Analisis

Setelah Era Tontowi/Liliyana Berakhir

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Selasa, 29/01/2019 06:56 WIB
Setelah Era Tontowi/Liliyana Berakhir Lubang besar harus diisi pemain lain setelah berakhirnya era ganda Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Duet Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir resmi berakhir seiring keputusan Liliyana gantung raket. Pemain-pemain muda harus bersiap dan bekerja keras untuk memikul tanggung jawab berikutnya.

Teriakan 'O-wi-Bu-tet!' menggema di Istora Gelora Bung Karno Senayan, Minggu (27/1), pada final Indonesia Masters 2019. Penggemar bulutangkis tak mau melewatkan kesempatan terakhir untuk mengumandangkan kata Owi-Butet ke udara.

Teriakan penuh semangat itulah yang menemani perjuangan Tontowi/Liliyana di laga penutup. Laga terakhir Tontowi/Liliyana tak berkesan sebagai laga yang hanya sekadar seremonial belaka.


Memang panggung terakhir Tontowi/Liliyana adalah panggung yang sesuai dengan karakter mereka. Tontowi/Liliyana berjuang di laga final Indonesia Masters 2019 melawan ganda campuran nomor satu dunia asal China Zheng Siwei/Huang Yaqiong.

Di laga itu Tontowi dan Liliyana berjuang dengan gigih, berjuang keras. Jatuh dan bangun. Ada raut kegembiraan dan juga ekspresi kekesalan saat permainan tak sesuai harapan. Nasihat Liliyana kepada Tontowi terus mengalir, dari awal hingga pertandingan berakhir.

Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir menjalani pertandingan terakhir di Indonesia Masters 2019.Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir menjalani pertandingan terakhir di Indonesia Masters 2019. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Ketika akhirnya Tontowi/Liliyana kalah, barulah wajah Tontowi dan Liliyana terlihat kembali lepas, berpelukan, serta kemudian memberikan lambaian tangan kepada penonton yang tak henti mendukung mereka sejak awal laga.

Setelah pertandingan berakhir Tontowi/Liliyana resmi jadi legenda bulutangkis Indonesia. Mereka pergi dengan capaian medali emas Olimpiade, dua gelar juara dunia, dan tiga gelar All England, serta sederet gelar lainnya jadi bukti kehebatan mereka.

Saat era Tontowi/Liliyana berakhir, maka lubang besar yang mereka tinggalkan kini menganga lebar. Bersama Tontowi/Liliyan nomor ganda campuran jadi andalan Indonesia sejak 2010. Khusus untuk Liliyana, namanya sudah jadi andalan sejak berduet dengan Nova Widianto pada 2004.

Tanpa Liliyana pasukan ganda campuran menghadapi tuntutan untuk bisa tetap jadi salah satu nomor andalan Indonesia. Selama Liliyana membela Indonesia, ganda campuran adalah nomor yang konsisten dijadikan andalan, bahkan ketika empat nomor lainnya mengalami pasang-surut prestasi.

Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja diharapkan bisa menjadi penerus sukses Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja diharapkan bisa menjadi penerus sukses Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. (dok. PBSI)
Menilik nomor ganda campuran saat ini, Hafiz Faisal/Gloria Emanuelle Widjaja dan Praveen Jordan/Melati Daeva adalah dua nama terbaik yang dimiliki nomor ganda campuran.

Hafiz/Gloria ada di peringkat 14 dunia sedangkan Praveen/Melati duduk satu peringkat di bawah mereka. Dua nama ini yang jadi ganda prioritas untuk bisa lolos ke Olimpiade.

Demi bisa meloloskan dua nama ke Olimpiade, maka kedua ganda tersebut harus berada di zona delapan besar pada akhir penghitungan poin nantinya. Selain demi lolos kualifikasi, peringkat yang ada di akhir nanti bisa jadi tolok ukur kapasitas Hafiz/Gloria dan Praveen/Melati jelang Olimpiade 2020.

Melihat peta persaingan di nomor ganda campuran, Hafiz/Gloria dan Praveen/Melati punya kualitas untuk bersaing dan melesat ke papan atas. Keempat pemain itu punya bakat yang bagus dan sudah terbukti di beberapa kesempatan. Mereka tidak kalah dengan ganda campuran yang saat ini memiliki peringkat di atas mereka.

Saat ini mungkin hanya Zheng Siwei/Huang Yaqiong yang punya kemampuan jauh di atas ganda campuran lainnya. Sementara untuk pemain lain di zona lima besar tidaklah berada dalam posisi 'tak tersentuh'.

Pelatih ganda campuran PBSI, Richard Mainaky, pasti akan mendorong Hafiz/Gloria dan Praveen/Melati untuk bisa bersaing dengan ganda campuran lainnya. Hafiz/Gloria dan Praveen/Melati kini bakal berhadapan langsung dengan tekanan-tekanan sebagai ganda campuran andalan Indonesia.

Praveen Jordan/Melati Daeva salah satu pasangan andalan Indonesia saat ini di ganda campuran.Praveen Jordan/Melati Daeva salah satu pasangan andalan Indonesia saat ini di ganda campuran. (dok. PBSI)
Dua pasang ganda ini sendiri berada di umur yang matang untuk dipercaya sebagai wakil Indonesia di Olimpiade. Mereka sudah punya jam terbang yang tinggi. Kelebihan lainnya, mereka punya keistimewaan pernah bertahun-tahun berlatih bersama Liliyana Natsir dari hari ke hari. Pastinya ada banyak pelajaran dan ilmu yang bisa dipetik dan diambil.

Selain Hafiz/Gloria dan Praveen/Melati, Tontowi juga masih akan melanjutkan langkahnya bersama pasangan baru. Untuk beberapa turnamen ke depan, Tontowi bakal berpasangan dengan Winny Oktavina.

Tontowi pun akan memasuki fase baru dalam kariernya sebagai pebulutangkis selepas Liliyana pensiun. Ia akan berada dalam posisi nothing to lose, namun tidak benar-benar santai menjalani sisa karier di usianya yang akan menginjak 32 tahun. Tontowi masih punya tekad untuk bisa kembali lolos ke Olimpiade tahun depan.

Terlepas dari status Liliyana sebagai pemain berkualitas istimewa, Tontowi sudah sukses menunjukkan ia juga termasuk satu pemain terhebat yang pernah dimiliki Indonesia. Tontowi mampu mematahkan keraguan orang-orang saat ia ditunjuk sebagai pasangan Liliyana pada 2010.

Kehadiran Tontowi juga bisa menghadirkan kompetisi yang sengit di tengah-tengah Hafiz/Gloria dan Praveen/Melati. Kompetisi internal yang sengit ini yang bisa turut meningkatkan kualitas permainan.

Teriakan 'O-wi-Bu-tet!' memang tak akan lagi menggema. Namun teriakan 'In-do-ne-sia!' akan terus ada. Selepas Liliyana tidak lagi berdiri di lapangan, pemain-pemain muda yang harus menjawab teriakan tersebut dengan penampilan percaya diri dan penuh keberanian. (har)