'Santai dan Rileks' Tak Disebut Infantino Saat Indonesia Tolak Israel
Presiden FIFA Gianni Infantino didesak pertanyaan soal sejumlah keputusan yang diambil oleh Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026. Hal itu kemudian mengingatkan kembali pada perlakuan berbeda ketika Indonesia menolak Israel di Piala Dunia U-20 2023 lalu.
Infantino menggelar konferensi pers satu hari jelang Piala Dunia 2026 dimulai. Ia didesak oleh sejumlah pertanyaan terkait kontroversi yang ada. Salah satunya adalah keputusan Amerika Serikat menolak wasit asal Somalia, Omar Artan.
"Sungguh sangat disayangkan melihat hal yang terjadi pada omar. Namun kami tidak mengendalikan segalanya. Kami mencoba, kami berdiskusi dan kami akan berbicara."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mungkin terkadang selalu ada baiknya untuk santai dan rileks. Kami bekerja untu segalanya dan coba mencari solusi untuk segala hal. Terkadang, berteriak dan mengumpat bakal menimbulkan efek sebaliknya dari menemukan solusi," kata Infantino seperti dikutip dari Sky Sports.
Saat didesak lebih lanjut, Infantino malah menyinggung soal Piala Dunia Wanita 2035 di Inggris dan kewenangan otoritas setempat.
"Di 2035, saya rasa Piala Dunia Wanita akan ada di Inggris. Apakah kalian pikir normal FIFA akan mendikte Pemerintah Inggris terkait siapa-siapa yang boleh masuk ke negara itu dan siapa yang tidak boleh masuk ke negara tersebut? Saya tak tahu, mungkin kalian pikir hal tersebut normal," tutur Infantino.
"Dunia ini adalah dunia yang sangat agresif dan keamanan ada di atas segalanya. Kalian harus menghormati keputusan tersebut," tutur Infantino melanjutkan.
Ucapan Infantino itu jelas terasa janggal. Pasalnya, FIFA di bawah Infantino melakukan langkah berbeda di Piala Dunia U-20 2023.
Saat itu, FIFA mencabut status tuan rumah Piala Dunia U-20 dari Indonesia lantaran kondisi terkini dan ketidakmampuan Indonesia memenuhi komitmen. Hal itu terkait gelombag protes dan penolakan kedatangan Israel sebagai salah satu peserta di Piala Dunia U-20 2023. Tuan rumah Piala Dunia U-20 2023 pun berpindah ke Argentina.
Saat itu, Infantino tidak mengucapkan komentar-komentar tentang 'santai dan tenang', juga tentang ketidakmampuan FIFA mendikte kebijakan pemerintah tempat turnamen digelar. Yang terjadi saat itu, FIFA berpegang pada nilai-nilai yang mereka anut.
Selain soal Omar Artan, permasalahan lain adalah soal timnas Iran. Iran sempat lama menunggu visa masuk Amerika Serikat. Selain itu, Iran tidak diperkenankan bermalam di Amerika Serikat sehingga mereka hanya datang untuk bertanding dan kemudian kembali ke Tijuana, Meksiko tempat mereka bermalam.
Infantino malah menggarisbawahi status Iran bermain di Amerika sebagai sebuah kesuksesan yang dilakukan oleh FIFA di tengah konflik kedua negara.
"Saya tak bermaksud untuk [berkata] santai dan tidak melakukan apapun. Maksud saya, percaya kami bahwa kami bekerja keras di balik layar, mencoba untuk memahami [situasi]. Ada hal yang kami bisa katakan, ada hal yang kami tidak katakan. Kami selalu mencoba untuk membuat hal jadi positif dan mencari solusi."
"Sebuah kesuksesan untuk bisa membawa Iran bermain di Amerika, saya tak tahu siapa yang bisa melakukan hal itu... Kita tidak hidup di bulan, kita hidup di Bumi, dan kami mencoba yang terbaik," ujar Infantino seperti dikutip dari Al Jazeera.
(ptr) Add
as a preferred source on Google