Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda yang memisahkan Pulau Sumatra dan Pulau Jawa kembali erupsi dengan letusan terjadi sekitar 5 menit pada Kamis (8/10) kemarin.
Mengutip dari detikSumbagsel, saat erupsi berlangsung, tinggi kolom letusan tidak teramati. Di sisi lain, wisatawan masih dilarang mendekati Gunung Anak Krakatau imbas erupsi yang masih terjadi meski statusnya sudah turun dari Level III (Siaga) jadi Level II (Waspada) per 21 September lalu.
Kamis kemarin, berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi kemarin terjadi sekitar pukul 18.28 WIB. Aktivitas letusan terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum mencapai 46 milimeter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Durasi erupsi tercatat sementara sekitar 4 menit 45 detik. Dalam laporan awal PVMBG, aktivitas erupsi masih berlangsung saat informasi tersebut dibuat.
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau Lampung Selatan Suwarno mengatakan aktivitas tersebut menunjukkan masih adanya energi vulkanik yang keluar dari tubuh gunung.
"Benar, tadi memasuki petang GAK erupsi dengan durasi hampir 5 menit lamanya. Aktivitas ini sama seperti kemarin, jadi masih ada sisa energi pasca-erupsi besar di September kemarin," katanya.
Menurut dia, perkembangan aktivitas GAK masih terus dipantau, terutama melalui rekaman kegempaan dan pengamatan visual dari pos pemantauan.
"Kalau untuk abu vulkanik tidak teramati karena tertutup kabut. Sampai saat ini masih terus kami pantau," jelas Warno.
Suwarno mengingatkan masyarakat maupun wisatawan untuk tidak mendekati kawasan GAK selama aktivitas vulkanik masih berlangsung.
"Untuk status GAK saat ini masih berstatus Level II atau Waspada, belum ada peningkatan status. Kami meminta masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak mendekati gunung tersebut atau melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif," ungkapnya.
Sebelumnya, peneliti menduga Gunung Anak Krakatau yang masih erupsi setelah statusnya turun itu adalah bagian dari upaya pelepasan energi tersisa setelah erupsi besar maraton pada September lalu.
Dosen Teknologi Geologi Institut Teknologi Sumatera (ITERA) Happy Christin Natalia menyebut aktivitas GAK saat ini mulai mendekati fase stabil. Namun, masih terdapat energi erupsi yang tersisa di sekitar lubang kepundan.
"Kalau dilihat dari intensitasnya, tampak seperti aktivitas umum yang terjadi pada gunung api aktif pascaerupsi besar," kata Happy, Rabu (7/10) dikutip dari detikSumbagsel.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat terjadi karena masih ada sisa energi erupsi yang berada di dekat lubang kepundan. Terlebih, tidak ada hambatan pada bagian atas lubang tersebut.
"Hal ini bisa terjadi karena masih ada sisa energi erupsi yang tertinggal di dekat lubang kepundan yang tidak tertutup. Karena tidak adanya hambatan di atas, aktivitas seperti ini dapat terjadi di tubuh gunung api," jelasnya.
Happy menyebut erupsi kecil dengan intensitas yang berubah-ubah masih mungkin terjadi selama GAK belum sepenuhnya mencapai kondisi stabil. Salah satu indikator menuju kondisi stabil, kata dia, adalah aktivitas kegempaan vulkanik yang mulai menurun.
(tim/kid)