Ahmad Bachrain
Ayah dari Nashira Bachrain yang selalu tertarik dengan sisi-sisi humanis di balik fenomena keseharian. Sejak kali pertama berkarier di harian olahraga TopSkor, penulis menceburkan diri dalam dunia olahraga, khususnya sepak bola. CNNIndonesia.com kini menjadi tantangan selanjutnya.

Balada Wonderkid dan Ironi Euforia Timnas Indonesia

Ahmad Bachrain, CNN Indonesia | Jumat, 29/09/2017 07:28 WIB
Balada Wonderkid dan Ironi Euforia Timnas Indonesia Balada 'Wonderkid' dan ironi euforia Timnas Indonesia usia muda. (ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Membahas sepak bola Indonesia tak ubahnya mengulang dongeng. Salah satu cerita yang kerap akrab di telinga adalah talenta-talenta sepak bola usia muda.

Konon, banyak orang-orang luar negeri ini yang kagum dengan bakat alami bocah-bocah nusantara saat bercengkerama dengan si kulit bundar.

Hampir setiap pelatih asing yang berkarier di Indonesia, mengaku terkesan dengan talenta-talenta sepak bola Indonesia.

Mantan pelatih Timnas Indonesia Alfred Riedl dan Ivan Kolev, serta Jacksen Ferreira Tiago yang kini melatih Barito Putera, termasuk di antara yang jatuh cinta dengan sepak bola Indonesia.

Pelatih Timnas Indonesia U-19, Indra Sjafri, juga pernah mengatakan sebenarnya tak sedikit orang-orang luar negeri yang terpincut dengan talenta pemain-pemain muda Indonesia.

Ada pula cerita dari mereka yang pernah membawa rombongan pemain-pemain belia bertanding di kompetisi usia muda luar negeri. Konon lagi, para penggawa cilik itu kerap menjadi momok bagi tim-tim lawan nun jauh di seberang samudera.

Bakat-bakat pesepakbola muda Indonesia kerap menarik perhatian orang-orang luar negeri. Bakat-bakat pesepakbola muda Indonesia kerap menarik perhatian orang-orang luar negeri. (Dok.PSSI)
Baru-baru ini pun para penggawa muda Merah Putih kembali mengundang decak kagum publik sepak bola Indonesia.

Sebut saja di ajang Piala AFF U-18. Timnas Indonesia U-19 yang kembali diasuh Indra Sjafri kembali memantik euforia negeri ini.

Namun, lagi-lagi cerita indah Timnas Indonesia hanya berujung di level usia muda. Di tingkat senior, ceritanya tak semanis itu.
Padahal, Rachmat Irianto dan kawan-kawan gagal juara, bahkan tak sampai ke final ajang tersebut. Perjuangan mereka terhenti di semifinal setelah kalah adu penalti dari Thailand.

Bukan prestasi yang membuat publik negeri ini kagum, melainkan gocekan dan umpan-umpan ciamik pemain Garuda Nusantara yang bikin kesengsem.

Itu dibuktikan pula ketika Timnas Indonesia U-19 menghancurkan Myanmar 7-1 pada perebutan tempat ketiga. Pujian dan julukan setinggi langit disematkan kepada pemain macam Egy Maulana Vikri, sang pencetak gol terbanyak di ajang itu.

Berikutnya Timnas Indonesia U-16 besutan Fakhri Husaini, juga menuai decak kagum. Penampilan mereka di Bangkok, Thailand, juga dipuja-puja.

Aksi Egy Maulana Vikri (kanan) mengelabui para pemain tim-tim lawan dan mencetak gol mengundang decak kagum. (Aksi Egy Maulana Vikri (kanan) mengelabui para pemain tim-tim lawan dan mencetak gol mengundang decak kagum. (Dok. PSSI)
Terlebih kala Sutan Diego Armando Zico dan kawan-kawan mengalahkan tuan rumah Thailand 1-0, langsung berbuah pujian pula. Tak seperti seniornya di Timnas U-19, Garuda Asia memenuhi target lolos ke putaran final Piala Asia U-16 2018.

