Pengamat: Ada Kerugian Saat Andik dan Ryuji Pulang Kampung

CNN Indonesia | Rabu, 02/01/2019 13:50 WIB
Pengamat: Ada Kerugian Saat Andik dan Ryuji Pulang Kampung Andik Vermansah mengaku mendapat sejumlah tawaran dari Malaysia. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengamat sepak bola Kusnaeni menyesalkan pilihan beberapa pemain Indonesia yang bermain di luar negeri untuk pulang kampung dan bermain di Liga 1 musim depan, seperti Andik Vermansah dan Ryuji Utomo.

Andik dan Ryuji merupakan contoh dari fenomena tersebut. Andik pindah ke Madura United dari Kedah FA, padahal mengaku dapat tawaran klub di Malaysia.

Sedangkan Ryuji balik ke Persija Jakarta dari PTT Rayong FC, padahal klubnya di Thailand itu baru saja promosi untuk musim depan.


"Saya pribadi menyesalkan pemain yang punya potensi bermain di luar negeri, tapi memilih pulang. Apalagi mereka bilang alasan pulang bukan masalah uang. Kalau bukan karena uang, buat saya itu agak keliru," kata Kusnaeni kepada CNNIndonesia.com pada Rabu (2/1).

"Kalau main di luar itu, selain uang, menjanjikan pengalaman dan prestise. Sayangnya itu tidak menjadi pilihan pemain kita. Ini juga jadi 'kerugian' timnas [tim nasional]," ucapnya menambahkan.
Ryuji Utomo memilih pulang ke Indonesia padahal PTT Rayong baru promosi ke divisi teratas.Ryuji Utomo memilih pulang ke Indonesia padahal PTT Rayong baru promosi ke divisi teratas. (Dok. Gabriel Budi)
Kusnaeni mengatakan dengan bermain di luar negeri, hal itu membantu Timnas Indonesia mengenali lawan, baik Thailand, Malaysia, atau negara lainnya.

"Dengan kembali ke tanah air, mereka ketemu pemain yang itu-itu saja. Selain 'merugikan' timnas dengan main di liga domestik, ini menunjukkan kecenderungan [pemain Indonesia] belum banyak yang teruji untuk jauh dari kampung dan keluarga. Selalu ada kecenderungan homesick/rindu rumah dan bermain di zona nyaman," ucap Kusnaeni.

"Usia pemain bola itu pendek, paling hanya sampai 32-33 tahun. Kenapa tidak mengorbankan itu untuk meraih prestasi tinggi? Faktanya, mereka pulang untuk pilih zona nyaman," ucapnya melanjutkan.

Dengan banyaknya bintang yang memilih pulang kampung, hal itu juga membuat keinginan pemain-pemain junior lainnya untuk bermain di luar negeri menjadi surut.

"Andik sukses di Malaysia mendatangkan Evan [Dimas Darmono] dan Ilham [Udin Armaiyn]. Kalau Evan dan Ilham sukses juga, mungkin ada Witan [Sulaeman] dan lainnya. Dengan pulang, itu artinya mempersempit orang lain [klub luar negeri] melihat pemain Indonesia. [Meski] Ini hak mereka yang memutuskan," ujar Kusnaeni.

Kusnaeni menilai keputusan pemain untuk pindah klub tidak lepas dari peran seorang agen. Agen pemain, lanjutnya, harus memiliki visi untuk membangun sepak bola.

Kusnaeni menyayangkan tugas agen yang berasal dari Indonesia selama ini hanya sebatas mencari klub untuk pemain. Ia mengapresiasi agen dari gelandang Lechia Gdansk Egy Maulana Vikri, Dusan Bogdanovic, yang menurutnya berbeda dari agen kebanyakan di Indonesia.

"Kalau mau easy money, jadi agennya Egy sudah enak banget. Saya apresiasi [Bogdaovic] tidak mau easy money, tetapi berpikir ke depan agar pemain Indonesia terbuka jalan untuk main di luar negeri. Agen itu harusnya punya visi dan cita-cita besar," tutur Kusnaeni.
Andik Vermansah memilih pulang dan bermain di Liga 1.Andik Vermansah memilih pulang dan bermain di Liga 1. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
"Kalau jual Evan dan Ilham, itu sama seperti jual kacang goreng di stadion. Tidak perlu agen, jual diri sendiri ke klub besar pasti diterima. Itu namanya easy money. Tapi kalau agen punya visi, agen akan bilang main di Indonesia akan membuat pemain tersebut levelnya sama saja," tuturnya kembali.

Senada dengan Kusnaeni, mantan pemain yang juga pengamat sepak bola Supriyono Prima juga bertanya-tanya dengan keputusan Andik dan Ryuji balik ke Indonesia.

Supriyono mengira Andik dan Ryuji tidak begitu suka dengan kultur di luar negeri. Para pemain itu, ujarnya, lebih mementingkan faktor dekat dengan keluarga.

"Kemudian adaptasi mereka juga repot untuk beralih ke makanan yang belum pernah mereka coba, sangat sulit. Homesick, kemudian budaya. Mereka mungkin berpikir [pulang kampung] supaya lebih dekat terpantau untuk masuk Timnas Indonesia," ucapnya. (map/bac)