Kepala Basarnas Dorong Upaya Pengangkatan Badan KM Virgo

CNN Indonesia
Selasa, 29 Sep 2026 14:54 WIB
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mendorong proses salvage atau pengangkatan badan KM Virgo Transport 8 yang terbalik dan tenggelam di Perairan Masalembo, Laut Jawa, Kalimantan Selatan.
Kepala Basarnas Marsekal Madya Mohammad Syafii mendorong proses salvage atau pengangkatan badan KM Virgo Transport 8 yang terbalik dan tenggelam di Perairan Masalembo, Laut Jawa, Kalimantan Selatan. (CNN Indonesia/Tunggul)
Yogyakarta, CNN Indonesia --

Kepala Basarnas Marsekal Madya Mohammad Syafii mendorong proses salvage atau pengangkatan badan KM Virgo Transport 8 yang terbalik dan tenggelam di Perairan Masalembo, Laut Jawa, Kalimantan Selatan.

Syafii menilai langkah tersebut dinilai penting karena masih ada kemungkinan korban berada di dalam kapal yang terbalik.

Syafii menggarisbawahi kewajiban pengangkatan, pemindahan, atau penenggelaman kapal yang mengganggu alur laut berada dalam kewenangan Kementerian Perhubungan, khususnya Direktorat Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena kita tahu di dalam kapal masih ada korban, kita meminta bahwa amanah undang-undang itu bisa dilaksanakan secepat-cepatnya. Dengan harapan untuk bisa kita laksanakan evakuasi atau pencarian dan evakuasi seluruh korban yang berada dalam kapal," kata Syafii di Hotel Grand De Djokja, Kota Yogyakarta, DIY, Selasa (29/9).

Menurut Syafii, proses salvage saat ini tengah didorong agar segera dilakukan. Pemilik kapal telah melaporkan kondisi tersebut kepada perusahaan asuransi, sementara pihak asuransi juga telah melakukan observasi terhadap kapal.

"Entah itu nanti akan ditarik atau dibalik dulu baru yang pasti diapungkan dulu, apakah langsung ditarik atau dibalikan dan itu yang sedang kita dorong untuk bisa segera dilaksanakan," imbuhnya.

Syafii mengatakan kondisi KM Virgo menjadi salah satu faktor yang membuat proses salvage tidak sederhana. Kapal tersebut memiliki panjang hampir 120 meter, lebar 21 meter, dan tinggi sekitar 18 meter dalam posisi terbalik serta telah menyentuh dasar laut.

Pihaknya juga membuka kemungkinan nantinya melibatkan pihak atau negara lain yang memiliki kemampuan untuk melakukan proses pengapungan kapal.

"Tapi kalau misalkan semuanya sudah ter-setting dengan baik, proses itu sebenarnya tidak terlalu lama. Karena yang jelas proses awalnya adalah pengapungan dulu, diangkat, kemudian baru dipasang belt, jadi kapal itu dikelilingi belt baru ditaruh dari kedua belah sisi," ujarnya.

"Saat itu begitu sudah membalik baru proses pengapungan mungkin juga bisa dilaksanakan di situ atau mungkin penarikan dulu ke tempat yang aman," kata Syafii menambahkan.

Di sela rencana ini, Syafii memastikan Basarnas masih melanjutkan pencarian korban kapal KM Virgo. Operasi pencarian akan terus dilakukan selama masih memungkinkan untuk menemukan dan mengevakuasi korban.

Syafii mengatakan pencarian, termasuk melalui operasi bawah air atau searching underwater, tetap dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan keselamatan personel.

"Operasi SAR tidak akan pernah dihentikan selama masih memungkinkan untuk bisa menemukan korban dan mengevakuasi korban," kata Syafii.

Menurut Syafii, operasi hanya dapat dihentikan apabila seluruh korban telah ditemukan atau kondisi lapangan tidak lagi memungkinkan bagi tim untuk melakukan pengangkatan maupun evakuasi.

Syafii mencontohkan operasi pencarian KM Tunu Pratama Jaya di Selat Bali tahun lalu. Menurutnya, kondisi kedalaman laut, kecepatan arus, serta pertimbangan medis terhadap kondisi korban dapat menjadi faktor yang membuat operasi tidak lagi memungkinkan dilanjutkan.

"Kemudian dengan kecepatan arus, dengan waktu yang menurut medis sudah tidak memungkinkan lagi kita bisa mengangkat struktur tubuh yang dalam kondisi yang sudah tidak bisa dievakuasi, misalkan seperti itu. Sehingga di situlah memungkinkan bahwa operasi akan dihentikan," katanya.

Syafii mengatakan kecepatan arus di lokasi pencarian sempat mencapai lebih dari 6 knot, bahkan pernah menyentuh 7 knot. Padahal, pengoperasian peralatan seperti ROV secara normal dilakukan pada kecepatan arus sekitar 1,5 knot.

Mempertimbangkan kondisi tersebut, penyelam tidak dapat melakukan operasi bawah air sepanjang hari. Basarnas menyesuaikan pencarian dengan kondisi pasang surut agar operasi tetap dapat dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan personel.

"Peralatan yang kita miliki tidak direkomendasikan untuk masuk tentunya tidak akan kita lakukan, karena operasi hanya bisa dilaksanakan dengan jaminan bahwa seluruh personel yang melaksanakan operasi harus dalam kondisi aman," tegasnya.

Di sisi lain, lanjut Syafii, proses identifikasi korban juga terus dilakukan bersama tim Disaster Victim Identification (DVI) dan unsur medis.

Basarnas juga melakukan evaluasi operasi secara berkala. Syafii mengatakan evaluasi dilakukan setiap tujuh hari untuk menentukan langkah pencarian berikutnya berdasarkan informasi dan kondisi terbaru di lapangan.

(kum/fra)
placeholder