Ahmad Bachrain
Ayah dari Nashira Bachrain yang selalu tertarik dengan sisi-sisi humanis di balik fenomena keseharian. Sejak kali pertama berkarier di harian olahraga TopSkor, penulis menceburkan diri dalam dunia olahraga, khususnya sepak bola. CNNIndonesia.com kini menjadi tantangan selanjutnya.

Bhayangkara FC Juara Tentatif dan Lucunya Liga 1

Ahmad Bachrain, CNN Indonesia | Jumat, 10/11/2017 08:30 WIB
Bhayangkara FC Juara Tentatif dan Lucunya Liga 1 Bhayangkara FC juara tentatif, menambah kelucuan kompetisi Liga 1. (Dok. Bhayangkara FC)
Jakarta, CNN Indonesia -- Stand up comedy jadi tren lawakan beberapa tahun terakhir ini. Mulai pengalaman sehari-hari hingga fenomena menggelitik sudah banyak dieksploitasi para comica menjadi bahan ujaran kelucuan mereka.

Mulai kehidupan sejumlah comica yang terus menjomblo, hingga kondisi politik terbaru di Indonesia, jadi bahan stand up para comica macam Raditya Dika, Panji Pragiwaksono, Ge Pamungkas, dan Babe Chabita.

Nah, rupanya ada kenyataan jenaka yang menggelitik baru-baru ini, barangkali bisa jadi bahan bagi para comica. 'Makhluk' itu adalah Liga 1.

Liga 1 dan mungkin satu-satunya kompetisi sepak bola kasta tertinggi Indonesia yang lucu di dunia ini. Bagaimana tidak, baru kali ini ada juara yang dinyatakan belum resmi.

Bhayangkara FC maupun klub sejenisnya macam PS TNI, bukan pula klub yang berbasis kedaerahan.
Juara tersebut adalah Bhayangkara FC. Baru kali ini pula pesta juara kompetisi kasta tertinggi Indonesia tak begitu terasa euforianya. Sepi-sepi saja.

Maklum, sang jawara musim ini memang tidak memiliki basis suporter yang sangat besar macam Persib Bandung, Arema FC, atau Persija Jakarta.

Bhayangkara FC maupun klub sejenisnya macam PS TNI, bukan pula klub yang berbasis kedaerahan. Kebetulan saja mereka bermarkas di dekat Ibu Kota.

Dua klub itu tiba-tiba muncul dalam dua tahun belakangan ini sebagai klub 'reinkarnasi'. Bhayangkara FC hadir setelah merger dengan Surabaya United, dan PS TNI ada usai mengakuisisi saham Persiram Raja Ampat.

Celakanya lagi, sukses bersejarah tim binaan Kepolisian Repulik Indonesia itu malah rama-ramai dirundung di media sosial. Ada pula meme-meme kocak yang berseliweran di media sosial. Salah satunya adalah bakal bermunculan klub sejenis mereka macam Satpol FC, PS Satpam, dan Hansip United.

Salah apa Bhayangkara FC? Jika menengok permainan skuat arahan Simon McMenemy musim ini, performa mereka sebenarnya layak menjadi salah satu kandidat juara.

Kualitasnya disetarakan dengan klub-klub papan atas Liga 1 lainnya musim ini macam Bali United, Madura United, dan PSM Makassar.

Sengkarut pengelolaan Liga 1 yang segera mengantarkan Bhayangkara FC juara, dipercaya sebagai biang keladi bagi sang juara yang dinistakan.

Singkatnya, The Guardians juara sebelum kompetisi berakhir setelah mendapat kemenangan dari Komisi Disiplin PSSI. Pangkalnya adalah 'dosa' yang dilakukan Mitra Kukar ketika menghadapi Bhayangkara FC pada 3 November 2017.
Bhayangkara FC 'memastikan' juara Liga 1 setelah mengalahkan Madura United. (Bhayangkara FC 'memastikan' juara Liga 1 setelah mengalahkan Madura United 3-1. (ANTARA FOTO/Saiful Bahri)
Laga yang berakhir imbang 1-1 itu dipermasalahkan Bhayangkara FC. Pasalnya, Mitra Kukar dianggap memainkan tidak sah, Mohamed Sissoko. Pemain asal Mali itu rupanya masih menjalani hukuman larangan dua pertandingan karena kelakuan buruk di pertandingan sebelumnya.

Mitra Kukar lantas dihukum kalah WO dan denda Rp100 juta. Keputusan Komdis PSSI itu berbuntut pada protes Mitra Kukar, bahkan Bali United.

