473 Hotspot di OKI Jadi Sumber Kabut Asap Tebal Palembang Pagi Ini

CNN Indonesia
Minggu, 18 Okt 2026 09:55 WIB
Kota Palembang kembali diselimuti kabut asap tebal pada Minggu (18/10) pagi setelah sempat menipis pada Sabtu (17/10) siang.
Sebanyak 473 titik panas dengan 16 di antaranya berkategori high confidence masih terpantau di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, dan diduga menjadi sumber utama kabut asap tebal yang kembali mengepung Kota Palembang pada Minggu (18/10) pagi. (CNN Indonesia/Hanif Khairandi)
Palembang, CNN Indonesia --

Sebanyak 473 titik panas dengan 16 di antaranya berkategori high confidence masih terpantau di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, dan diduga menjadi sumber utama kabut asap tebal yang kembali mengepung Kota Palembang pada Minggu (18/10) pagi.

Data tersebut disampaikan Kepala Seksi Wilayah II Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Didik Suprijono, saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com pada Minggu (18/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Data terbaru pagi ini, 473 hotspot dengan 16 high confidence masih termonitor di Kabupaten OKI," ujar Didik.

Didik menjelaskan, hotspot dengan kategori high confidence memiliki tingkat kepercayaan di atas 80 persen sebagai titik api aktif, bukan sekadar anomali panas. Artinya, titik panas tersebut dipastikan sebagai lokasi kebakaran hutan dan lahan yang masih menyala.

Jumlah hotspot di OKI yang masih tinggi sejalan dengan data akumulatif sebelumnya. Dalam periode 1-16 Oktober 2026, total hotspot di Sumsel tercatat mencapai 33.425 titik, dengan OKI sebagai penyumbang terbanyak yakni 20.367 titik.

Kabut asap tebal kembali menyelimuti Kota Palembang, Minggu (18/10) pagi ini terjadi setelah sempat menipis pada Sabtu (17/10) akibat operasi modifikasi cuaca.

Kemunculan kabut asap tebal ini pun mengganggu aktivitas warga, seperti yang terjadi di kawasan Stadion Jakabaring Palembang. Warga yang sedang joging mengeluhkan mata perih dan sesak napas akibat kabut asap yang kembali tebal sejak pagi tadi.

"Kemarin sehari dua hari cuaca kelihatan cerah, tapi hari ini tebal lagi asapnya," ujar Arinita, warga Palembang yang ditemui di Jakabaring, Minggu (18/10).

"Kami yang berolahraga sesak napas, jarak pandang kurang, susah lah kami olahraga. Tebar dry ice cuaca terang jadi terang kami kira bakal seterusnya tapi hari ini tebal lagi. Kasihan anak-anak sekolah daring, tolong segera diatasi, kasihan juga sudah banyak yang sakit ISPA," katanya.

"Kalau menurut aku kabut asap masih ada lagi. Dari pemerintah harus melakukan kegiatan dry ice harus ditambah," kata warga lainnya, Medi. "Kemarin sempat hilang tapi pagi ini muncul lagi. Memang kabut asap ini sangat mengganggu aktivitas olahraga, seperti mata pedih dan pernapasan."

Di sejumlah ruas jalan, jarak pandang terbatas dan bau asap menyengat tercium hingga ke dalam rumah, seperti yang terpantau si Perumahan Albarian Gandus.

"Ya tebal, saat saya keluar rumah dan mau berjualan asap sangat tebal," kata Yana, salah satu warga yang tinggal di Perumahan Albarian Gandus, kepada CNNIndonesia.com, Minggu (18/10). "Mata perih dan sesak napas."

"Padahal kemarin sudah sedikit berkurang. Kemarin kabut menipis tapi pagi ini sangat tebal," kata warga yang lain, Yudi, seraya menambahkan jarak pandang di wilayahnya hanya sekitar 100 meter akibat tertutup kabut asap.

Berdasarkan data live yang dipantau pada Minggu dini hari hingga pagi, wilayah Gandus mencatat Air Quality Index (AQI) 163 kategori tidak sehat dengan kondisi smoke.

Suhu 27 derajat Celsius, kelembapan 83 persen, dan kecepatan angin hanya 2 km per jam membuat asap cenderung mengendap dan tidak bergerak.

(hnf/end)
placeholder