Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, kian mengkhawatirkan.
Bupati Kotawaringin Barat Nurhidayah mendesak agar pemerintah pusat segera turun tangan membantu penanganan karhutla itu di antaranya terjadi di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) dan Jalan Pangkalan Bun menuju Kotawaringin Lama.
Menurutnya, kondisi di lapangan sudah membahayakan dan membutuhkan dukungan tambahan, baik dari sisi personel maupun sarana dan prasarana pemadaman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kondisi karhutla saat ini sudah tahap membahayakan. Mengganggu kesehatan masyarakat, pelayanan publik dan ekonomi. Bahkan penerbangan ke Bandara Iskandar beberapa hari terakhir sudah banyak yang di-cancel atau dibatalkan," ujar Nurhidayah, Senin (12/10) dikutip dari detikKalimantan.
Nurhidayah mengungkapkan, Pemkab Kobar telah menetapkan tiga wilayah sebagai prioritas penanganan karena menjadi penyumbang asap terbesar.
Tiga wilayah tersebut yakni ruas Jalan Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama, Desa Tanjung Putri, serta kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.
Ketiga lokasi itu menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena dampak kebakaran dan asapnya dinilai membutuhkan penanganan segera. Pemkab Kobar pun berharap pemerintah pusat memberikan dukungan langsung agar upaya pengendalian api bisa berjalan lebih maksimal.
"Kondisi ini jangan dianggap sepele. Kami harapkan pemerintah pusat turun langsung ke wilayah Kobar dan Provinsi Kalimantan Tengah, bantu kami dan segera turunkan bantuan," tegasnya.
Desakan tersebut disampaikan saat Nurhidayah meninjau lokasi karhutla di sepanjang jalan penghubung Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama.
Dalam peninjauan itu, ia didampingi Sekretaris Daerah, Kepala Pelaksana BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, hingga Dinas Kesehatan, dan Direktur RSUD Sultan Imanudin Pangkalan Bun.
Bupati mengakui, luasnya sebaran kebakaran membuat personel penanganan harus dibagi ke sejumlah titik. Di sisi lain, keterbatasan peralatan dan sarana pendukung menjadi tantangan tersendiri bagi tim di lapangan untuk memadamkan api secara optimal.
Nurhidayah mengajak seluruh pihak memperkuat sinergi dan meningkatkan kepedulian terhadap keselamatan masyarakat yang terdampak kabut asap. Menurutnya, upaya pemadaman harus dilakukan bersama agar kebakaran segera terkendali dan dampaknya tidak semakin meluas.
Sebelumnya, Tim relawan gabungan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan (YOHK) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kobar memutuskan menarik seluruh anggotanya dari kegiatan pemadaman di lapangan.
Kelompok relawan itu mendesak pemerintah pusat segera mengerahkan sumber daya, termasuk penggunaan metode water bombing, untuk membantu memadamkan api yang mengancam kawasan hutan dan habitat orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting.
Lihat Juga : |
Video pengunduran diri viral di media sosial. Keputusan penarikan personel itu, dikutip dari video yang diunggah Minggu (11/10), diambil setelah sejumlah pihak menyepakati penghentian sementara upaya pemadaman di lapangan.
Salah satu perwakilan YOHK-HPI Kobar, Moncos, mengatakan pihaknya memilih menarik diri sementara karena merasa upaya yang dilakukan selama ini belum diikuti dukungan yang memadai.
Relawan menilai penanganan yang telah dilakukan belum menunjukkan perubahan signifikan, sementara kemampuan mereka untuk memadamkan api secara langsung sudah mencapai batas.
(kid/tim/kid)