Namun, lagi-lagi cerita indah itu hanya berujung di level usia muda. Di tingkat senior, ceritanya tak semanis itu.

Jika melihat prestasi di tingkat senior, Timnas Indonesia nyaris tak pernah meraih satu trofi pun. Tak satu pun trofi diraih di ajang Piala AFF, bahkan saat ajang itu masih bernama Piala Tiger sejak 1999 hingga 2004.

Prestasi yang masih dibanggakan hanya emas pada SEA Games 1987 di Jakarta dan 1991 di Manila.

Satu-satunya yang bisa dibanggakan di ajang Piala AFF adalah di level U-18, tepatnya pada 2013. Garuda Jaya kala itu berhasil membuat sejarah meraih Piala AFF U-18 di Sidoarjo untuk kali pertama. Ironis karena sejatinya trofi kompetisi usia muda belum bisa disebut prestasi.

Saat itu publik Indonesia sempat berharap, Evan Dimas dan kawan-kawan inilah bakal menjadi generasi perbaikan di Timnas Indonesia level senior.

Kenyataannya tidak demikian. Indonesia tetap tak kunjung mampu meraih Piala AFF. Bahkan, hanya Evan Dimas yang masuk skuat Timnas Indonesia senior.

Evan Dimas pernah dua kali memperkuat Timnas Indonesia di Piala AFF 2014 dan 2016. (Evan Dimas pernah dua kali memperkuat Timnas Indonesia di Piala AFF 2014 dan 2016. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Berlanjut di Piala AFF 2016, Indonesia juga gagal merebut trofi dan masih sedikit jebolan dari Piala AFF U-18 2013 yang masuk skuat arahan Alfred Riedl waktu itu. Di ajang itu hanya nama Evan Dimas dan Hansamu Yama Pranata, jebolan Timnas Piala AFF U-18 2013 yang masuk skuat.

'Layu sebelum berkembang'. Demikian topik yang kerap jadi perdebatan hangat diskusi dengan teman dan kolega, menyoal para Wonderkid yang pernah bersinar, namun hanya sebentar. Cerita itu berulang dari era Kurniawan Dwi Julianto, Bambang Pamungkas, Boaz Solossa, Evan Dimas, hingga saat ini.

Pertanyaan yang muncul juga selalu berulang: Kenapa cerita hebat para pemain muda itu tak sampai membawa prestasi di level senior?
Kurniawan pernah merasakan atmosfer kompetisi Eropa, tepatnya di FC Luzern pada 1994-1995. Begitu pula Bambang Pamungkas, sempat mencicipi kompetisi Belanda bersama EHC Norad pada 2000 silam.

Hanya Boaz, pemain yang bersinar sejak 2004 dan tak pernah merasakan bermain di kompetisi luar negeri.

Cerita megaproyek PSSI menciptakan SAD Indonesia sejak 2008 hingga 2012 yang menjalani pemusatan latihan di Uruguay pun pernah meramaikan media-media di Indonesia. Namun, kini lagi-lagi hanya menjadi cerita usang belaka.

Pernah ada nama macam Syamsir Alam yang sempat mencuat, namun sosoknya tenggelam saat ini. Belakangan, Syamsir bahkan tak masuh dalam klub-klub kasta tertinggi kompetisi Indonesia.

Timnas Indonesia U-16 memiliki sejumlah talenta hebat saat ini.Timnas Indonesia U-16 memiliki sejumlah talenta hebat saat ini. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)
Mungkin hanya nama-nama macam Novri Setiawan, Vava Mario Yagalo (Persija), Manahati Lestusen (PS TNI), dan Rizky Pellu yang berhasil ke kasta kompetisi tertinggi Indonesia.

Pertanyaan yang muncul juga selalu berulang: Kenapa cerita hebat para pemain muda itu tak sampai membawa prestasi di level senior? Jawabannya tentu tak sederhana karena harus dengan kajian mendalam.

Sederhananya sejumlah problem di sepak bola Indonesia bisa menjadi semacam pemetaan masalah.

Jenjang pembinaan usia muda salah satunya. Berbeda dengan negara tetangga macam Singapura dan Malaysia, termasuk Thailand, Indonesia tak memiliki fondasi pembinaan sepak bola usia muda yang terjenjang sistematis.

Pembenahan saat ini coba dilakukan PSSI melalui Direktorat Pembinaan Usia Muda untuk membangun sistem pembinaan usia muda. Direktur Teknik Timnas Indonesia, Danurwindo, juga tengah mendorong tercipanya filosofi 'Indonesian Way' untuk semacam kurikulum wajib di level pembinaan.

Di level liga, PSSI juga berencana menggelar kompetisi usia muda berjenjang mulai dari U-15 dan U-17 setelah Liga U-19 sudah dijalankan musim ini.

"Ini menjadi kewajiban klub menyediakan tim di tiga jenjang usia muda tersebut sebagai bagian dari syarat club licensing. Jika tak memiliki club licensing, mereka tak bisa main di kompetisi level AFC," demikian tutur Danur.

Danurwindo mengatakan klub memiliki peran penting dalam pembinaan usia muda.Danurwindo mengatakan klub memiliki peran penting dalam pembinaan usia muda. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Kompetisi di liga usia muda U-15 dan U-17 itu sebagai pengisi kekosongan selain Liga U-19 yang harus dijalani klub-klub profesional Liga 1.

Selain itu, PSSI juga akan menguatkan sistem pembibitan para pelatih dengan memasukkan filosofi 'Indonesian Way' dalam 'silabus' pelatihan pelatih-pelatih mulai dari Lisensi C, B, hingga A AFC.

Cara ini diungkapkan Danur sebagai upaya awal agar filosofi itu bisa terlaksana dan dipraktikkan para pelatih, mulai dari sekolah sepak bola, klub amatir, hingga klub profesional.

Tulisan ini tentu bukan ingin membahas panjang lebar tentang 'Indonesian Way'. Maklum, terlalu banyak aspek yang harus dijabarkan satu per satu.

Namun, tak ada salahnya menyitir segelintir saja untuk mendapat sekilas gambaran tentang filosofi yang katanya ingin ditanamkan di sepak bola Indonesia.

Suporter Timnas Indonesia selalu haus terhadap prestasi.Suporter Timnas Indonesia selalu haus terhadap prestasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Semisal mulai dari fase latihan di kelompok usia muda yang dibagi dalam tiga tahap. Urutannya adalah fase pengenalan sepak bola mulai 6-9 tahun, tahap eksplorasi kemampuan individu di usia 10-13 tahun, dan terakhir fase pemahaman permainan termasuk aturan diajarkan pada umur 14-17 tahun.

Belum lagi ada bab khusus tentang ciri gaya permainan yang berusaha ditanamkan sejak usia usia dini. Sederhananya, masih dalam interpretasi Danur, 'Indonesian Way' mencoba menerapkan permainan yang berbasis pada ciri khas Indonesia mulai postur tubuh, kecepatan, hingga determinasi para pemain.

Permainan cepat umpan-umpan pendek dilengkapi umpan panjang serta permainan sayap, jadi salah satu yang coba dimaksimalkan sebagai bagian dari gaya Indonesia.

Kira-kira mirip dengan gaya permainan tiki-taka Spanyol seperti yang juga disinggung Danur. Contohnya bisa dilihat dari gaya permainan Timnas Indonesia di tiga kelompok usia, Timnas Indonesia U-22, U-16 dan U-19.

Jika menyimak sedikit aspek itu, rasa-rasanya memang terlalu sempit filosofi tersebut hanya tertambat pada hal teknis di lapangan.

Lebih dari itu, 'Indonesian Way' seharusnya punya dimensi yang lebih dalam. Seorang ekspatriat asal Inggris, Anthony Sutton, misalnya. Ia pernah menggambarkan 'sepak bola yang Indonesia banget' dalam bukunya 'The Indonesian Way of Life'.

Buku itu merupakan sebuah kesimpulan terhadap pengalamannya selama 11 tahun tinggal di Indonesia, menyaksikan atmosfer luar biasa sepak bola negeri ini. Sutton hingga kini terus aktif mengamati dan mengomentari perkembangan sepak bola Indonesia melalui akun Twitter-nya, @JakartaCasual.


Ada banyak kenyataan 'surreal' dalam sepak bola Indonesia. Banyak keunikan yang hampir tak terjadi di dunia lain yang justru jadi pengalaman lazim sepak bola di negeri ini.

Mulai cerita kontroversial pengambilan kebijakan PSSI daerah dan pusat, budaya kekerasan, euforia kegilaan pendukung dan performa tim di lapangan yang seolah tak berjarak. Koin Bobotoh untuk denda Persib dari Komisi Disiplin PSSI karena aksi koreo save Rohingya oleh para pendukung Persib itu di tribune misalnya, jadi bukti nyata.

Belum lagi 'perdebatan' terus menerus antara merasionalkan tata kelola sepak bola dengan hal berbau di luar logika. Gesekan antara upaya nyata mengurus klub sepak bola profesional dan pemikiran tradisional hingga tataran manajemen, contohnya, bukan hal aneh.

Indonesian Way juga menyangkut keunikan bakat-bakat muda yang menurut seorang kawan, Jacksen Tiago, sebenarnya tak kalah dari negeri kelahirannya di Brasil.

Abduh Lestaluhu salah satu pemain Timnas Indonesia yang berasal dari Tulehu, Maluku Utara. (Abduh Lestaluhu salah satu pemain Timnas Indonesia yang berasal dari Tulehu, Maluku Tengah. (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)
Bagi saya, sepak bola yang Indonesia banget, sampai saat ini memang masih sebatas bakat alam para pemain mudanya. Lihat saja betapa asyiknya para bocah di Tulehu, yang kerap pamer skill dengan menggabungkan aksi olah bola dari berbagai macam pemain kelas dunia macam Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.

Gairah para pemain muda ini untuk menikmati setiap jengkal lapangan dengan permainan apik ini pula, agaknya yang menjadi bahan bakar utama mereka. Itu dibumbui pula dengan mimpi-mimpi menjadi pesepak bola hebat, minimal di level nasional.

Di satu sisi, tak semua fakta 'ganjil' itu pula bisa memberikan sumbangan positif bagi sepak bola Indonesia. Euforia dan kecintaan terhadap klub yang mendarah daging, barangkali jadi energi utama.

Namun demikian, rasa ketidakadilan, budaya kekerasan, intervensi di luar aspek pertandingan, juga terinternalisasi dengan baik bagi mereka yang baru ingin berkarier di sepak bola profesional.

Aturan-aturan yang terus berubah dari setiap era kepemimpinan PSSI, menambah daftar absurd sepak bola Indonesia. Sebut saja aturan wajib bagi klub memainkan minimal para pemain U-23 di Liga 1, yang kemudian dibatalkan di tengah musim.

Tengok saja Jerman. Singkat cerita sepak bola negeri itu maju karena hubungan harmonis antara pemerintah dan federasi sepak bola di sana, bukan sekadar banyaknya uang yang digelontorkan.
Terlalu banyak eksperimen serampangan tanpa basis riset yang kuat terhadap apa yang dibutuhkan untuk kompetisi profesional hingga akhirnya demi kemajuan sepak bola Indonesia.

Belum lagi kenyataan bahwa klub-klub di Indonesia belum sepenuhnya bisa menjamin kemapanan karier pesepakbola. Cerita klub-klub yang menunggak gaji pemain, masih saja terjadi sampai sekarang.

Aspek non-teknis macam ini yang pada akhirnya seolah merenggut masa-masa kesenangan bermain sepak bola yang pernah mereka nikmati. Seperti lingkaran setan, kenyataan absurd ini pula yang belum bisa diputuskan.

Boleh saja PSSI terus mencanangkan sistem penjenjangan sepak bola usia muda, justru bagus. Penekanannya memang terdengar klise selama ini karena selalu berkutat pada hal-hal itu saja.

Manahati Lestusen salah satu pemain jebolan SAD yang cukup bersinar di level senior.Manahati Lestusen salah satu pemain jebolan SAD yang cukup bersinar di level senior. (AFP PHOTO / HOANG DINH NAM)
Wajar, karena salah satu simpul masalahnya memang ada di aspek itu. Namun, sebagus apapun jenjang kompetisi usia muda dihidupkan, tak berjalan baik jika 'kolam utamanya' yakni kompetisi profesional kurang bisa mengakomodasi.

Ibarat tumor, di level inilah segala hal non-teknis harus dijinakkan sehingga tak 'membunuh' kualitas mereka yang pernah bersinar di usia muda.

Butuh jalan panjang untuk memperbaiki hal ini. Pasalnya, diperlukan semua pemangku kepentingan untuk bergotong royong, saling bahu-membahu membangun kompetisi dalam negeri yang kompetitif dan sehat bagi mental pemain.

Wacana untuk mencoba mengupayakan para pemain merumput ke kompetisi luar negeri, terutama Eropa, tak pernah habisnya. Selalu itu saja yang dibahas sejak program Primavera, SAD Indonesia, hingga sekarang.

Andik Vermansah, salah satu pemain yang sukses di luar negeri merumput di klub Malaysia, Selangor FA. (Andik Vermansah, salah satu pemain yang sukses di luar negeri merumput di klub Malaysia, Selangor FA. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/kye/16)
Pasalnya, kenyataannya pun tak sesederhana rencana tersebut. Ide itu pernah diusahakan kepada Evan Dimas di klub Spanyol, Espanyol.

Evan Dimas pun hanya sebatas trial karena kemudian ia mengalami cedera. Struktur tulang kaki pemuda kelahiran Surabaya itu dianggap kurang 'compatible' di kompetisi Eropa karena rawan sekali cedera.

Kini giliran Egy Maulana Vikri yang juga diupayakan untuk bisa bermain di Eropa. Agen dari Kroasia pun didatangkan untuk bisa mencarikan klub baginya.

Padahal, upaya tersebut berpeluang terbentur dengan aturan hingga kenyataan industri sepak bola di kompetisi Eropa yang jauh di atas Indonesia.

Salah satu aturannya adalah regulasi ketat FIFA yang memberikan syarat khusus bagi klub dalam merekrut pemain di bawah 18 tahun.

Terlalu berharap banyak agar Timnas U-19, U-16 dan kelompok usia lainnya berprestasi tinggi, salah satu paradigm paralysis yang bisa membuat sepak bola Indonesia jalan di tempat.
Pemain yang bersangkutan boleh direkrut klub dengan syarat ditemani orang tuanya. Sang orang tua juga bermigrasi ke negara klub tersebut tanpa ada kaitanya dengan urusan sepak bola, harus mencari pekerjaan sendiri di sana.

Okelah jika kerumitan itu bisa diatasi, wacana mematangkan para pemain muda Indonesia di kompetisi luar negeri yang lebih mapan, bisa jadi alternatif. Namun, itu harus sementara karena bukan solusi nyata.

Sembari mengusahakan pencangkokan di luar, para penentu kebijakan juga dapat senantiasa mengarahkan proses panjang 'cetak biru' sepak bola Indonesia.

Salah satu upaya sungguh-sungguh itu tentu bukan dengan cara-cara serampangan. Tak perlu ada lagi eksperimen melalui kebijakan sebagai instrumen untuk meraba-raba mencari yang dianggap cocok. Sebab, yang terjadi selalu sepak bola Indonesia yang setengah jadi.

PSSI, pemerintah, dan pihak mitra bisa pula mendayagunakan basis riset dengan baik misalnya. Mulai dari segi pengelolaan, sains, medis, hingga riset sosial-budaya, tentu harus dilakukan secara--meminjam istilah Antropologis--holistic alias menyeluruh dan saling terkait.

Mengutip pidato Megawati Soekarnoputri baru-baru ini, riset memang mahal, tapi manfaatnya sungguh besar. Melalui riset yang terukur pula setiap kebijakan tak pernah kehilangan arah.

Fakhri Husaini saat mengevaluasi penampilan para pemain Timnas Indonesia U-16 pada sesi latihan. (Fakhri Husaini saat mengevaluasi penampilan para pemain Timnas Indonesia U-16 pada sesi latihan. (ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)
Bahkan, melalui studi-studi mendalam itu pula model kebijakan yang tepat bisa disusun PSSI. Di sinilah pentingnya sinergi antara pemerintah dan PSSI dalam membuka seluas-luasnya saluran riset dari berbagai instansi seperti universitas atau lembaga-lembaga kajian lainnya. Tentu bukan yang abal-abal.

Dengan demikian, hubungan kerja sama induk sepak bola Indonesia dengan pemerintah tidak melulu money capital, namun juga social capital.

PSSI bahkan sekarang punya Sekjen, Ratu Tisha Destria, yang berlatar belakang pendidikan sport science. Tentu bukan lagi perkara sulit untuk mencoba mewujudkan hal tersebut, membuka basis kajian yang saling bersinergi.

Tengok saja Jerman. Singkat cerita sepak bola negeri itu maju karena hubungan harmonis antara pemerintah dan federasi sepak bola di sana, bukan sekadar banyaknya uang yang digelontorkan. Mereka bersama mitra lainnya bisa membangun basis riset yang kuat.

Cara ini memang mahal dan terkesan panjang, tapi layak diupayakan. Sudah waktunya Indonesia tak sekadar membangun fondasi hulu-hilir sepak bola usia muda, hanya berdasarkan imajinasi alias menerka-nerka, melainkan basis kajian yang bisa dipertanggungjawabkan.

PSSI juga tetap harus transparan dan terus mengakomodasi ide-ide segar dalam membangun sepak bola Indonesia. Salah satunya adalah tetap menjangkau seluas-luasnya aspirasi dari daerah-daerah, terutama merangsang pengurus daerah berinisiatif membuat kompetisi usia muda.

Masalah sepak bola Indonesia juga tak bisa dipisahkan dari paradigma para pelaku. Mengutip filsuf sains modern, Thomas Kuhn, paradigm paralysis atau kelumpuhan paradigma, satu dari hambatan kemajuan manusia.

Regenerasi sangat dibutuhkan untuk membentuk Timnas Indonesia senior yang kuat.Regenerasi sangat dibutuhkan untuk membentuk Timnas Indonesia senior yang kuat. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Sederhananya, pemikiran yang dianggap lazim dan sebelumnya dinilai benar, tak disadari justru bisa menghambat kemajuan.

Di sepak bola Indonesia, salah satu 'sesat pikir' tersebut adalah menganggap juara di kompetisi usia muda merupakan capaian prestasi. Perlu diingat, level usia muda merupakan bagian dari proses dan sebenarnya pula mereka tak layak dibebankan harapan berlebihan.

Terlalu berharap banyak agar Timnas U-19, U-16 dan kelompok usia lainnya berprestasi tinggi, salah satu paradigm paralysis yang bisa membuat sepak bola Indonesia jalan di tempat.

Namun, hal ini juga bisa dipahami karena mandeknya prestasi Timnas Indonesia di level senior. Alhasil, publik sepak bola Indonesia mencoba menghilangkan dahaga prestasi ke Timnas junior.

Saatnya bagi kita juga untuk menyegarkan paradigma, biarkan para pemain usia muda bersenang-senang sembari belajar di dalam dan luar lapangan.

Pada masanya nanti, Indonesia tak cuma bangga menjadi kontestan Piala Dunia hanya berstatus sebagai tuan rumah. Namun, Indonesian Way benar-benar diakui sepak bola dunia dan jadi kebanggaan bersama.
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS