Polisi memastikan jenazah yang ditemukan di pesisir Pantai Kampung Nelayan 1, Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten bukan bagian dari rombongan jurnalis yang hilang di Selat Sunda.
Diketahui, jenazah berjenis kelamin laki-laki ditemukan oleh warga yang sedang mengambil jemuran ikan asin di sekitar lokasi pada Minggu (27/9).
"Korban ditemukan oleh warga yang saat itu hendak mengambil jemuran ikan asin. Setelah melihat jasad mengapung di pesisir pantai, warga kemudian memberitahukan kepada masyarakat sekitar dan bersama-sama melakukan evakuasi," kata Kabid Humas Polda Banten Kombes Maruli Ahiles Hutapea dalam keterangannya, Senin (28/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah dievakuasi dan diperiksa, jenazah itu diketahui berinisial JN (55) yang warga Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang.
Kemudian, berdasarkan keterangan dari pihak keluarga, korban sudah beberapa hari tidak pulang dan terakhir berpamitan kepada keluarga hendak pergi memancing.
"JN tidak memiliki keterkaitan dengan peristiwa hilang kontak Kapal Arupadhatu 1 di Perairan Selat Sunda. Korban merupakan warga Kecamatan Jiput yang sebelumnya berpamitan kepada keluarga untuk pergi memancing," tutur Maruli.
Lebih lanjut, Maruli menambahkan bahwa pihak keluarga menyatakan menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan menolak dilakukan proses autopsi.
"Pihak keluarga menerima kejadian ini sebagai musibah dan menolak dilakukan autopsi. Jenazah kemudian dibawa pihak keluarga ke rumah duka," ucap dia.
Sebelumnya, polisi berhasil mengidentifikasi satu kru KM Arupadatu 1 yang membawa rombongan jurnalis meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau Selat Sunda pada 7 September lalu.
Sejak hilang kontak, operasi pencarian dilakukan selama 10 hari, namun tidak membuahkan titik terang. Kini, setelah lebih dari dua pekan berlalu, satu kru kapal itu teridentifikasi berawal dari penemuan mayat di Pulau Enggano, Bengkulu.
Kapolda Banten Irjen Hengki menjelaskan proses identifikasi berawal dari penemuan mayat di perairan Sawang Bengkok, Desa Khayapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu pada 12 September atau lima hari setelah kapal rombongan jurnalis hilang kontak.
Hengki menyebut pihaknya lalu melakukan pencocokan DNA dari data 8 keluarga korban kapal hilang itu dengan jenazah tersebut oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI).
Dari hasil tes DNA, diketahui jenazah tersebut adalah Surakman yang merupakan ABK kapal.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA operasi DVI Pusdokkes Polri terhadap seorang mayat Mister X yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, bahwa secara genetik PM/62/P.Enggano/01 itu kode jenazah Mister X tadi teridentifikasi sebagai Surakhman atau ABK kapal, ayah biologis dari Tuan Yayat," kata Hengki, Rabu (23/9).

