Analisis

Liverpool vs Bayern Seperti Plot Film yang Mudah Ditebak

Ilham Rahmanda, CNN Indonesia | Rabu, 20/02/2019 12:23 WIB
Liverpool vs Bayern Seperti Plot Film yang Mudah Ditebak Laga Liverpool vs Bayern Munchen yang berakhir tanpa gol seperti plot film yang mudah ditebak. (REUTERS/Phil Noble)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bagi para penggila sepak bola pada umumnya, rasanya aneh jika tidak mengharapkan terjadinya banyak gol dan peluang emas dari laga sekelas Liverpool vs Bayern Munchen, apalagi berlangsung di Liga Champions.

Sama-sama mengoleksi lima piala dari ajang Liga Champions, dan dihuni oleh penyerang yang sedang on fire, ini adalah laga para European Royalty yang semestinya bisa memberikan sesuatu yang menghibur. Namun yang terjadi di Stadion Anfield tadi malam adalah antiklimaks.

Baik Liverpool maupun Bayern Munchen sama-sama tidak dapat menciptakan pertandingan sepak bola yang menghibur seiring dengan tak terciptanya gol atau bahkan peluang emas yang dapat membuat penonton sejenak berhenti bernapas.


Sesungguhnya, indikasi jika duel ini bakal berlangsung membosankan sudah terlihat sejak sepuluh menit pertama. Meski terlalu prematur untuk menyimpulkan, dalam periode tersebut, baik Liverpool maupun Bayern Munchen tidak benar-benar membuka ruang untuk menciptakan peluang.

Kedua tim lebih banyak berkutat di lini tengah dengan memainkan umpan-umpan pendek dan justru sesekali bola kembali dioper ke lini belakang.

Liverpool menghadirkan trio Jordan Henderson sebagai holding midfielder yang didampingi Gini Wijnaldum dan Naby Keita. Sementara Bayern Munchen memasang Javi Martinez dan Thiago Alcantara sebagai double pivot, menyokong Serge Gnabry, James Rodriguez, dan Kingsley Coman sebagai gelandang serang.

Dari heatmaps yang ditampilkan Whoscored, terlihat jika Bayern berusaha menghindari duel di bagian tengah sepertiga pertahanan Liverpool dan memilih melancarkan serangan di sayap.

Serge Gnabry memang kerap merepotkan Andy Robertson yang berjaga di sisi kiri lini belakang The Reds. Namun, operan akhir Gnabry kerap patah atau aksi dribelnya seringkali mampu dipotong oleh pemain Liverpool yang lain.

Meski menguasai jalannya pertandingan pada 20 menit pertama, para gelandang Bayern Munchen tetap terlihat kesulitan memberikan umpan matang kepada ujung tombak Robert Lewandowski. Sepanjang babak pertama, penyerang asal Polandia ini hanya sekali melakukan percobaan tembakan. Ia pun tercatat tiga kali kehilangan bola.

Penampakan heatmap dari Whoscored. (Penampakan heatmap dari Whoscored. (Foto: Scree shoot/Whoscored)
Di saat Javi Martinez dan Thiago terlalu sibuk berduel dengan gelandang pekerja Liverpool, tak banyak yang bisa dilakukan James Rodriguez sebagai pengatur serangan. Lewandowski pun lebih banyak melakukan pergerakan tanpa bola dan tidak benar-benar mengancam pertahanan Liverpool.

Padahal lini belakang Liverpool juga tidak sedang dalam kondisi terbaik. Mereka kerap gugup saat pemain Munchen sudah mulai mendekati area kotak 16. Bahkan sempat terjadi kesalahan individu ketika Joel Matip yang bermaksud membuang bola dan justru memantul ke dada penjaga gawang Alisson Becker. Namun peluang emas yang dinanti para fans Munchen tetap tak tercipta.

Liverpool yang Bingung

Jika pertandingan ini dinilai atas dasar bentuk kerja sama tim dan metode operan antar pemain, Liverpool tentu keluar sebagai pemenang. Rasanya tak perlu ada yang meragukan kemampuan skuat Juergen Klopp dalam menciptakan transisi yang begitu sempurna dari formasi bertahan ke menyerang.

Hal ini pun kembali tersaji dalam laga dini hari tadi. Namun hanya sampai di situ kehebatan Liverpool. Pasalnya ketika memasuki lini pertahanan Munchen, lini depan The Reds justru terlihat bingung.

Serangan Liverpool kerap diawali dari keberhasilan para pemain seperti Trent Alexander-Arnold, Jordan Henderson, atau Andy Robertson dalam memotong operan pemain Munchen yang dilakukan di area sepertiga pertahanan mereka. Bola kemudian diberikan kepada Keita atau Wijnaldum. Salah satu dari mereka kemudian mencoba melakukan dribel sambil melihat posisi trio Sadio Mane, Roberto Firmino, dan Mohamed Salah di kotak penalti lawan.

Masalah terjadi saat bola sudah tiba di kaki dari salah satu trio lini depan Liverpool. Ketiganya terlihat bingung membuka pertahanan Munchen yang mengakibatkan operan mereka seringkali tidak tepat sasaran. Padahal setali tiga uang dengan pertahanan Liverpool, jajaran bek Munchen juga tidak sepenuhnya tampil solid. Kesalahan operan beberapa kali ditampilkan oleh mereka.

Pun ketika mereka sudah menerima operan terakhir di depan gawang Manuel Neuer, penyelesaian akhir lini depan Liverpool justru tak bertaji.

Sadio Mane adalah contoh nyata dari pernyataan di atas. Tak ada pemain dari kedua tim yang layak menyandang status sebagai pemain terbaik sekaligus terburuk dari laga semalam selain Mane.

Sadio Mane tercatat sebagai penyerang Liverpool dengan jumlah tembakan terbanyak di laga itu. (Sadio Mane tercatat sebagai penyerang Liverpool dengan jumlah tembakan terbanyak di laga itu. (Action Images via Reuters/Carl Recine)
Sang penyerang Senegal tercatat sebagai pemain dengan jumlah tembakan terbanyak, yaitu sebanyak empat kali, dengan satu yang mengarah tepat ke gawang. Namun statistik lainnya juga mengatakan jika Mane menjadi pemain yang paling sering kehilangan bola.

Jika Anda tak sempat menyaksikan laga ini, Anda bisa membayangkan skema yang tertulis di atas terjadi cukup sering dan membuat pertandingan tak lagi menarik.

Memasuki paruh akhir babak kedua, laga hampir sepenuhnya dikuasai Liverpool.

Tapi, sama seperti sebuah film dengan plot dangkal yang sudah bisa ditebak akhir ceritanya, laga semalam pun demikian. Skenarionya kurang lebih akan seperti ini: Bola dari kaki Thiago atau James Rodriguez berhasil direbut Henderson yang kemudian meneruskannya kepada Wijnaldum.

Salah pun sudah menunggu di sisi kanan. Saat menerima bola dan mencoba masuk, operan atau aksi dribelnya dapat dipatahkan oleh Mats Hummels atau Niklas Sule.

Hal di atas terjadi beberapa kali dengan lakon yang berbeda-beda.

Jalannya pertandingan jadi semakin jelas terbaca. Anfield yang biasa bergemuruh pun menjadi senyap. Sungguh sebuah malam yang membosankan. (bac)