Si Palu Godam Pulih, LavAni Niat Redam 2 Legiun Asing Bhayangkara
Pemain asing Jakarta Lavani Livin Transmedia, Gyoergy Grozer, mulai pulih dan siap dimainkan melawan Jakarta Bhayangkara Presisi di grand final Proliga 2026.
Grand Final Proliga 2026 akan mempertemukan Jakarta LavAni Livin' Transmedia melawan Jakarta Bhayangkara Presisi di GOR Amongrogo, Yogyakarta mulai Jumat (24/4) besok. Ini adalah final keempat berturut-turut bagi kedua tim.
"Pemain semua dalam kondisi alhamdulillah kondisi baik semua. Kemarin juga sempat si Grozer agak sedikit terganggu tapi hari ini, dari kemarin sudah oke semua. Sudah siap untuk di final nanti," kata Asisten pelatih LavAni, Erwin Rusni ditemui saat sesi latihan di GOR Amongrogo, Kota Yogyakarta, Kamis (23/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Grozer yang berjuluk Hammerschorsch atau palu godam itu kondisinya sempat menurun imbas faktor cuaca di Tanah Air yang cukup kontras dengan iklim Eropa.
Erwin juga tak menampik soal performa dan perolehan poin Grozer yang sempat anjlok sejak putaran kedua babak final four karena penurunan kondisi fisik ini.
Dengan seiring pulihnya Grozer, menurut Erwin, maka ini jadi peluang untuk membangun chemistry antara pemain sang pevoli asal Jerman tersebut dengan setter LavAni, Dio Zulfikri.
"Memang sesi latihan ini kita mengklopkan kembali, antara Dio dengan Grozer. Yang saya lihat mungkin memang adaptasinya agak berkurang, agak berkurang untuk menyatukan itu. Dan mungkin hari ini kesempatan terakhir, ya mudah-mudahan bisa, bisa klop lah," harapnya.
LavAni telah mengevaluasi diri berkaca dari hasil grand final Proliga 2025 lalu saat mereka kalah secara dramatis 2-3 dari Bhayangkara.
Sementara untuk laga besok, LavAni menaruh kewaspadaan penuh kepada opposite hitter asal Iran, Bardia Saadat. Bagi Erwin, Saadat ini benar-benar tak bisa disepelekan dan bisa jadi momok bagi tim penantangnya. Demikian pula outside hitter asal Bulgaria, Martin Atanasov.
"Yang dari Iran ini cukup luar biasa sekali. Kalau dia mukul pasti poin. Nah kita adaptasinya gimana caranya di saat dia servis kita harus langsung mati. Karena kenapa? Kalau misalkan dia servis berturut-turut, kita akan bahaya," kata Erwin.
"Gimana caranya pokoknya setelah kita kemarin hasil, hasil evaluasi kemarin, pokoknya pemain si Iran ini harus mati langsung. Itu sih untuk kita antisipasinya itu. Sebenarnya dua-duanya [Saadat dan Atanasov] juga sama sih, mereka punya servis power juga gitu kan. Kalau bisa itu. Kalau yang lain mungkin untuk lokalnya ya 50-50 lah dengan kita lah," pungkasnya.
(kum/nva) Add
as a preferred source on Google