LPDS Dr. Soetomo Gelar Workshop Jurnalistik Piala Dunia

CNN Indonesia
Selasa, 09 Jun 2026 00:20 WIB
Lembaga Pers Dr. Soetomo menggelar workshop atau lokakarya jurnalistik tentang Piala Dunia di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Senin (8/6).
LPDS gelar workshop penulisan berita Piala Dunia. (CNN Indonesia/ Muhammad Ikhwanuddin)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lembaga Pers Dr. Soetomo menggelar workshop atau lokakarya jurnalistik tentang Piala Dunia di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Senin (8/6).

Kegiatan ini bertujuan mempertajam insting jurnalis dalam menggarap berita menarik seputar Gempita Bola Dunia 2026. Ada tiga panelis dari tiga pewarta kawakan dengan dengan spesialisasi masing-masing dalam agenda ini.

Kepala Redaksi Piala Dunia TVRI, Usman Kansong, menyampaikan pandangan dari lingkup siaran dan rambu-rambu dalam produk pemberitaan. Ia mengatakan, pewarta tetap dapat berkarya meski ada regulasi ketat tentang hak cipta dari FIFA.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Media massa selain pemegang hak siar dibolehkan untuk menggarap video highlights degan durasi hingga 90 detik. Begitu juga dengan penyebutan 'Piala Dunia' dalam narasi berita tanpa menyebut merk lengkap seperti ada 'FIFA'-nya," kata Usman di Jakarta, Senin (8/6).

Usman menyampaikan, penulisan 'Piala Dunia' di badan berita juga dibolehkan. Namun untuk penempatan di judul atau di microsite, pihak FIFA jelas melarang.

"Jadi media massa tetap bisa membuat berita dengan memerhatikan cara-cara tersebut," ucapnya.

Sedangkan Oscar Motuloh, fotografer senior memberikan pandangan baru tentang Piala Dunia dari perspektif gambar statis. Ia menjelaskan foto-foto merupakan bukti sejarah pesta bola dunia serta menunjukkan perkembangan teknologi dalam mengabadikan momen dari arena.

"Kita bisa lihat perkembangan zaman dari foto-foto Piala Dunia sejak 1930 hingga edisi terakhir lewat foto. Meski saat ini era gambar bergerak lewat platform digital, foto akan tetap relevan sebagai produk jurnalistik," ujarnya.

Kemudian penulis dan penguji Uji Kompetensi Wartawan di LPDS Dr. Soetomo, A.A Ariwibowo menjelaskan aspek humanisme dalam menulis berita Piala Dunia. Menurutnya, dinamika zaman menuntut jurnalis untuk membuat produk berita menjadi lebih hidup dengan cerita sisi lain dari sekadar pertandingan.

"Berita straight, data, dan statistik sudah dibabat oleh media besar dan kantor berita di luar negeri. Tugas wartawan di Indonesia adalah mencari celah dari itu. Bisa dari cerita budaya bahkan sejarah."

"Bisa pula jika wartawan punya latar belakang arsitek misalnya. Dia dapat menceritakan stadion Piala Dunia dari sudut pandang arsitektur," tuturnya.

[Gambas:Video CNN]

(ikw/ikw/rhr) Add as a preferred
source on Google