Wali Kota Ambon, Maluku, Bodewin Wattimena, menginstruksikan pembelajaran jarak jauh (PJJ) untuk sekolah dan bekerja dari rumah (Work from Home/WFH) bagi aparatur sipil negara buntut kabut asap imbas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah sekitar yang kian menebal.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Instruksi Wali Kota Ambon Nomor 500.4/01/INSTRUKSI/2026 tentang Langkah Antisipatif Dampak Kabut Asap Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan serta Perlindungan Kesehatan Masyarakat di Kota Ambon.
Walkot menetapkan kebijakan WFH bagi ASN dan PJJ bagi peserta didik selama empat hari, terhitung Selasa (13/10) hingga Jumat (16/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bodewin mengatakan kebijakan meliburkan siswa hingga ASN bekerja dari rumah untuk mencegah peningkatan kasus gangguan pernapasan atau infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
"Kondisi kualitas udara di Ambon tergolong kurang sehat sehingga langka antisipasi yang kita ambil adalah dengan meliburkan sekolah dan membatasi aktivitas berkantor sehingga bisa mengecilkan potensi ISPA akibat Karhutla," ujar Bodewindalam keterangan tertulis, Selasa ini.
Kegiatan belajar mengajar secara tatap muka pada satuan pendidikan PAUD, TK, SD/sederajat, dan SMP/sederajat di bawah kewenangan Pemerintah Kota Ambon dialihkan menjadi PJJ atau belajar dari rumah selama periode yang sama.
Bodewin meminta kepala satuan pendidikan memastikan proses pembelajaran tetap berjalan dengan baik serta mengimbau peserta didik untuk mengurangi aktivitas di luar rumah dan menghindari kegiatan fisik di ruang terbuka.
Ia juga meminta Dinas Kesehatan Kota Ambon bersama seluruh puskesmas meningkatkan pemantauan kasus ISPA dan gangguan kesehatan lainnya, memastikan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan serta ketersediaan obat-obatan, dan secara aktif memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya penggunaan masker.
Bodewin mengatakan instruksi tersebut ditetapkan pada 12 Oktober 2026 dan merupakan tindak lanjut atas Surat Edaran Gubernur Maluku Nomor 500.4/175 tentang Kewaspadaan terhadap Dampak Kabut Asap Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan serta Perlindungan Kesehatan Masyarakat.
Sementara itu, para camat, lurah, kepala desa, dan raja se-Kota Ambon diinstruksikan untuk memantau situasi di wilayah masing-masing dan menyebarluaskan informasi kepada masyarakat.
Salah satu sekolah yang sepi di Ambon, Maluku, karena kegiatan belajar mengajar dilakukan secara PJJ imbas asap karhutla kiriman dari Papua. (CNN Indonesia/Said Sotta) |
Walkot mengimbau warga menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia, serta tidak melakukan pembakaran sampah maupun pembakaran di lahan terbuka.
Sebagai informasi, kabut asap tebal di Ambon itu diduga kiriman karhutla dari Papua. Dalam beberapa hari terakhir,warga yang beraktivitas mulai mengenakan masker sebagai pelindung diri demi mencegah lonjakan gangguan pernapasan atauISPAakibat paparan asap.
Untuk membantu mengatasi dampak karhutla, Polsek Kawasan Pelabuhan (KPYS) Ambon turut membagi-bagi masker untuk buruh pelabuhan, pejalan kaki, dan masyarakat di kawasan Jalan Am Sangaji, Kota Ambon, Selasa pagi tadi.
Kapolsek KPYS, Iptu Giovani Toffy mengatakan pembagian ratusan masker bagi warga itu dilakukan di titik-titik keramaian seperti pelabuhan dan pangkalan ojek. Polisi meminta warga untuk memakai masker karena kondisi udara saat ini di Kota Ambon tak kunjung sehat.
"Kami imbau kaum buru, pejalan kaki dan masyarakat yang hendak beraktivitas untuk memakai pelindung mulut dan hidung demi menjaga diri dari paparan asap," ujarnya di sela-sela pembagian masker.
(sai/kid)
