Analisis

Awas Barcelona, Real Madrid Sudah Lupakan Ronaldo

Ahmad Bachrain, CNN Indonesia | Minggu, 10/02/2019 09:03 WIB
Awas Barcelona, Real Madrid Sudah Lupakan Ronaldo Real Madrid sudah mulai bisa melupakan Cristiano Ronaldo dan bisa jadi sinyal bahaya bagi Barcelona. (REUTERS/Susana Vera).
Jakarta, CNN Indonesia -- Tanpa kehadiran Cristiano Ronaldo, Real Madrid semakin terang-benderang menunjukkan tanda-tanda kebangkitan mereka.

Indikasi yang paling jelas adalah ketika Los Blancos mempermalukan Atletico Madrid 3-1 di markas lawannya itu, Stadion Wanda Metropolitano pada lanjutan La Liga Spanyol, Sabtu (9/2) waktu setempat.

Ini menjadi kemenangan pertama Madrid atas Atletico di Wanda Metropolitano di La Liga Spanyol setelah pada pertemuan sebelumnya di stadion itu berakhir imbang.


Madrid tampaknya sudah melupakan rasa getir kehilangan Cristiano Ronaldo yang hengkang ke Juventus. Tentu saja hal ini jadi alarm bagi rival utama mereka, Barcelona.

Pasalnya, Madrid sebelumnya selalu di bawah bayang-bayang bintang asal Portugal tersebut. Buktinya pada awal-awal laga performa Los Blancos anjlok tanpa kehadiran mesin golnya tersebut.

Madrid bahkan sempat berada di posisi kesembilan klasemen sementara La Liga usai dihajar Barcelona 5-1 di Stadion Camp Nou pada pekan ke-10.

Total enam kali kekalahan diderita Los Blancos membuat mereka sempat jadi pesakitan.

Real Madrid mampu menahan imbang Barcelona 1-1 di Stadion Camp Nou pada leg pertama semifinal Copa del Rey. (Real Madrid mampu menahan imbang Barcelona 1-1 di Stadion Camp Nou pada leg pertama semifinal Copa del Rey. (Foto: REUTERS/Sergio Perez)
Kondisi itu membuat Julen Lopetegui yang sempat menangani El Real terdepak dari jabatan pelatih di skuat itu. Diambil alih Santiago Solari yang pernah bekerja di bawah Zinedine Zidane mengurusi tim cadangan, kondisi tim itu tak langsung membaik.

Butuh rentetan drama di antara para pemain Madrid untuk bangkit. Bahkan, sejumlah pemain sempat meratapi kepergian Ronaldo yang membuat mereka anjlok.

Perlahan tapi pasti, Madrid mulai merangkak dari keterpurukan. Tepatnya saat Madrid mengalahkan Sevilla 2-0 pada pekan ke-20, seolah menjadi awal kebangkitan Madrid.

Sejak kemenangan itu, Madrid belum satu pun mengalami kekalahan dalam dalam tujuh laga ke belakang di seluruh kompetisi. Di La Liga Spanyol, mereka menang lima kali beruntun.

Ujian sesungguhnya bagi Madrid untuk bangkit ketika menghadapi Barcelona pada leg pertama semifinal Copa del Rey di Stadion Camp Nou yang terkenal angker bagi mereka. Jarang sekali El Real selamat di stadion itu, minimal dengan hasil imbang.

Atletico Madrid dikecundangi Real Madrid 3-1 do Stadion Wanda Metropolitano. (Atletico Madrid dikecundangi Real Madrid 3-1 do Stadion Wanda Metropolitano. (REUTERS/Susana Vera)
Solari kemudian menampik prediksi yang menjagokan Barca menang pada laga El Clasico tersebut. Madrid setidaknya mampu menahan imbang Blaugrana 1-1 dengan racikan sang juru taktik.

Menariknya, Solari tetap mematenkan strategi menyerang dengan formasi 4-3-3. Di lini depan, mereka memainkan trio Lucas Vazquez, Karim Benzema, dan penyerang muda Vinicius Junior.

Keberadaan Vinicius yang sempat diragukan, mulai menjadi bahan bakar bagi Madrid di lini depan. Kehadirannya mampu mendongkrak daya eksplosif El Real membongkar pertahanan lawan.

Permainan cepat Vinicius benar-benar merepotkan lawan dengan pergerakannya yang menusuk jantung pertahanan dari sayap. Meski demikian, ia memang belum cukup padu karena beberapa kali salah koordinasi di lini depan.

Madrid juga mampu melewati ujian derby sekota melawan Atletico dengan rapor sangat bagus. Solari nyaris tak mengubah komposisi tim. Di lini depan, ia tetap memasang trio VBV (Vazquez, Benzema, dan Viniciuz) di lini depan.

