Suporter ke Kongres PSSI Dukung Satgas Anti Mafia Bola

CNN Indonesia | Minggu, 20/01/2019 23:45 WIB
Suporter ke Kongres PSSI Dukung Satgas Anti Mafia Bola Suporter demo di Kongres PSSI di Bali untuk mendukung Satgas Anti Mafia Bola berantas para mafia di PSSI. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aksi suporter sepak bola Persid Jember, Yondika Okik Pradana, rela naik motor ke Kongres PSSI di Bali sejauh kurang lebih 264 kilometer untuk mendukung Satgas Anti Mafia Bola Polri memberantas mafia sepak bola.

Yondika juga awalnya ke Bali untuk beremu mantan Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi yang baru saja mundur. Hal itu ia lakukan demi kemajuan sepak bola Indonesia.

"Naik motor [ke Bali]. Berangkat Sabtu malam, sampai pagi. Perjalanan kurang lebih 10 jam dari pukul 20.00 WIB, sampai Bali pukul 05.00," kata Yondika kepada CNNIndonesia.com di depan gerbang Hotel Sofitel, tempat diselenggarakannya kongres tahunan PSSI, pada Minggu (20/1).


"Saya menginap di tempat teman-teman yang merantau di sini. Istirahat sebentar di sana, lalu lanjut ke lokasi kongres."

Demo suporter pada acara Kongres PSSI di Bali. (Demo suporter klub sepak bola pada acara Kongres PSSI di Bali. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama)
Yondika diajak ke sini Bali sekitar dua pekan sebelum kongres. Dari Jember, lanjut dia, ada sekitar lima orang.

Di Bali, pemuda berusia 26 tahun tersebut bertemu puluhan suporter dari daerah lain seperti Bandung, Palembang, Makassar, Kediri, Madura, Surabaya, dan Malang.

Sepak bola yang bersih. Hanya itu tujuan Yondika datang jauh-jauh ke Bali.

"Keinginan saya seperti tema demo kami, berantas mafia PSSI dan mafia bola. Saya harap Pak Krishna Mukti [Wakil Kepala Satuan Tugas Anti-Mafia Bola] menangkap mafia yang masih berkedudukan di PSSI," ucap Yondika.

Sayang, Yondika gagal bertemu Edy. Ia dan puluhan suporter lain tidak diperkenankan masuk area Hotel Sofitel. Kendati begitu pihak kepolisian setempat berjanji untuk menyampaikan aspirasi suporter ke PSSI lewat surat.

Direktur Intel dan Keamanan Polda Bali Kombes Pol Wahyu Suyitno menjelaskan pihak keamanan melarang suporter bertemu perwakilan PSSI lantaran berpotensi mengganggu tamu hotel yang lain.

"Mereka akan membuat surat, nanti besok saya antar ke perwakilan PSSI yang ada di sini. Kami arahkan suporter untuk pulang, dari pada lapar dan kepanasan di sini. Jumlah suporter kalau sesuai izin 100 sampai 150 orang, tapi kelihatannya tadi tidak sebanyak itu," tutur dia.

Edy Rahmayadi menyerahkan sepenuhnya tampik pimpinan PSSI kepada Joko Driyono. (Edy Rahmayadi menyerahkan sepenuhnya tampik pimpinan PSSI kepada Joko Driyono. (Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
Setelah kurang lebih dua setengah jam Eko dan kawan-kawan menunggu di emperan jalan hotel sejak pukul 10.30 waktu setempat, pihak kepolisian setempat memulangkan rombongan suporter.

Sementara itu Dirigen Brigaz Bali Eko Pribadi pun kecewa tidak bisa bertemu Edy. "Tuntutan kami sekarang hanya disampaikan lewat sebatas media. Kami inginnya bertemu langsung," tuturnya.

"Untuk sementara lewat surat cukup, kemungkinan kami akan kawal terus sampai KLB [Kongres Luar Biasa] mendatang," sambung Eko.

Sebelumnya, beberapa sat setelah Edy Rahmayadi mundur pada Minggu (20/1) siang, Krishna Murti mengunggah status dan foto membahas tentang kucing, bakpia, dan kudeta tak berdarah. Unggahan itu pun mengundag ribuan komentar dari para netizan pemilik akun di Instagram.

"Karena sekarang mbahnya Bakpia sudah jadi raja. Telah terjadi kudeta tak berdarah. Kucing saya saja tahu siapa mbahnya bakpia. Mbah, yang kamu lakukan itu jahat, nakut-nakutin voters seolah-olah kalau bukan kamu jadi raja kucing, kucing votersnya akan dikandangin semua karena semuanya pernah makan ikan asing. Padahal kamu biang makelar ikan asin. Kamu yang bagi-bagi ikan asinnya," demikian tulis Krishna Murti di Instagramnya.

[Gambas:Instagram]


(map/bac)