Tragedi Mei 1998 di Jakarta dalam Memori Kiper Timnas Kanada

CNN Indonesia | Rabu, 22/05/2019 14:56 WIB
Tragedi Mei 1998 di Jakarta dalam Memori Kiper Timnas Kanada Erin McLeod pernah tinggal di Jakarta. (Rich Lam/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kerusuhan Mei 1998 tidak hanya menjadi memori kelam bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga penjaga gawang timnas sepak bola putri Kanada, Erin McLeod.

Dilansir dari The Players Tribune, perempuan kelahiran 26 Februari 1983 berbagi kisah ketika tinggal di Indonesia pada usia 14 tahun. Di Indonesia, merasakan pengalaman yang tak akan pernah ia lupakan.

"Saya berkendara dengan sebuah mobil dalam sebuah perjalanan yang paling 'gila' di hidup saya. Saya baru saja tiba di sebuah tempat yang sama sekali saya tidak ketahui. Di sebelah kiri saya lihat gedung seperti yang ada di Kota Gotham."


"Di sebelah kanan, saya melihat orang-orang tinggal di sebuah kotak kardus. Saya melihat sampah dibakar sembarangan. Saya melihat sistem pembuangan sampah terbuka yang membentang di sepanjang jalan dan orang-orang mandi di sebelahnya dengan air yang jelas kotor," kata peraih medali perunggu dalam Olimpiade Musim Panas di Inggris pada 2012 tersebut.

Tragedi Mei 1998 di Jakarta dalam Memori Kiper Timnas KanadaMcLeod pernah menjadi kapten tim Jakarta All Star U-15. (Photo by JOHN MACDOUGALL / AFP)
Pemandangan dari bandara ke rumah tersebut sekaligus memberi ucapan 'selamat datang' kepada McLeod yang baru saja tiba di Jakarta. Hal itu hanya permulaan, perkenalan pertama dengan Indonesia yang menjadi tempat tinggal sementara McLeod selama dua tahun.

"Pindah dengan keluarga saya ke Indonesia adalah sebuah keadaan yang mengejutkan bagi seorang anak kecil dari Kanada. Saya pernah mendengar hal tentang negara berkembang, tapi saya tidak mengerti bagaimana sebenarnya mereka hidup. Perjalanan saya paling eksotis adalah ke Prancis," ucap dia.

McLeod dan dua saudara perempuan serta orang tua pindah ke Jakarta. Mereka pindah setelah ayah McLeod yang berprofesi sebagai seorang insinyur dalam bisnis perminyakan mendapat pekerjaan di ibu kota Indonesia.

"Saya tidak tahu ekspektasi tinggal di sana [Indonesia]," ucapnya melanjutkan.

Tragedi Mei 1998 di Jakarta dalam Memori Kiper Timnas Kanada
Rumah keluarga McLeod dibatasi dengan pagar. Mereka memiliki juru masak, supir, dan tukang kebun yang dibayar ratusan dolar per bulan.

Setiba di Indonesia, McLeod segera mendaftar ke sekolah internasional. Untuk menuju ke sekolah dari rumah, ia melewati sekolah Katolik dan sekolah Islam yang lokasinya bersebrangan.

"Ketika kami lewat menggunakan bus, orang-orang dari kedua sekolah saling melempar batu. Banyak batu. Saya ingat hanya melihat itu dari jendela, kepala saya dipenuhi dengan banyak pertanyaan," ujar pesepakbola yang pernah bermain di liga sepakbola wanita Amerika Serikat, Jerman, dan Swedia itu.

"Di mana saya? Apa yang saya lakukan di sini? Apakah ini kondisi dunia luar [Kanada] yang sebenarnya?" ujarnya dalam hati.

Jakarta mengubah cara pandang McLeod terhadap dunia. Ia masih sangat muda untuk memahami situasi konflik.

Tragedi Mei 1998 di Jakarta dalam Memori Kiper Timnas KanadaErin McLeod menjadi kiper andalan timnas Kanada sejak 2002. (Minas Panagiotakis/Getty Images/AFP)
"Dalam kasus yang sangat ekstrem, rakyat Indonesia mencoba dan berhasil menggulingkan pemerintahan. Ini terjadi pada 1998, dan seluruh kota [Jakarta] terjadi pemberontakan Pada suatu malam, kami [keluarga McLeod] menyaksikan pemberitaan televisi lokal yang menyebut segala sesuatunya dalam kondisi yang baik-baik saja," tutur McLeod.

"Kemudian kami mengganti saluran ke BBC yang seakan berpesan kepada kami untuk segera meninggalkan Indonesia. Jadi, pukul dua pagi, kami pergi ke bandara kecil karena bandara utama [Soekarno Hatta] ditutup. Dalam perjalanan menuju bandara, kami melihat barisan panjang tank berbaris menuju pusat kota," tuturnya mengenang kejadian 21 tahun silam.

McLeod merasa sangat takut. Beruntung, evakuasi ke luar kota hanya sementara sehingga merasakan atmosfer sepak bola wanita di Jakarta. Pengalaman yang menurutnya tidak bagus-bagus amat karena tidak banyak perempuan Indonesia yang bermain sepak bola. McLeod pun harus bermain sepak bola dengan bocah laki-laki.

"Tapi di tahun kedua, saya terlalu tua untuk bermain bersama anak laki-laki. Jadi saya bermain dengan teman-teman perempuan lain yang kemampuan bermain sepak bolanya lebih rendah dari anak-anak laki-laki. Saking buruknya kemampuan pemain perempuan, saya sampai bermain di posisi gelandang," pungkas McLeod.

"Dari situ saya segera menyadari bahwa saya tidak akan mencapai impian saya sebagai seorang pemain sepak bola di Jakarta. Saya benar-benar harus keluar dari sini. Akhirnya, setelah dua tahun di Indonesia, saya pergi untuk tinggal dengan nenek saya di Calgary [Kanada]." (map/jun)


ARTIKEL TERKAIT