Kesaksian Warga Sulsel 5 Bulan Menderita Disandera Perompak Somalia

CNN Indonesia
Minggu, 11 Okt 2026 14:10 WIB
Ilustrasi penganiayaan
Ilustrasi. iStockphoto/cyano66
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Isak tangis dan rasa syukur menyelimuti kediaman Ashari Samadikun di Dusun Moncongloe, Desa Paccellekang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis (8/10).

Kapten Kapal MT Hanour 25 itu berhasil selamat dan kembali ke pelukan keluarga setelah lima bulan disandera oleh kelompok perompak bersenjata di perairan Somalia.

Meski raganya telah tiba di tanah air, bayang-bayang trauma mendalam masih menggelayuti pikirannya. Ashari mengaku belum sanggup memutuskan apakah akan kembali melaut atau tidak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya bisa pending dulu (pertimbangkan berlayar). Masih memperbaiki (perasaan), karena sampai sekarang saya belum bisa (memutuskan). Saya masih terpikirkan keluarga kru saya, terbayang-bayang kru saya, karena saya lihat dengan mata kepala (ditembak)," tutur Ashari mengawali kesaksiannya.

Puncak keputusasaan di bulan ketiga

Drama penyanderaan yang dialami 17 awak kapal tersebut berlangsung sejak 21 April hingga akhirnya dibebaskan pada 29 September 2026. Ashari menuturkan, ketegangan fisik dan mental mencapai titik kritis pada bulan ketiga, saat seluruh akses komunikasi terputus total.

"Selama lima bulan, kami berada di atas kapal itu. Tertekan, terutama mental. Kami putus asa itu di bulan ketiga. Di bulan itu tidak ada lagi telepon, tidak ada lagi komunikasi sama sekali. Makanan sudah habis, alat generator sudah rusak semua, (peralatan) mati," ucapnya emosional.

Penderitaan para sandera makin mencekat saat mesin pengolah air tawar ikut hancur. Di tengah kepungan maut dan pasokan logistik yang habis, para ABK hanya bisa bergantung pada doa dan keajaiban.

"Tapi alhamdulillah, kami berdoa, kami cari jalan, Alhamdulillah ada jalan (mesin menyala)," ujarnya.

Dua anak buah kapal gugur

Hal yang paling menghancurkan hati Ashari sebagai pimpinan kapal adalah kenyataan bahwa tidak semua krunya bisa pulang dalam keadaan bernyawa. Dua orang anak buahnya gugur selama masa penyanderaan.

Ia mengenang momen-momen terakhir bersama sang koki kapal yang tewas ditembak di depan matanya sendiri, tanpa sempat memberi kabar sepatah kata pun kepada keluarga di kampung halaman.

"Itu yang saya sangat sedih. Semoga kita semua bisa pulang dengan selamat. Tapi Allah SWT berkehendak. Ada dua kru saya tidak bisa pulang, itu yang buat saya sampai sekarang masih terpukul," katanya.

Korban sandera perompak Somalia Kapten Kapal MT Hanour 25 Ashari Samadikun (kiri) bersama orang tuanya Syamsuddin Dg Awing (kanan) didampingi Siti Aminah (tengah) saat berada dikediamannya Dusun Moncongloe, Desa Paccellekang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis (8/10/2026).   ANTARA/Darwin Fatir.Korban sandera perompak Somalia Kapten Kapal MT Hanour 25 Ashari Samadikun (kiri) bersama kedua orang tuanya, Kamis (8/10).

Sebelum mengembuskan napas terakhir, sang koki sempat merintih memohon pertolongan kepadanya. "Kapten tolong saya, jangan pergi, jangan mati, tetap kuat," kenang Ashari menirukan rintihan pilu sang anak buah dalam bahasa Inggris.

Sebagai kapten, Ashari harus menyembunyikan rasa gentarnya demi menjaga asa 16 awak kapal lainnya agar tidak runtuh.

"Saya merasa mungkin sampai di sini hidup kami. Mungkin sampai di sini perjuangan kami. Cuma saya tidak berani bilang sama anggota. Saya yakinkan, Insyaallah kita pulang. Makanya di situ beratnya, ketika ada yang meninggal. Tapi karena kita saling menguatkan dan pasrah hanya kepada Allah," ucapnya lagi.

Adu argumen dan tawar-menawar tebusan $7 juta

Di balik bertahan hidupnya para awak kapal, terjadi negosiasi alot di atas geladak. Pihak perompak awalnya menuntut uang tebusan dalam jumlah fantastis, yakni 7 juta dolar AS (sekitar Rp110 miliar).

Mengetahui angka tersebut mustahil dipenuhi, Ashari nekat memasang badan dan beradu argumen secara langsung dengan pimpinan perompak.

"Saya sempat bertengkar, berargumen sama mereka, saya bilang itu mustahil. Saya jelaskan, kapal ini cuma muat segini minyaknya, harga minyak segini, harga kapal segini, itu tidak logis, tidak bakal ada yang bisa kau dibayar. Biar satu tahun, tiga tahun tidak bakalan dibayar," tegasnya menirukan adu mulut saat itu.

Berkat keberanian dan keahlian Ashari bernegosiasi sebagai penerjemah di atas kapal, tuntutan tebusan perompak bertahap melunak dari 4 juta dolar, 3 juta dolar, 2 juta dolar, hingga akhirnya berhasil ditekan menjadi 1,5 juta dolar AS.

"Alhamdulillah mereka mengerti, mereka paham. Sampai diturunkan habis 1,5 juta dolar. Tapi saya tidak tahu pihak negara mana penuhi atau tidak, karena ada dua orang dikirim. Pertama itu namanya Leslie dari Inggris bagian negosiasi masalah uang. Dan satu lainnya menyediakan medical assistance sama makanan," pungkasnya.

(antara/gil)
placeholder