Naga Mekes protes karena mereka tak menemukan nama Sissoko dalam daftar Nota Larangan Bermain (NLB) sebelum pertandingan. Mereka pun menuding ini merupakan kelalaian operator liga, dalam hal ini PT LIB.

Khusus untuk Bali United, mereka merasa dirugikan karena kemungkinan juara Liga 1 semakin tipis akibat 'pemberian' kemenangan kepada Bhayangkara dari Komdis PSSI itu. Kekhawatiran Serdadu Tridatu pun terbukti. Bhayangkara langsung juara setelah mengalahkan Madura United 3-1, Rabu (8/11).

The Guardians sebenarnya masih menyisakan satu laga lagi lawan Persija Jakarta, sedangkan Bali United menyisakan laga lawan Persegres Gresik United. Namun, hal itu tak berpengaruh lagi.

Seandainya Bhayangkara kalah dari Persija dan Bali United menang. Raihan 68 poin Evan Dimas dan kawan-kawan hanya bisa disamakan Bali United.
Pupus harapan Bali United untuk juara Liga 1 lantaran faktor non-teknis. (Pupus harapan Bali United untuk juara Liga 1 lantaran faktor non-teknis. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Itu artinya Bhayangkara FC yang menang karena secara head-to-head, mereka dua kali mengalahkan tim arahan Widodo Cahyono Putro pada kandang dan tandang.

Belakangan Direktur Operasional PT LIB, Tigor Shalomboboy, mengatakan tak ada kewajiban bagi operator menyampaikan NLB ke klub-klub. Para kontestan Liga 1 itu dinilainya yang harus berinisiatif memilah pemain mereka yang terkena larangan bermain.

Suguhan yang bikin miris dan menggelitik karena tak ada yang mau disalahkan: PT LIB maupun Mitra Kukar. Padahal, keduanya terang-terangan telah teledor.
Anehnya, PT LIB tetap mengirim NLB sebelum pertandingan Mitra Kukar melawan Bhayangkara FC. Mitra Kukar berani memainkan Sissoko berdasarkan surat NLB 212/NLB-LIGA1/XI/2017 yang didapat dari PT LIB tertanggal 2 November 2017.

Dalam surat yang ditandatangani CEO PT LIB Risha Widjaya itu hanya ada nama Herwin Tri Saputra sebagai pemain Mitra Kukar yang dilarang bermain, tidak ada nama Sissoko.

Melalui pernyataan Tigor pula, Bhayangkara FC dinyatakan belum resmi juara Liga 1 2017 karena menunggu Mitra Kukar mengajukan banding ke Komding PSSI. Artinya, Bhayangkara juara tentatif.
Direktur Operasional PT LIB, Tigor Shalomboboy, menyatakan Bhayangkara FC belum resmi juara Liga 1. (Direktur Operasional PT LIB, Tigor Shalomboboy, menyatakan Bhayangkara FC belum resmi juara Liga 1. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H)
Suguhan yang bikin miris dan menggelitik karena tak ada yang mau disalahkan: PT LIB maupun Mitra Kukar. Padahal, keduanya terang-terangan telah teledor.

Masalah klise seperti ini membuat pengelolaan kompetisi yang katanya mulai membaik, kembali dipertanyakan.

Kompetisi Sepak Bola Absurd

Banyak lagi sejumlah kejadian absurd disuguhkan sepanjang kompetisi Liga 1 yang lebih mirip dagelan.

Sebelumnya ada aksi adu bogem dua penggawa Bali United, Stefano Lilipaly dan Sylvano Comvalius pada laga melawan tuan rumah PSM Makassar di Stadion Mattalatta, Senin (6/11).

Perkelahian dua rekan asal Belanda tersebut dipicu dari kemarahan Comvalius yang merasa Lilipaly tak mau membagi bola kepadanya.
Sylvano Comvalius dan Stefano Lilipaly sempat adu jotos sebelum mempersembahkan kemenangan untuk Bali United. (Sylvano Comvalius dan Stefano Lilipaly sempat adu jotos sebelum mempersembahkan kemenangan untuk Bali United. (ANTARA FOTO/Wira Suryantala)
Pada menit ke-40, Lilipaly memang memilih melakukan tendangan melambung ke arah gawang PSM Makassar. Sontak, Comvalius geram. Aksi 'Mixed Martial Art' kedua pemain itu pun berlangsung begerapa detik.

Irfan Bachdim dan beberapa pemain PSM, berusaha melerai, bahkan wasit ikut pula memisahkan keduanya. Anehnya lagi, Serdadu Tridatu mengalahkan PSM berkat kontribusi dua pemain itu.

