Liga 3 Musim Depan jadi Sebab Keributan di Liga 2

Arby Rahmat , CNN Indonesia | Kamis, 12/10/2017 21:33 WIB
Liga 3 Musim Depan jadi Sebab Keributan di Liga 2 Beberapa laga di Liga 1 melahirkan tensi tinggi. Di Liga 2, pemandangan itu lebih sering terjadi. (ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Promosi dan degradasi yang terjadi di Liga 2 membuat para suporter 'menggila'. CEO sekaligus Direktur Kompetisi PT Liga Indonesia Baru, Risa Adi Wijaya, menilai hal tersebut menjadi salah satu sebab kerusuhan suporter yang timbul baru-baru ini.

Musim depan, kata Risa, Liga 2 akan mengerucut dari yang sebelumnya 61 tim menjadi 24 tim. Sebagian tim akan ada yang promosi ke Liga 1, tetap di Liga 2, atau degradasi ke Liga 3.

"Kalau saya lihatnya, ini adalah pertama kalinya di mana Liga 2 dikerucutkan menjadi 24. Memang kami sudah prediksi akan terjadi tingkat tensi yang semakin meninggi. Bisa dibayangkan, sebelumnya selama dua tahun tak ada promosi-degradasi," kata Risa kepada CNNIndonesia.com pada Kamis (12/10) petang.

"Tensi tinggi juga karena dua tahun vakum kompetisi [akibat sanksi Menpora dan FIFA]. Sekarang mereka kesenangan tim kebanggaannya bertanding," katanya menambahkan.

Persebaya berlaga di Liga 2 setelah sanksi dicabut PSS dan berjuang promosi ke Liga 1. (Persebaya berlaga di Liga 2 setelah sanksi dicabut PSS dan berjuang promosi ke Liga 1. (ANTARA FOTO/Moch Asim)

Mengenai status Liga 3 akan berlangsung dengan format semi-profesional atau profesional, PT LIB masih menunggu arahan dari PSSI. Yang pasti, lanjutnya, tetap akan ada promosi dan degradasi untuk musim depan.

Menunggu Sanksi Komdis PSSI

Lebih lanjut, Risa mengatakan saat ini sedang menunggu keputusan Komite Disiplin (Komdis) PSSI terkait kekerasan yang lagi-lagi terjadi dalam sepak bola Indonesia.

Yang pertama terjadi belakangan ini adalah tawuran antara pemain Persewangi vs PSBK Blitar di Stadion Kanjuruhan, Selasa (10/10). Keesokan harinya, kerusuhan juga terjadi antarsuporter usai PSMS Medan kontra Persita Tangerang di Stadion Mini Persikabo, Rabu (11/10).

"Untuk kejadian pertama [Persewangi vs PSBK Blitar] itu keputusan Komdis sudah keluar. Intinya pertandingannya sah dan dinyatakan Persiwangi kalah WO dengan skor 3-0, serta denda Rp100 juta atas perilaku buruk," ucap Risa.

Sementara kejadian kedua belum ada keputusan. Saat ini, PT LIB masih mengumpulkan bukti-bukti laporan dari komisioner pertandjngan maupun orang-orang yang berada di lokasi kejadian.

Selain gelaran Liga 1 dan 2, PT LIB juga akan menggelar kompetisi Liga 3 musim depan. (Selain gelaran Liga 1 dan 2, PT LIB juga akan menggelar kompetisi Liga 3 musim depan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
"Segala bukti-bukti tersebut akan diserahkan ke Komdis," ucapnya melanjutkan.

Risa berharap kekerasan sepak bola Indonesia dapat dihentikan, sehingga pertandingan bisa berjalan dengan adil. Ia ingin penonton sepak bola Indonesia bisa menikmati pertandingan dengan perasaan aman dan nyaman.

"[Sepak bola] jangan jadi tempat perseteruan. Tidak sulit sebetulnya untuk menghentikan kekerasan di sepak bola, kami butuh waktu dengan segala macam usaha," ujar Risa.

"Tak hanya pencegahan, tapi juga edukasi. Baik dari tim sepak bola, maupun pengadil di lapangan," ujarnya lagi.

Sementara itu, Chief Operation Officer PT Liga Indonesia Baru (LIB), Tigor Shalom Boboy, memahami keributan yang terjadi di Liga 2. Menurutnya, hal itu merupakan dinamika kompetisi.

Meski begitu, Tigor berpendapat agar semua pihak bisa menahan diri di masa mendatang ketika sedang bertanding di dalam maupun luar lapangan. "Protes tidak berlebihan, menjaga sportivitas di kompetisi," tuturnya. (bac)