Orang utan bernama Novita mengalami luka bakar serius setelah terjebak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Meski berhasil dievakuasi, empat ruas jari kakinya tidak dapat diselamatkan akibat luka yang dideritanya.
Novita kini menjalani perawatan intensif di Pusat Rehabilitasi Orang Utan BOS Nyaru Menteng. Tim medis menyebut kondisinya mulai menunjukkan perkembangan, meskipun sejumlah jaringan pada kaki dan tangannya telah mengalami kematian.
Berdasarkan dokumentasi BOS Nyaru Menteng, Novita diduga melakukan self-mutilation atau melukai diri sendiri saat terjebak di atas pohon yang dikepung api dan asap. Tindakan itu diduga sebagai upayanya bertahan hidup, tetapi berujung pada hilangnya empat ruas jari kaki yang mengalami kerusakan parah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Novita ditemukan di wilayah Katune, Kelurahan Banturung, Kecamatan Bukit Batu, Palangka Raya, pada Sabtu (26/9). Saat itu, orang utan yang diperkirakan berusia sekitar empat tahun dengan berat 17 kilogram tersebut masih bertahan di atas pohon.
Di tengah kepungan api dan asap, Novita berusaha menyelamatkan diri dengan memanjat pohon hingga membuat sarang untuk berlindung.
"Di tengah kepungan api dan asap, satu individu orang utan kecil bertahan sendirian di atas pohon. Usianya baru sekitar 4 tahun, dengan berat sekitar 17 kilogram," pernyataan BKSDA Kalteng dalam keterangan di Instagram resmi pada Selasa (28/9).
"Dalam kondisi terluka, ia masih berusaha bertahan hingga membuat sarang di atas pohon," keterangan ditambahkan.
Keberadaan Novita pertama kali diketahui setelah seorang saksi mata melaporkan temuannya pada 25 September. Sehari berselang, Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Kalimantan Tengah bersama BOSF Nyaru Menteng dan tim TNI melakukan evakuasi.
Ketika diselamatkan, Novita telah mengalami luka bakar serius pada kedua tangan dan kakinya.
"Orang utan kecil tidak bisa bercerita tentang apa yang terjadi, tidak bisa meminta pertolongan. Namun luka bakar serius di kedua tangan dan kakinya seakan menjadi cerita tentang perjuangan yang baru saja dilalui," pernyataan lanjutan dari BKSDA Kalteng.
Puluhan orang utan terserang ISPA
Karhutla juga berdampak pada kesehatan orang utan lain yang berada di Pusat Rehabilitasi BOS Nyaru Menteng. Sebanyak 47 orang utan dilaporkan mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat memburuknya kualitas udara dalam beberapa waktu terakhir.
Koordinator Dokter Yayasan BOS Nyaru Menteng, drh Agus Fahroni, mengatakan kondisi puluhan orang utan tersebut sejauh ini masih tergolong ringan dan dapat ditangani oleh tim medis.
"Sekitar 47 orang utan memang teridentifikasi mengalami ISPA. Namun sejauh ini kondisinya masih relatif ringan dan dapat ditangani oleh tim medis kami," ujar Agus, Jumat (9/10).
Paparan asap karhutla menjadi ancaman bagi kesehatan pernapasan orang utan, terutama satwa yang masih menjalani proses rehabilitasi sebelum dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.
Untuk membantu pemulihan, tim medis memberikan obat herbal dan vitamin kepada orang utan yang mengalami ISPA. Kecukupan cairan juga menjadi perhatian agar kondisi kesehatan satwa tetap terjaga selama menghadapi paparan asap.
"Kebutuhan air minum harus benar-benar tercukupi karena sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan mereka ketika terpapar asap dalam jangka waktu tertentu," kata Agus.
Baca selengkapnya di sini.
(tim/isn)

