Sejumlah lurah dan juri Benyamin S Award (BSA) 2026 menyampaikan kesan mereka usai mengikuti babak final BSA di Hotel Ascott Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (15/10).
Lurah Kelurahan Sukabumi Utara, Kota Jakarta Barat, Ali Syahidin mengatakan terlepas dari rasa gugupnya, ia masih tetap semangat dan optimis.
"Saya cukup optimis, karena memang bagi kami, saya bukan mengatasnamakan kelurahan, tapi 47.000 warga Sukabumi Utara," ujar Ali usai keluar dari ruangan penjurian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ali menyebut warganya menitipkan sebuah pesan, yakni Sukabumi Utara saat ini sedang bertransformasi menjadi Kampung Wisata Global Budaya Sukabumi Utara. Sehingga, baginya, BSA bukan menjadi tujuan akhir, melainkan sebagai stimulus atau pemantik.
"BSA ini hanya stimulus sebagai pemantik untuk warga lebih giat lagi, lebih semangat lagi untuk mewujudkan lingkungan yang bersih, suasana yang nyaman, indah, pemandangan yang indah, dan sejahtera warganya," ucap Ali.
Optimisme dan rasa gugup juga diungkapkan oleh Lurah Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Henny Mahrojah. Henny awalnya menyebut sempat merasa gugup yang ia alami sebelum menyampaikan presentasi di depan juri.
"Sebelum paparan agak sedikit nervous ya, itu manusiawi. Namun ketika langkah pertama saya, ketika pertama kali saya mengucapkan salam, itu langsung apa namanya atmosfernya beda, semangat langsung mengebu-gebu," ujar Henny.
Usai presentasi, Henny pun merasa lega. Ia menyebut telah mendapat sejumlah catatan dari juri terkait perbaikan lingkungan ke depannya.
Sejumlah lurah dan juri Benyamin S Award (BSA) sampaikan kesan mereka usai mengikuti babak final BSA di Hotel Ascott Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (15/10). (CNN Indonesia/Bernadette Moureen) |
"Catatan pentingnya memang kami ditantang untuk bagaimana membuat wilayah kami menjadi sehat, menjadi indah," katanya.
Sementara itu, para juri menyampaikan kesannya usai menilai presentasi dari sepuluh finalis BSA. Director dan Chief Knowledge Officer Ruang Waktu, Wicaksono Sarosa, mengatakan para lurah finalis sudah mempersiapkan presentasi dengan baik.
"Ada yang sangat baik, impresif, ada yang masih membaca. Tetapi secara umum menyiapkan dengan baik, sesuai dengan arahan," ujar Wicaksono.
Ia pun mengungkap adanya tantangan tertentu yang dihadapi juri ketika proses penilaian. Tantangan ini adalah bagaimana caranya juri dapat menemukan potensi maupun masalah di luar presentasi para lurah.
Benyamin S Award akan mengadakan acara puncaknya pada 30 Oktober 2026. (CNN Indonesia/Bernadette Moureen) |
"Kita harus mencari tahu kira-kira apa hal-hal tertentu yang memang, baik itu masalah maupun potensi yang belum terungkap," ucapnya.
Sedangkan, Pengamat Tata Kota Yayat Supriyatna lebih menyorot terkait keberanian para lurah dalam melalukan inovasi.
"Maju atau mundurnya wilayah itu kan tergantung faktor kepemimpinan. Nah, hari ini kita melihat apakah mereka betul-betul ada keberanian melakukan inovasi atau mengikuti aturan," kata Yayat.
Dalam babak final Benyamin S Award 2026, Yayat berupaya melihat bagaimana keberanian para lurah dalam menggerakkan masyarakat. Sehingga, harapannya, perubahan tak bergerak dari kekuatan aparat, melainkan kekuatan dari masyarakat.
Setelah melewati rangkaian seleksi awal, festival, hingga presentasi final, Benyamin S Award akan mengadakan acara puncaknya pada 30 Oktober mendatang.
(mou/har)

