Adu Cerdas Solskjaer dan Guardiola di Laga MU vs Man City

CNN Indonesia | Rabu, 24/04/2019 17:55 WIB
Adu Cerdas Solskjaer dan Guardiola di Laga MU vs Man City Manajer Manchester City, Pep Guardiola, akan beradu taktik dengan manajer Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer. (Reuters/Lee Smith)
Jakarta, CNN Indonesia -- Adu cerdik dalam meracik strategi akan diperlihatkan Ole Gunnar Solskjaer dan Pep Guardiola saat Manchester United meladeni Manchester City pada pekan ke-35 Liga Inggris di Stadion Old Trafford, Rabu (24/4) waktu setempat.

Solskjaer dikenal sebagai pelatih yang menganut sepak bola menyerang. Pelatih yang berhasil memberikan dua gelar kompetisi domestik untuk Molde itu fanatik dengan formasi 4-2-3-1.

Solskjaer terkadang mengubah skema menjadi 4-1-4-1 saat bertahan. Ia memadukan formasi 4-2-3-1 dengan gaya counter-pressing dan permainan menyerang yang cair.


Formasi menyerang itu terbukti memberikan hasil positif bagi Solskjaer pada awal kariernya di Man United. Permainan menyerang yang dipadukan dengan serangan balik cepat membuat The Red Devils menjadi tim yang mematikan bagi tim manapun.

Man United bahkan tidak terkalahkan dalam 11 laga beruntun di semua ajang hingga akhirnya takluk 0-2 dari Paris Saint-Germain di leg pertama 16 besar Liga Champions, Februari lalu.

Berbeda dengan manajer Man United era sebelumnya, Jose Mourinho, Solskjaer ingin timnya menekan pemain lawan sejak lawan berada di daerah permainan sendiri. Ketika menekan daerah pertahanan lawan, Solskjaer meminta pemainnya bergerak sesuai skema 4-2-3-1 atau 4-4-2.

Dengan pendekatan seperti itu, Solskjaer berharap pemain belakang lawan kesulitan memberikan bola ke sektor tengah untuk membangun serangan. Strategi ini membuat pemain belakang lawan minim opsi saat ingin memberikan umpan. Hanya saja strategi ini cukup berisiko jika tim lawan bisa keluar dari pressing tinggi para pemain Man United.

Manchester United akan mengandalkanr racikan taktik Ole Gunnar Solskjaer untuk mengalahkan Manchester City. (Action Images via Reuters/Jason Cairnduff)
Strategi pressing tinggi ini juga bisa berjalan baik karena Man United punya pemain yang agresif dan cepat di lini depan. Saat pertama kali menangani The Red Devils, Solskjaer mengandalkan Anthony Martial dan Jesse Lingard sebagai pemain sayap untuk mendukung pergerakan Marcus Rashford di posisi targetman.

Belakangan, strategi itu mengalami perubahan seiring masalah cedera pemain yang menerpa skuatnya. Alhasil, Solskjaer harus beradaptasi dengan pemain yang ada termasuk mengganti formasi menjadi 4-4-2 dengan mengandalkan Romelu Lukaku dan Marcus Rashford di lini depan.

Satu yang paling mencolok dari racikan strategi Solskjaer adalah ia bisa memaksimalkan peran dua pemain yang hampir terlupakan di era Mourinho, yakni Rashford dan Paul Pogba. Keputusan Solskjaer mengubah posisi Rashford dari penyerang sayap ke striker membuatnya lebih produktif dan kini sudah mencetak 13 gol di semua ajang.

Sedangkan Pogba dimainkan sebagai gelandang serang oleh Solskjaer. Di luar performa mengecewakan saat Man United kalah dari Everton, Pogba sedang menjalani salah satu musim terbaiknya dari segi produktivitas dengan torehan 16 gol.

Paul Pogba bermain lebih baik saat Manchester United ditukangi Ole Gunnar Solskjaer. (REUTERS/Andrew Yates)
Strategi ofensif yang dipakai Solskjaer sejatinya sama dengan apa yang diterapkan Guardiola bersama Man City. Manajer asal Spanyol itu memang penggemar berat sepak bola menyerang sejak masih menangani Barcelona.

Perbedaannya, Guardiola memainkan sepak bola menyerang dengan mengandalkan permainan bola pendek atau yang tersohor dengan sebutan 'tiki-taka'. Gaya bermain ini membuat Guardiola mendominasi kompetisi domestik bersama Barcelona, Bayern Munchen, dan Manchester City.

Guardiola pun tergolong inovatif soal taktik bermain timnya. Meski menggunakan formasi standar 4-3-3, pelatih berkepala plontos ini bisa mengubah strategi permainan saat laga berjalan.

Dalam perjalanan kariernya, Guardiola bahkan pernah mengubah skema 4-3-3 menjadi skema sangat ofensif 3-2-5. Biasanya, ia akan menggunakan bek 'palsu' untuk mendukung formasi ini.

Taktik itu pernah diterapkan Guardiola saat Man City bertemu Arsenal pada musim ini. Fernandinho yang diplot sebagai bek tengah bisa berubah peran sebagai gelandang saat The Citizens menguasai bola.

Sergio Aguero tidak lagi menjadi mesin gol utama Manchester City musim ini. (REUTERS/Phil Noble)
Perubahan formasi ini membuat Man City bermain dengan tiga bek sejajar. Kompensasinya di lini serang, Man City menempatkan lebih banyak pemain dengan tipikal ofensif.

Kepintaran Guardiola ini pula yang membuat Man City selalu bisa mendominasi permainan, entah itu menghadapi tim papan bawah, papan tengah, hingga papan atas di kompetisi domestik.

Dari 34 laga di Liga Inggris musim ini, Man City tercatat memiliki penguasaan bola mencapai 65 persen. Sergio Aguero dkk merupakan tim terproduktif dengan 87 gol dan rata-rata mencetak 3,21 gol per laga.

Manajer berusia 48 tahun ini pun bisa menyulap Man City menjadi tim yang tidak bergantung kepada satu pemain pun musim ini. Sering absennya Kevin De Bruyne karena bolak-balik cedera bisa digantikan dengan baik oleh Bernardo Silva.

Situasi yang sama terjadi di sektor bek kiri karena Benjamin Mendy lebih sering absen ketimbang tampil di lapangan sejak direkrut dari AS Monaco. Guardiola mengorbitkan Oleksandr Zinchenko sebagai penerus Fabian Delph yang musim lalu rutin menempati posisi bek kiri.

Guardiola juga membuat Raheem Sterling menjadi tumpuan untuk mencetak gol selain Aguero. Meski berperan sebagai penyerang sayap, pemain asal Inggris itu telah mencetak 23 gol atau hanya terpaut tujuh gol dari jumlah gol Aguero musim ini. (jal/jun)