Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), tepatnya area Blok Gentong, Resor Srumbung, Desa Ngablak, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, meluas hingga 60 hektare.
Namun, api yang muncul sejak Selasa (22/9) lalu itu untuk saat ini sudah bisa dipadamkan.
"Ya, kalau keseluruhan dari kemarin (60 hektare). Tapi kalau sekarang ini kayaknya sudah padam," kata Kepala Balai TNGM Tutut Heri Wibowo saat dihubungi, Kamis (24/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Heri, si jago merah mulai bisa dijinakkan pada Kamis sore tadi sekitar pukul 17.00 WIB.
Kolaborasi BPBD, Damkar Kabupaten Magelang, Polres Magelang, Polsek Srumbung, Koramil Srumbung, TNGM, Masyarakat Peduli Api (MPA), dan warga sekitar berhasil memadamkan api yang per siang tadi sudah menjalar sampai 5 kilometer dari puncak Merapi.
Petugas menggunakan dua tangki air berkapasitas sekitar 5.000 liter dari BPBD. Sejumlah warga juga mengerahkan tiga hingga empat truk yang dimodifikasi menggunakan terpal untuk membawa air.
Namun, mengingat karakteristik pohon atau kayu pinus terbakar yang meninggalkan bara api membara dalam waktu lama dan sulit padam, maka untuk sementara ini petugas masih tetap berjaga di sekitar lokasi.
Selain itu, kata Heri, petugas berjaga guna mengantisipasi terjadinya lagi kebakaran yang dipicu ulah manusia. Dugaan sementara, ada unsur kesengajaan di balik peristiwa ini.
"Karena kan aksesnya (titik kebakaran) kan agak bebas ya. Jadi misalkan orang naik motor terus kemudian lemparkan api terus kemudian tinggal pergi, hanya kita kan nggak tahu itu," imbuh Heri.
"Dan kebetulan memang kebakaran yang terjadi itu rata-rata di pinggir-pinggir jalan setapak begitulah," sambungnya.
Pihaknya pun mengaitkan dugaan adanya unsur kesengajaan ini dengan motif pembukaan area penambangan pasir secara ilegal.
"Di sini kan areal banyak pertambangan ilegal toh. Nah, biasanya kan kayak dibakar, terus kemudian pohon ada yang tumbang, terus kemudian selanjutnya kan harapannya kan bisa memanfaatkan itu, pasir itu," jelasnya.
Sepanjang musim kemarau tahun ini, Balai TNGM mencatat setidaknya ada empat kejadian kebakaran di kawasan lereng Gunung Merapi. Akan tetapi, peristiwa terakhir ini yang paling parah mempertimbangkan luasan lahan terdampak.
Sebelum kejadian pekan ini, kebakaran lahan paling luas cuma sampai 12 hektare saja karena cepat terdeteksi dan lekas ditangani.
"Nah sekarang yang paling besar itu ini (kejadian pekan ini), sampai kita berhari-hari. Kalau biasanya satu hari udah padam semua. Nggak sampai satu hari bahkan," pungkasnya.
Sebelumnya, lereng Merapi di Blok Gentong, Resor Srumbung, Desa Ngablak, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dilanda kebakaran sejak Selasa sore lalu.
Api mulanya bisa dipadamkan pada Selasa malam setelah melahap sekitar 18 hektare tanaman pinus dan perdu. Akan tetapi, api kemudian muncul kembali pada Rabu pagi kemarin.
(kum/kid)