Tampil bukan sebagai starter, Gareth Bale masih bisa mencetak gol ke gawang Atletico Madrid. (Tampil bukan sebagai starter, Gareth Bale masih bisa mencetak gol ke gawang Atletico Madrid. (REUTERS/Sergio Perez)
Trio tersebut tercatat sudah mengemas 13 gol dari total 40 gol Madrid di La Liga Spanyol. Benzema yang terbanyak yakni 10 gol, Vinicius dua gol, sedangkan Vazquez satu gol.

Belum lagi di lini tengah, keberadaan Casemiro, Luka Modric, dan Toni Kroos masih amat diandalkan dalam menetralkan serangan lawan, sekaligus menjadi lini kedua membantu serangan di depan.

Terbukti Atletico dibuat terkejut setelah gawangnya kebobolan oleh Casemiro di menit ke-16. Itu merupakan rekor kemasukan tercepat yang diderita tuan rumah di Wanda Metropolitano.

Alhasil, Los Rojiblancos menjadi korban kebangkitan Madrid dengan menelan kekalahan 1-3 berkat gol Casemiro, penalti Sergio Ramos, dan Gareth Bale yang masuk menggantikan Vinicius di menit ke-57.

Tak bisa dimungkiri pula, sejumlah kontroversi keputusan wasit membuat kemenangan Madrid sedikit ternoda. Namun, kita juga tak bisa menutup mata upaya berani dan taktis Solari yang justru menerapkan permainan menyerang dengan pola andalan 4-3-3.

Keberhasilan Madrid keluar dari tekanan di 15 menit awal memang menjadi kunci bagi mereka memenangkan pertandingan itu.

Pasalnya setelah itu, Los Blancos balik menekan pertahanan Atletico. Kondisi tersebut menyulitkan tuan rumah dalam menyusun transisi menyerang karena terus ditekan hingga ke pertahanan Atletico.

Berdasarkan catatan Livescore, Madrid bahkan total menguasai permainan hingga 65 persen sepanjang pertandingan!

Dilansir dari Whoscored, Madrid juga lebih banyak melepaskan tembakan yang mengarah ke gawang yakni empat kali. Sedangkan Atletico hanya mampu membuat dua shot on target.

Los Blancos juga hanya menciptakan lima kali tembakan melenceng jika dibandingkan Atletico yang mencapai sembilan kali percobaan tak menemui target.

Manajemen Krisis Santiago Solari

Lagi-lagi, kecekatan Solari dalam manajemen krisis tampaknya mulai dirasakan berbuah manis bagi Madrid. Bukan hanya Vinicius yang mulai lebih sering mengisi posisi starter, sejumlah nama yang awalnya jarang dimainkan, diberikan kesempatan untuk tampil.

Sebut saja nama-nama lain seperti Alvaro Odriozola, Sergio Reguilon, dan Dani Ceballos mulai mendapat tempat di skuat Los Blancos.

Solari berani mencadangkan pemain-pemain bintang yang sebelumnya selalu menjadi andalan seperti Marcelo, Gareth Bale, dan Marco Asensio dan menurunkan pemain muda seperti Odriozola, Reguilon, Ceballos, dan Vinicius.

Keberanian dan kepintaran Solari dalam manajemen krisis mulai membuahkan hasil manis. (Keberanian dan kepintaran Solari dalam manajemen krisis mulai membuahkan hasil manis. (REUTERS/Susana Vera)
Khusus untuk Reguilon, ia mulai menjadi pilihan Solari sebagai starter dalam lima laga beruntun di La Liga Spanyol. Perannya mulai menggeser Marcelo di posisi bek kiri.

Terakhir kali Marcelo dimainkan sebagai starter di Liga Spanyol saat Los Blancos kalah 0-2 dari Real Sociedad.

Keberanian pelatih 42 tahun tersebut dalam memarkir pemain berstatus bintang di bangku cadangan. Pilihannya ini seolah menjadi obat pula bagi Madrid untuk keluar dari 'kecanduan' terhadap Ronaldo yang sudah tak lagi di klub tersebut.

Juru taktik Atletico, Diego Simeone pun sepertinya cukup paham ketika ia enggan menjawab pertanyaan terkait efek kepergian Ronaldo bagi Los Blancos jelang laga Derby Madrid tersebut.

Kemenangan El Real di Derby Madrid itu pun sekaligus mengerek posisi mereka ke peringkat kedua klasemen pekan ke-23 Liga Spanyol, menggusur Atletico.

Madrid untuk sementara ini hanya selisih lima poin dari Barcelona di puncak klasemen. Barcelona tentu harus lebih waspada karena Los Blancos mulai membuktikan sudah melupakan Cristiano Ronaldo. (sry)