan Roy [Keane], itu gila," ujar Ferdinand.

Sedangkan Robert Pires menyebut sering tertawa sendiri jika mengingat masa lalu. Menurutnya, hal tersebut merupakan bagian dari perjalanan karier profesional yang tak terlupakan baginya.

"Kalau melihat video-video itu sekarang, terkadang saya tertawa. Namun, itu memang bagian dari rivalitas kami," tuturnya.

"Setelah pertandingan, kami bisa membicarakan kejadian tersebut, seperti perkelahian atau insiden ketika ada pizza yang dilempar," ia menambahkan.

Sedangkan Ryan Giggs mengungkapkan rasa herannya ketika membandingkan rivalitas masa lalu dan masa kini. Ia menyebut, tensi dua dekade lalu lebih tinggi daripada sekarang.

"Sekarang, kami sulit memahami ketika menonton pertandingan dan melihat para pemain saling berpelukan sebelum laga dimulai. Dahulu, kami biasanya hanya saling menyapa. Sekarang, semua orang berpelukan sebelum pertandingan. Bagi kami, itu terasa aneh," kata Giggs. "

Dahulu, kami tidak menyukai satu sama lain, tetapi tetap saling menghormati karena tahu bahwa kami menghadapi pemain dan tim yang bagus. Setelah pertandingan, kami berjabat tangan, mengucapkan selamat atas pertandingan yang bagus, lalu pergi. Kami tidak benar-benar ingin mengenal satu sama lain lebih jauh," ia melanjutkan.

[Gambas:Video CNN]

(ikw/jal)