Putra Permata Tegar Idaman
Menggemari bulutangkis dan mengagumi Roberto Baggio sejak kecil. Pernah bekerja di harian Top Skor dan Jakarta Globe. Kini menjadi penulis di kanal olahraga CNN Indonesia

Mesin Waktu Ahsan/Hendra di All England 2019

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Senin, 11/03/2019 19:45 WIB
Mesin Waktu Ahsan/Hendra di All England 2019 Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan berhasil jadi juara All England. (Oli SCARFF / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Papan skor menunjukkan angka 20-12 untuk keunggulan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan atas Aaron Chia/Soh Wooi Yik di gim ketiga. Ahsan bersiap melakukan servis ke arah Soh Wooi Yik.

Ahsan melepaskan flick serve ke belakang yang mengecoh Soh Wooi Yik. Pukulan Soh membuat shuttlecock melayang ke belakang. Hendra melompat melakukan smes dengan variasi drop shot di antaranya. Pertahanan ganda Malaysia masih solid.

Dalam pukulan terakhir yang dilepaskan Hendra, shuttlecock membentur net dan bergulir ke lapangan Aaron/Soh. Aaron mencoba mengembalikan shuttlecock. Namun shuttlecock yang melayang menyebrangi net langsung disambar oleh Ahsan dengan smes keras. Ahsan/Hendra juara All England 2019!


----------

Kemenangan Ahsan/Hendra di All England terasa meyakinkan, terutama bila melihat skor di dua gim terakhir. Namun di balik itu, ada perjuangan berat yang harus ditempuh oleh juara dunia 2013 dan 2015 itu.

Hendra harus bermain dengan cedera kaki kanan di babak final. Pada gim pertama, Hendra bahkan banyak melakukan kesalahan sehingga ganda Malaysia bisa melesat dan menang telak 21-11. Perbaikan performa Hendra sejak awal gim kedua, ditambah konsistensi Ahsan yang melakukan covering lapangan sempurna sepanjang laga, membuat Ahsan/Hendra mengakhiri pertandingan dengan gelar juara.

Meski menang dengan skor telak di dua gim penentuan, 21-14 dan 21-12, Ahsan/Hendra butuh perjuangan keras untuk bisa menangi laga final. Ganda Malaysia bisa memberikan tekanan kuat, baik di awal gim kedua dan gim ketiga. Tapi ketenangan, jam terbang tinggi, dan mental juara Ahsan/Hendra yang kemudian memberikan perbedaan di paruh akhir dua gim tersebut.

Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan berhasil mengatasi kesulitan yang dialami di final All England.Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan berhasil mengatasi kesulitan yang dialami di final All England. (Reuters/Andrew Boyers)
Di dua gim terakhir penonton disuguhkan kehebatan Hendra dalam penempatan kok yang beberapa kali membuat lawan mati langkah, juga tentang kerasnya smes Ahsan yang membuat pertahanan ganda Malaysia gagal mengembalikan bola.

Ahsan/Hendra juara All England 2019, seolah melihat mereka melalui masa dengan mesin waktu. Sebelum Hendra mengalami cedera di babak semifinal, penampilan Ahsan/Hendra serupa masa-masa terbaik mereka di periode 2013-2015 ketika memenangi banyak turnamen besar, mulai dari Kejuaraan Dunia hingga Asian Games.

Di All England 2019, Ahsan/Hendra lolos ke final tanpa kehilangan satu gim pun. Mereka bisa menaklukkan lawan-lawan dengan pembacaan strategi yang bagus. Ahsan/Hendra sulit dihentikan dalam permainan cepat, namun juga tetap berbahaya ketika beradu serangan lewat reli panjang ataupun bermain drive.

Ahsan dan Hendra jelas tidak lagi muda. Tahun ini Ahsan akan 32 tahun, sedangkan Hendra bakal berumur 35. Melihat mereka di podium tertinggi All England 2019, jelas rasa tak percaya yang lebih mengemuka.

