Reaksi Pengamat Soal Banjir Pemain Diaspora ke Super League
Pengamat sepak bola Indonesia Mohamad Kusnaeni berpendapat ramai pemain diaspora pindah ke klub-klub Super League merupakan proses alamiah.
Para pemain diaspora yang 'pulang kampung' semata-mata ingin menambah menit bermain yang sudah sulit didapatkan di klub-klub luar negeri.
"Saya melihat ini proses yang alamiah ya, artinya pemain-pemain yang pindah (ke klub-klub Liga Indonesia) itu kan umumnya yang tidak mampu bersaing di negara lain, di level klub yang tinggi," kata Kusnaeni dikutip Antara di Jakarta, Selasa (17/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak awal musim 2025, terdapat lima pemain diaspora yang memutuskan untuk bergabung dengan klub-klub di Liga Indonesia seperti Jordi Amat dari Johor Darul Ta'zim (Malaysia) ke Persija Jakarta, Rafael Struick dari Brisbane Roar (Australia) ke Dewa United, Jens Raven dari FC Dordrecht (Belanda) ke Bali United, serta Thom Haye dari Almere City dan Eliano Reijnders dari PEC Zwolle (Belanda) ke Persib Bandung.
Pada pertengahan musim, Shayne Pattynama dari Buriram United (Thailand) bergabung dengan Persija dan Dion Markx dari TOP Oss (Belanda) ke Persib.
Terbaru, penyerang FC Volendam di Eredivisie 2025/2026 atau kasta teratas Liga Belanda, Mauro Zijlstra, telah sepakat dengan kontrak dua setengah tahun bersama Persija serta Ivar Jenner yang meninggalkan FC Utrecht untuk berlabuh di Dewa United.
Kusnaeni mengatakan bahwa umumnya para pemain diaspora tersebut selama ini kesulitan mendapatkan tempat di tim utama sehingga keputusan untuk beralih ke Indonesia merupakan bagian dari upaya mempertahankan kinerja atau performa mereka.
Menurutnya, mereka dihadapkan pada pilihan untuk tetap bermain di Eropa atau negara lain tetapi tidak mendapatkan menit bermain yang cukup atau mencoba bereksperimen di tempat yang baru yang kemungkinan bukan merupakan zona nyaman tetapi ada kesempatan lebih besar menambah menit bermain.
"Karena pemain itu kalau kelamaan tidak bermain, hanya duduk di bangku cadangan itu kemampuannya menurun," katanya.
Lebih lanjut, Kusnaeni pun membedakan para pemain diaspora yang berlabuh di klub-klub Indonesia yaitu pemain yang sudah melewati masa produktif atau usia emas seperti Jordi Amat (33 tahun), Thom Haye (31 tahun), dan pemain yang belum mencapai usia emas seperti Jens Raven (20 tahun) dan Mauro Zijlstra (21 tahun).
Para pemain yang masih muda, kata dia, sedang dalam proses memulai karier di level profesional namun juga kesulitan mendapatkan tempat di klub sebelumnya, sehingga berpindah ke Indonesia bisa menjadi "batu loncatan" untuk karier mereka.
"Jadi mereka bisa menambah menit bermain, meningkatkan performa mereka supaya bisa bermain atau bersaing di Eropa atau tempat lain," katanya.
Kusnaeni mengakui perpindahan para pemain diaspora yang ramai memunculkan anggapan sebagian orang bahwa langkah tersebut justru terbalik dengan tujuan pemain-pemain Indonesia untuk bisa bermain di luar, terutama di Eropa.
Namun, setiap pemain membutuhkan kesempatan untuk berkembang. "Para pemain diaspora yang masih muda kalau bertahan terus di Eropa belum tentu bisa berkembang atau survive, karena kalau di bench terus maka karier tidak akan berkembang," katanya.
(jun)