BNPB: Dry Ice Tingkatkan Jarak Pandang di Sumsel 650 Meter Jadi 2,8 Km

CNN Indonesia
Jumat, 16 Okt 2026 06:57 WIB
People wearing protective masks ride on a three-wheeled vehicle through a road as haze from wildfires shrouds the area in Palembang, South Sumatra province, Indonesia, October 15, 2026. REUTERS/Abriansyah Liberto
Kondisi asap pekat di Palembang. REUTERS/Abriansyah Liberto
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengklaim penyemaian dry ice telah berhasil meningkatkan jarak pandang (visibility) di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel)

Diketahui, BNPB melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) berupa penyemaian dry ice di wilayah Sumsel untuk mengatasi asap imbas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Kamis (15/10).

"Laporan sementara menunjukkan peningkatan visibility di sekitar wilayah penyemaian, yang semula terpantau di kisaran 650 meter menjadi 2.800 meter," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Suar Pelita Panjaitan dalam keterangannya dikutip Jumat (16/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berton menerangkan penyemaian dry ice merupakan metode modifikasi atmosfer yang ditujukan untuk mengurangi konsentrasi asap/polusi. Pada kondisi karhutla, asap yang pekat dapat terperangkap di lapisan atmosfer akibat adanya lapisan inversi.

Kata dia, dalam kondisi normal, suhu udara cenderung semakin rendah di lapisan atmosfer yang semakin tinggi. Namun pada lapisan inversi, kondisi tersebut berubah sehingga atmosfer menjadi relatif stabil dan asap sulit bergerak naik.

"Metode ini ditujukan untuk membantu melabilkan atmosfer sehingga asap karhutla yang terperangkap akibat lapisan inversi dapat bergerak naik dan menyebar, sehingga konsentrasinya berkurang dan visibility meningkat," tutur Berton.

Berbeda dengan material Natrium Klorida (NaCl) yang sering digunakan pada OMC hujan berwujud serbuk halus, material dry ice berbentuk seperti powder/butiran berukuran sekitar tiga milimeter. Dyr ice juga memiliki titik dingin sekitar -75 derajat celcius.

"Metode OMC ini juga tidak bergantung pada ketersediaan awan hujan," ucap Berton.

Disampaikan Berton, untuk mendukung operasi ini, BNPB mengerahkan satu armada Cesna Caravan dengan registrasi PK-SNP.

Pada pelaksanaan awal, dua sorti penerbangan telah dilakukan dengan penyemaian pada ketinggian sekitar 4.500 feet. Masing-masing sortie membawa bahan semai seberat 800 kilogram. Pesawat diterbangkan dari Bandar Udara Raden Inten II di Lampung.

Penyemaian difokuskan di wilayah sekitaran ring satu Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II untuk mengurai mobilitas penerbangan di wilayah Sumatra Selatan.

Rencananya, uji coba OMC dry ice ini akan dilaksanakan hingga 18 Oktober 2026. Setelahnya akan dilakukan evaluasi dan komunikasi lebih lanjut dengan pihak terkait untuk dikembangkan atau diterapkan di wilayah lain yang terdampak karhutla.

Sebelumnya, pemerintah dan aparat gabungan menggelar uji coba penebaran dry ice atau es karbon dioksida padat untuk membantu mengatasi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan.

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Dudung Abdurachman mengatakan uji coba tersebut merupakan tindak lanjut dari instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto untuk mencari solusi dalam menangani kabut asap yang menyelimuti wilayah Sumatera Selatan.

"Uji coba penebaran dry ice ini merupakan instruksi langsung presiden untuk membantu mengatasi kabut asap di Sumatera Selatan. Kita akan melihat hasilnya terlebih dahulu, dan apabila efektif, metode ini berpeluang diterapkan di daerah lain," kata Dudung usai peninjauan tersebut, di Palembang, Rabu (14/10).

Sebanyak 1,5 ton dry ice disiapkan untuk ditebar menggunakan pesawat Cessna di sekitar wilayah Palembang. Pemerintah berharap metode tersebut dapat membantu mengangkat asap sehingga kondisi udara dan jarak pandang masyarakat membaik.

Sebagian material dry ice juga disiapkan di Lampung, sedangkan upaya penanganan karhutla melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) tetap dilanjutkan.

Apabila uji coba di Sumatera Selatan menunjukkan hasil yang baik, metode serupa berpeluang diterapkan di daerah lain yang menghadapi persoalan kabut asap, termasuk Kalimantan Tengah.

(dis/gil)
placeholder