Karhutla di Barito Kuala Sempat Dekati Kampus, Hanguskan Rumah Warga

CNN Indonesia
Kamis, 08 Okt 2026 14:42 WIB
Kebakaran hutan melanda Barito Kuala, Kalimantan Selatan, mengganggu aktivitas di Universitas Islam Kalimantan.
Ilustrasi. Petugas melakukan penanggulangan karhutla. (ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terjadi di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan (Kalsel) pada Rabu (7/10) siang memakan korban bangunan warga dan mengancam tempat pendidikan.

Api karhutla di kawasan sekitar Jalan Berangas Timur, Barito Kuala, itu berkobar sampai malam hari dan mengepung hampir seluruh kawasan kampus Universitas Islam Kalimantan (Uniska).

Api yang membesar pada siang hari, mengganggu pembelajaran dalam kampus akibat tebalnya kepulan asap.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu mahasiswa Uniska, Ahmad, mengatakan api yang muncul sedari siang sangat besar disertai asap pekat menyelimuti area kampus hingga sore hari.

"Asapnya sangat pekat berwarna kuning. Ini terjadi baru hari ini, apinya juga sudah mengepung area kampus," cerita Ahmad, Rabu kemarin, dikutip dari detikKalimantan.

Ia menyebut asap yang tebal itu terjadi usai api mulai mereda. Meski demikian, tidak dipungkirinya masih ada bara api yang tersisa dan dikhawatirkan menimbulkan kebakaran baru lagi.

"Ini sangat mengganggu aktivitas mahasiswa juga, bahkan warga sekitar juga," tutur Ahmad.

Seorang relawan pemadam kebakaran, Suparlin Jijan, mengatakan kebakaran di Semangat Bakti bahkan telah membakar dua rumah warga.

"Di Semangat Bakti tadi sudah kena dua rumah warga," ungkapnya.

Kondisi terkini di Rabu malam, ratusan petugas melakukan pembasahan untuk area lahan terbakar yang terletak di depan wilayah kampus. Adapun ratusan petugas yang memadamkan terdiri dari beberapa PMK Swasta milik masyarakat.

Suparlin pun turut mengimbau masyarakat agar tidak menciptakan titik api dengan membakar sampah, maupun membuang putung rokok sembarangan. Sebab, titik api yang sudah muncul dapat mengalami kesulitan untuk dipadamkan.

"Semoga jadi perhatian masyarakat dan pemerintah agar hal serupa tidak terjadi," katanya.

Berdasarkan data yang diakses dari laman Sipongi yang dikelola Kementerin Kehutanan, dalam 24 jam terakhir hingga berita ini ditulis, terdapat 28 hotspot di Barito Kuala berdasarkan pengamatan satelit NASA NOAA20. Hotspot adalah indikator terjadinya karhutla.

Baca berita lengkapnya di sini.

(tim/kid)
placeholder