Satu-satunya gol Lilipaly ke gawang Juku Eja pada lima menit tambahan waktu babak kedua, hasil dari umpan datar Comvalius. Keduanya seketika berpelukan mesra. Ajaib, bukan?

Fenomena absurd tak berhenti sampai di situ. Rombongan Bali United mendapat teror dari para suporter PSM yang mengamuk karena kecewa timnya gagal juara.

Lapangan Stadion Mattalatta sampai dipenuhi ribuan suporter yang turun dari tribune. Gelandang Serdadu Tridatu, I Gede Sukadana, menjadi korban pemukulan salah satu oknum suporter PSM di lapangan.
Irfan Bachdim dan kawan-kawan berlindung di balik tameng aparat keamanan saat rusuh di Stadion Andi Mattalatta. (Irfan Bachdim dan kawan-kawan berlindung di balik tameng aparat keamanan saat rusuh di Stadion Andi Mattalatta. (ANTARA FOTO/Abriawan Abhe)
Laga Persija Jakarta menghadapi Persib Bandung di Stadion Manahan Solo, juga pernah mewarnai cerita konyol di Liga 1.

Para pemain Maung Bandung ngambek dan tak mau meneruskan laga pada menit ke-83. Wasit asal Australia, Shaun Evans, lantas menyudahi pertandingan.

Pangkalnya adalah keputusan wasit asal Australia itu mengusir Vladimir Vujovic yang protes berlebihan setelah sempat diberi kartu kuning usai melakukan pelanggaran.

Keputusan Shaun Evans itu merupakan satu dari sejumlah keputusannya yang dinilai Persib kontroversial. Sebelumnya, ia tidak mengesahkan gol sundulan Ezechiel N'Douassel umpan dari Supardi Nasir pada menit ke-27.
Persib Bandung memilih walkout pada menit ke-83 dan pada saat skor 1-0 untuk keunggulan Persija. (Persib Bandung memilih walkout pada menit ke-83 dan pada saat skor 1-0 untuk keunggulan Persija. (ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha)
Jika melihat tayangan ulang, bola memang sempat masuk ke gawang dan mengenai jaring atas. Hal inilah yang tampaknya menjadi kekecewaan mendalam para pemain Maung Bandung.

Persib akhirnya memilih walkout setelah Persija sempat unggul 1-0 berkat gol penalti Bruno Lopes.

Buntutnya, Komisi Disiplin PSSI dan PT Liga Indonesia Baru saling lempar tanggung jawab terkait kemungkinan konsekuensi Persib yang bisa dianggap mundur dari Liga 1. 

Jika mengutip Pasal 13 ayat 1C Regulasi Liga 1, klub bisa dianggap mundur jika tak melanjutkan pertandingan sebelum berakhir.

Belakangan, Komdis PSSI hanya menghukum manajer Maung Bandung, Umuh Muchtar, larangan beraktivitas di sepak bola Indonesia selama enam bulan dan denda Rp50 juta. Komdis PSSI juga menjatuhkan sanksi denda Rp50 juta dan larangan lima kali bertanding.

Satu lagi keanehan yang pernah terjadi terkait keputusan wasit kontroversial di Liga 1. Tepatnya pada putaran pertama saat Persija Jakarta mengalahkan PS TNI 2-1 di Stadion Pakansari, Cibinong, 8 Juni 2017.
Bruno Lopes mencetak gol keunggulan 1-0 Persija atas Persib melalui eksekusi penalti. (Bruno Lopes mencetak gol keunggulan 1-0 Persija atas Persib melalui eksekusi penalti. (ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha)
Pada pertandingan pekan kesepuluh, wasit Fariq Hitaba sempat meniup peluit dan menunjuk titik putih untuk PS TNI pada menit ke-85.

Dia menganggap bek Persija, Ryuji Utomo, mengenai bola dengan tangan. Namun, Fariq justru membatalkan penalti itu.

Sebabnya adalah ketika ia mengamini permintaan para pemain Macan Kemayoran agar melihat tayangan ulang tersebut. Laga sempat terhenti beberapa menit sebelum penalti dibatalkan.

Wakil Ketua PSSI, Joko Driyono pun pernah angkat suara bahwa sebenarnya aturan yang membuat Fariq memilih keputusan itu belum diterapkan di kompetisi Indonesia.

Meski memang, di beberapa kompetisi di dunia aturan itu sudah berlaku dengan sebutan Video Assistance Referee (VAR).
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS