Wagub Taj Yasin Dukung Optimalisasi Potensi Wisata Religi di Jateng

Pemprov Jateng | CNN Indonesia
Kamis, 17 Sep 2026 15:05 WIB
Pemprov Jateng
(Foto: dok Pemprov Jateng)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) mendukung penuh pemanfaatan Candi Prambanan, Borobudur, Mendut, dan Pawon sebagai ruang ibadah umat Hindu dan Buddha.

Dukungan diberikan lewat penandatanganan nota kesepakatan antara pemerintah pusat, Pemprov Jawa Tengah, dan Pemprov Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Auditorium HM Rasjidi, Kementerian Agama RI, Jakarta pada Kamis (17/9).

Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) yang hadir mewakili Gubernur Ahmad Luthfi menyatakan menyambut baik kesepakatan tersebut. Menurutnya, penguatan fungsi keagamaan pada empat candi itu tidak hanya penting bagi umat, tetapi juga dapat memperkuat daya tarik wisata religi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gus Yasin menilai, penguatan fungsi keagamaan candi dapat membentuk pola kunjungan yang berbeda. Selain sebagai destinasi wisata yang dikunjungi untuk melihat peninggalan sejarah, kehadiran candi juga menjadi tujuan aktivitas keagamaan, serupa seperti yang terjadi di Makkah dan Vatikan.

Ia optimistis bahwa kedatangan wisatawan maupun umat yang hendak beribadah akan dapat menghidupkan sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat, mulai dari perhotelan hingga UMKM di sekitar kawasan candi.

Terlebih, aktivitas keagamaan dapat menjadi magnet yang mendorong umat untuk datang kembali dan menghabiskan waktu lebih lama di kawasan.

"Perekonomian bukan hanya perhotelan, akan tetapi juga perekonomian yang ada di UMKM karena ibadah itu sebuah magnet tersendiri," kata Gus Yasin.

Penguatan fungsi keagamaan candi pun sejalan dengan visi Jateng dalam mengembangkan pariwisata berkelanjutan. Gus Yasin mengingatkan, salah satu indikator keberhasilan pariwisata adalah keinginan wisatawan untuk kembali dan tinggal lebih lama.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, candi bukan sekadar bangunan peninggalan masa lalu. Di dalamnya terdapat nilai spiritual, sejarah, kebudayaan, dan pesan peradaban yang perlu terus dijaga.

"Candi tentu bukan sekedar bangunan peninggalan masa lalu. Di dalamnya tersimpan nilai-nilai spiritual, sejarah, kebudayaan, sekaligus juga pesan peradaban," kata Nasaruddin.

Ia menjelaskan, pemanfaatan candi untuk kepentingan keagamaan tersebut merupakan kelanjutan dari kerja sama yang telah dimulai sejak 2022.

Dalam kerja sama ini, Candi Prambanan mendapatkan ruang sebagai tempat peribadatan umat Hindu, sementara Candi Borobudur, Mendut, dan Pawon terus dikembangkan sebagai ruang ibadah umat Buddha.

Partisipasi umat dalam kegiatan keagamaan di kawasan candi juga menunjukkan perkembangan. Pada 2024, Upacara Tawur Agung Kesanga di Candi Prambanan diikuti sekitar 10.000 orang. Sementara di Candi Borobudur, Mendut, dan Pawon, tercatat 24.894 peserta dalam berbagai kegiatan keagamaan Buddha pada tahun yang sama.

Jumlah tersebut meningkat pada 2025. Kegiatan keagamaan Buddha di berbagai candi melibatkan 33.556 peserta, termasuk umat dari luar negeri.

Nasaruddin berharap, empat candi tersebut ke depan tidak hanya menjadi destinasi kunjungan, tetapi berkembang sebagai pusat spiritualitas dunia yang tetap memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia menekankan, penguatan pemanfaatan candi sebagai ruang keagamaan harus berjalan beriringan dengan pelestarian kawasan, ketertiban, dan keberlanjutan.

"Ke depan, kita ingin Candi Prambanan, Borobudur, Mendut, dan Pawon tidak hanya menjadi destinasi yang dikunjungi, tetapi menjadi pusat spiritualitas dunia," ujar Menag.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno menambahkan, kesepakatan lintas kementerian dan pemerintah daerah menjadi bagian dari upaya menjaga keberagaman, dengan memastikan pemanfaatan candi tetap memperhatikan kepentingan umat, warisan budaya, pariwisata, dan ekonomi masyarakat.

"Jadi inilah kehadiran keberadaan candi ini merupakan sebuah bukti dari bukan hanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di zamannya, tetapi juga sebagai sebuah bukti dari toleransi dan keragaman kita yang harus kita terus jaga," pungkas Pratikno.

(rea/rir)
placeholder