Ahsan/Hendra adalah ganda putra terbaik Indonesia di periode 2013-2016. Mereka berhasil mengemban tanggung jawab untuk memenangi gelar besar di tiap turnamen yang mereka ikuti, mulai dari Kejuaraan Dunia 2013 dan 2015, All England 2014, dan Asian Games 2014. Sayangnya, performa Ahsan/Hendra justru anti klimaks di Olimpiade Rio 2016 yang merupakan panggung terbesar dalam perjalanan karier mereka.

Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan berhasil menampilkan level permainan terbaik sepanjang gelaran All England.Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan berhasil menampilkan level permainan terbaik sepanjang gelaran All England. (Reuters/Andrew Boyers)
Setelah gagal di Brasil, Ahsan dan Hendra berpisah. Hendra keluar dari pelatnas lantaran sudah mempertimbangkan pensiun dan gantung raket. Ahsan memulai perjalanan baru dengan pemain lain.

Namun di 2018, Hendra kembali ke pelatnas dan kembali dipasangkan dengan Ahsan. Di awal 2019, Ahsan dan Hendra sama-sama memilih keluar dari pelatnas dan merintis karier sebagai pemain independen.

Ahsan/Hendra seolah ingin menciptakan tantangan sendiri agar hal itu bisa jadi motivasi untuk berprestasi. Dengan jadi pemain independen Ahsan/Hendra harus bisa jeli mengatur strategi untuk menentukan turnamen-turnamen yang akan mereka ikuti, tak seperti sebelumnya saat masih jadi bagian dari pelatnas Cipayung.

Kemenangan Ahsan/Hendra di All England 2019 memang mengundang rasa tak percaya, namun keberhasilan mereka berdiri di podium tertinggi bukanlah sebuah kejutan besar sebesar-besarnya.

Dalam daftar unggulan All England, Ahsan/Hendra diplot sebagai unggulan keenam yang berarti mereka memang tetap tampil konsisten dan bisa bersaing di persaingan papan atas dunia. Di Indonesia Masters, Ahsan/Hendra juga mampu melaju hingga babak final sebelum akhirnya kalah dari Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon.

Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan kembali jadi juara All England setelah lima tahun.Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan kembali jadi juara All England setelah lima tahun. (dok. PBSI)
Sejak memilih jalur independen, target Ahsan/Hendra bukan hanya sekadar keliling turnamen dan menjadikan bulutangkis sebagai mata pencaharian. Ahsan/Hendra masih memiliki mimpi untuk lolos ke Olimpiade Tokyo 2020.

Kemunculan kembali Ahsan/Hendra ke permukaan ini tentu akan membuat menarik persaingan perebutan tiket menuju Olimpiade 2020 antara sesama pemain Indonesia. Indonesia memiliki Kevin/Marcus yang telah jadi raja ganda putra dalam dua tahun terakhir dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto yang punya potensi untuk terus melejit.

Persaingan antara ketiga pasangan ini, dan juga pasangan ganda putra di bawah mereka, bakal meningkatkan kualitas ganda putra Indonesia secara keseluruhan. Harapan memiliki dua pasang ganda putra yang jadi unggulan meraih emas Olimpiade di Tokyo pun bisa membumbung tinggi, setelah di dua Olimpiade sebelumnya Indonesia hanya diwakili satu pasang ganda putra.

Kemenangan Ahsan/Hendra juga jelas mengundang nostalgia. Ahsan/Hendra dari masa lalu seolah datang dengan mesin waktu untuk bersaing dengan deretan ganda putra era saat ini.

Padahal yang terjadi adalah Ahsan/Hendra terus menempa diri sehingga mereka masih layak diperhitungkan sebagai lawan berbahaya oleh ganda putra yang lebih muda dari mereka.

Ahsan/Hendra telah berhasil menunjukkan bahwa usia hanya deret angka, bahwa kegigihan bisa berbuah kemenangan, bahwa kepercayan diri dan ambisi tinggi bisa berbuah prestasi.
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS


BACA JUGA