Warga Pondok Indah di RW 17 Kelurahan Pondok Pinang, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan Talitha Fauzia Chairunissa memimpin gerakan memilah sampah di wilayahnya.
Peserta Pilah Olah Sampah Heroes 2026 menceritakan proses mengajak warga memilah sampah melalui pembentukan Bank Sampah Hijau 17 yang disambut keceriaan dan antusiasme warga.
Bank sampah tersebut dibentuk pada November 2025 untuk menyambut Instruksi Gubernur No. 5 Tahun 2026 tentang Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami mempersiapkan dari November 2025, kita mulai gerakannya karena ada perluasan dari Bank Sampah RW 14 ditawarkan oleh Sudin LH (Suku Dinas Lingkungan Hidup), kamis sambut dengan baik," ujar Talitha, di Pondok Pinang, Rabu (4/11).
Lihat Juga :![]() PILAH OLAH SAMPAH HEROES Pemberdayaan Perempuan, Posyandu dan Bank Sampah Pasar Minggu |
Setelah bank sampah dan pelaksanaan resmi Ingub No 5 Tahun 2026, Talitha melihat adanya antusiasme dari masyarakat untuk memilah sampah. Antusiasme itu tercermin dalam hasil survei yang Talitha dan timnya bagikan kepada masyarakat.
"Mereka bilang, "Boleh deh, kita juga mau kok pilah organik, anorganik, residu, dan juga e-waste dan B3." Jadi kita sambut juga nih keceriaan dan juga antusiasme dari masyarakat," ucapnya.
Gerakan ini awalnya hanya diikuti oleh sekitar 5-10 warga. Kini jumlah nasabah aktif Bank Sampah Hijau 17 mencapai sekitar 50 warga. Namun, Talitha menyebut nasabahnya tak hanya berasal dari lingkungan Kelurahan Pondok Pinang.
"Yang ikut nyetor di bank sampah kami itu sudah di luar Pondok Pinang, sudah ada ke Lebak Bulus dan Cinere sekalipun, selain juga RW-RW lain yang masih belum memiliki bank sampah sendiri," kata Talitha.
Talitha mengatakan, wilayah tempat bank sampahnya beroperasi terdiri dari masyarakat dengan ekonomi menengah ke atas dan banyak yang merupakan kelompok lansia.
Karakteristik tersebut menimbulkan tantangan tersendiri. Misalnya, masyarakat yang sebenarnya mau mengelola dan memilah sampah, tetapi tidak mengetahui harus memulai dari mana.
"Mereka juga enggak merasa mampu karena mereka merasa, "Kan saya sudah bayar kayak semacam uang bulanan, dikelolalah sama RT dan RW." Di sini kita meng-empower mereka, coba meningkatkan kapasitas dari arah kita kasihkan dengan playbook, petunjuk," tambahnya.
Ajakan berupa pemberian insentif ekonomi juga menurut Talitha tidak terlalu berpengaruh di lingkungannya. Talitha lebih memilih untuk melihat motivasi intrinsik warga, yakni memilah sampah karena mengetahui bahwa hal tersebut memang sepatutnya dilakukan.
Lihat Juga :![]() PILAH OLAH SAMPAH HEROES Pilah-Cacah Sampah hingga Pupuk Organik Ala Pak RT di Malaka Jaya |
Talitha pun menekankan pentingnya pendekatan empati dan edukasi kepada masyarakat. Edukasi secara masif dan berlapis, yang bahkan menjangkau tingkat asisten rumah tangga (ART) dan supir warga, juga dilakukan.
"Selama antusias dan pengin datang, kita tetap menyambut baik. Lalu ada juga yang misalnya mengatakan, "Saya bisa ikut tapi cuma bisa ikutnya bank sampah aja, yang organik nggak bisa." Kita tetap terbuka, jadi kita pendekatannya tetap empati," kata Talitha.
Hasil dari bank sampah ini juga dilaporkan tersalurkan untuk menambah penghasilan satpam hingga tukang sampah setempat.
Talitha berharap bank sampah ini juga dapat berdampak pada pemberdayaan dan kesejahteraan para tukang sampah melalui pendidikan.
Talitha dan empat peserta penggerak Pilah Olah Sampah Heroes 2026 lainnya telah mengikuti tahap verifikasi lapangan hari kedua pada Rabu (4/11). Terdapat total sebanyak 15 peserta yang masuk dalam tahapan ini.
Berikutnya, para peserta akan kembali disaring menjadi 10 peserta yang akan mengikuti tahap penilaian final. Sementara itu, penganugerahan pemenang dijadwalkan untuk berlangsung pada Selasa (10/11) mendatang.
Program Pilah Olah Sampah Heroes 2026 sendiri diadakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik).
Harapannya, program ini dapat memberikan apresiasi kepada para pahlawan lingkungan yang memiliki aksi nyata atau aktif dalam mengajak warga peduli terhadap sampah.
(mou/sur)

