Dewa United Waspadai Afrika dan Artifisial Manila Digger
Pelatih Dewa United, Jan Olde Riekerink, mewaspadai gaya Afrika saat bentrok degan Manila Digger pada perempatfinal AFC Challenge League.
Pertandingan ini akan berlangsung di Stadion Rizal Memorial, Kamis (5/3), mulai pukul 20:30 WIB. Dewa United percaya diri bisa membawa pulang poin dari Manila.
Dalam skuad Manila Digger, terdapat 12 pemain asal Afrika. Rinciannya, sembilan dari Gambia, satu dari Ghana, Kemerun, dan Nigeria. Sudah begitu ada dua pemain asal China dan satu dari Jepang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengacu rekam jejak Manila Digger pada babak grup, starter tim didominasi pemain asal Gambia. Nemun, Riekerink tak khawatir. Ia pernah menangani klub asal Afrika.
"Saya pernah bekerja selama dua tahun di Afrika Selatan, dan banyak pemain mereka berasal dari Gambia. Saya melihat gaya permainan yang sama di sana," kata Riekerink saat jumpa pers.
"Mereka bermain dengan identitas yang jelas, yang juga dibentuk dari akar Afrika para pemainnya. Selain itu, saat di Cape Town City, saya terbiasa menghadapi tim-tim seperti ini."
Tantangan lain yang akan dihadapi Dewa United adalah lapangan artifisial. Pertandingan melawan Manila Digger akan berlangsung di stadion yang berumput buatan.
Ini kontras dengan kondisi sepak bola Indonesia. Tidak ada klub kasta tertinggi Indonesia yang stadionnya menggunakan lapangan buatan. Ini bisa menjadi penghalang.
"Kami akan bermain dalam kondisi yang berbeda, di atas lapangan buatan. Namun, saya rasa dengan latihan kemarin dan hari ini, semoga itu cukup untuk beradaptasi," kata Riekerink.
"Besok [hari ini] kita akan lihat hasilnya bagaimana. Pertandingan ini berjalan dalam dua laga, jadi membuat pilihan strategi demi hasil pertandingan juga penting," ucap pria asal Belanda ini.
(abs/jun)