Asisten Pelatih Argentina Terancam Sanksi FIFA, Diduga Pukul Dani Olmo
Asisten pelatih timnas Argentina, Roberto Ayala, dilaporkan terancam mendapat sanksi dari FIFA setelah kedapatan memukul gelandang Spanyol, Dani Olmo, usai final Piala Dunia 2026.
Final Piala Dunia 2026 yang dimenangkan Spanyol dengan skor 1-0 usai mengalahkan Argentina berakhir dengan kericuhan.
Dalam video yang viral di media sosial, keributan pemain Spanyol dengan Argentina dimulai dari Nahuel Molina yang memukul tubuh Rodri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah itu kerusuhan berlanjut dengan Leandro Paredes yang mendorong dan mencekik Eric Garcia. Paredes juga yang mendorong dan nyaris memukul Gavi.
Setelah itu, ada cuplikan asisten pelatih Roberto Ayala yang memukul wajah Dani Olmo. Atas kelakuan buruk itu, Ayala dan pemain Argentina yang terlibat bisa dihukum FIFA.
Dikutip dari Sportbible, Komite Disiplin FIFA diklaim sedang melakukan penyelidikan atas insiden tersebut. Keributan usai final Piala Dunia 2026 itu bisa didakwa dengan Pasal 13 Kode Disiplin soal 'melanggar aturan dasar perilaku yang layak' dan 'berperilaku dengan cara mencoreng nama baik olahraga sepak bola dan atau FIFA'.
Karena pelanggaran itu, maka bisa dikenakan sanksi berdasarkan Pasal 14 Kode Disiplin kepada pemain dan staf yang terlibat. Hukuman untuk penyerangan termasuk menyikut, meninju, menendang, meludahi, atau memukul lawan atau orang selain petugas pertandingan adalah larangan minimal tiga pertandingan.
Ayala sendiri meminta maaf dengan perilaku buruknya di New Jersey. Dia mengaku terbawa emosi.
"Tentu saja saya minta maaf. Karena posisi saya, saya tidak bisa membiarkan perasaan, atau apa yang mungkin saya terima dari pihak lain, mengubah suasana hati dan tindakan saya. Saya minta maaf, tetapi bagi saya, ini adalah hal-hal yang tetap di sana dan hanya itu," kata Ayala kepada Esports Migdia.
Mantan pemain AC Milan dan Valencia itu berharap insiden usai final Piala Dunia 2026 bisa dilupakan. Dia juga membantah yang dilakukan kepada Olmo adalah pukulan, namun hanya dorongan.
"Itu lebih seperti dorongan daripada pukulan, bukan pukulan seperti yang mereka katakan, dan hanya itu. Itu adalah reaksi terhadap sesuatu yang dia katakan, tetapi hanya itu. Jika saya bertemu dengannya, saya jelas akan meminta maaf kepadanya secara langsung," tutur Ayala.
"Saya bertanggung jawab atas apa yang telah saya lakukan. Niat saya adalah untuk memisahkan mereka, itu niat saya, tetapi terkadang hal-hal terjadi dan emosi memuncak, tetapi itu bukan alasan."
(sry/nva) Add
as a preferred source on Google