Kabut asap tebal melanda Palembang, Sumatera Selatan, akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), mengganggu jarak pandang dan kesehatan warga. Kualitas udara mencapai level berbahaya.
Ina, salah satu warga Kecamatan Plaju, Palembang Selatan, mengaku merasakan puncaknya kabut asap terjadi pada dini hari, Kamis (15/10).
"Tapi puncaknya tadi pagi jam 1 an itu sudah mulai. Udah mulai tebal kabutnya tuh. Mau buka jendela, waktu subuh, sampai aku bilang, astagfirullahaladzim, kayak... gimana ya? Kayak negeri di atas awan. Tapi di bawah awan deh kayaknya ini," ucap Ina saat dihubungi CNNIndonesia.com, pada Kamis (15/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saking tebalnya asap, Ina mengaku jarak pandangnya terganggu. Bahkan hanya dapat melihat kendaraan dari lampu sorotnya saja.
"Jadi kan kita kan masuk gang, keluar rumah itu, motor aja enggak kelihatan. Kan ada rumah sekolah juga, tuh di situ, motor, mobil enggak kelihatan. Kalau... ngeliatnya cuma ada sinar lampu aja dari motor sama mobil itu," ucapnya.
Menurutnya, untuk keluar rumah wajib pakai masker dan kacamata untuk melindungi diri dari bahaya kabut asap.
Selain itu, Ina juga merasa bahan pangan di pasar harganya lebih mahal, sebab karhutla yang menyebabkan kekeringan di wilayahnya membuat para petani gagal panen.
Lihat Juga :![]() Kabut Asap Pekat Selimuti Palembang, Jarak Pandang Hanya 10 Meter |
"Tanah panas, enggak ada angin. Kita di sini kayak di pasar itu, sayur-sayur tuh pada mahal semua, mereka gagal panen," ucapnya.
Ina merasa hampir sebulan kabut asap selimuti langit Palembang, namun belum ada bantuan dari pemerintah. Menurutnya, karena ia tinggal di kecamatan yang jauh dari Kota Palembang.
"Cuma kalau di daerah kita kan Plaju, kalau kita seberang Ampera tuh kan Palembang masuk, ada pembagian masker gratis gitu kadang. Tapi enggak, enggak selalu sih kayak gitu. Enggak ada sama sekali, jadi kita sendiri sedia [masker]," ungkapnya.
Selain Ina, salah satu warga yang tinggal di Kota Palembang, Inggit, juga merasakan hal yang sama. Kamis (15/10) dini hari, menurut Inggit, merupakan puncak kabut asap yang sangat tebal.
"Iya, tebal banget hari ini especially ya sangat-sangat tebal sih. Kemarin-kemarin tebal juga, cuman dia enggak setebal hari ini," ucap Inggit saat dihubungi pada Kamis (15/10).
Inggit merasa saking tebalnya asap, ia dapat menghirup asap meskipun berada di dalam ruangan.
"Kita sama sekali enggak ada ventilasi keluar kan, kecuali pintu. Tapi karena saking besar, tapi karena saking tebalnya, jadi di dalam ruangan tuh agak berasa gitu, bau asap," katanya.
"Jadi asapnya tuh benar-benar masuk ke rumah, jadi bingung kalau misalnya enggak ditutup, asap. Tapi ditutup juga pengap, karena panas, gitu kan. Di sini kan panas banget, siang-siang aja tuh suhunya bisa sampai 34-35 derajat," tambahnya.
Inggit menduga puncak kabut asap yang terjadi dini hari tadi disebabkan adanya kebakaran yang terjadi di daerah Tanjung Api-api, dekat Kota Palembang.
"Yang kebakaran di daerah Tanjung Api-api. Nah, Tanjung Api-api itu dekat, enggak terlalu jauh dari kota, makanya sekarang di kota jadi tebal banget asapnya," tambahnya.
Inggit menyayangkan kurangnya sikap dari pemerintah mengatasi karhutla. Menurut pengakuannya, masyarakat sudah banyak yang melakukan unjuk rasa tetapi pemerintah belum memberikan solusi. Inggit mengatakan tidak seharusnya pemerintah malah membuat sayembara alih-alih menyelesaikan masalah.
"Menurut aku kurang sigap karena mereka tuh bukannya mengatasi, kan banyak juga yang mau kan kayak demo-demo gitu. Terus gubernur Sumatera Selatannya malah mengadakan sayembara untuk siapa yang bisa menemukan yang membakar [karhutla] dikasih 10 juta, malah kayak begitu," ucap Inggit.
Kualitas udara kategori sangat berbahaya
Kualitas udara di Palembang menunjukkan kondisi berbahaya dengan indeks kualitas udara (AQI) mencapai 1.914 pada Kamis (15/10) pukul 06.00.
Konsentrasi polutan utama berupa partikel halus PM2.5 tercatat mencapai 1.035 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Berdasarkan data di aplikasi IQAir, tingkat pencemaran tersebut masuk kategori Hazardous atau berbahaya. Data pemantauan itu bersumber dari stasiun Greenpeace Indonesia.
Selain tingginya konsentrasi PM2.5, data pada aplikasi menunjukkan suhu udara berada di angka 22 derajat Celsius, kecepatan angin 6 kilometer per jam, dan kelembapan mencapai 96 persen.
PM2.5 merupakan partikel polutan berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru. Paparan dalam konsentrasi tinggi berisiko menimbulkan gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan atau jantung.
(knf/isn)
